Indonesiasenang-, Industri pariwisata Indonesia memasuki babak baru pertumbuhan dengan peluang yang semakin terbuka, tidak hanya di destinasi unggulan seperti Bali dan Jakarta, tetapi juga berbagai daerah yang mulai berkembang sebagai tujuan wisata potensial. Melihat momentum tersebut, IHG Hotels & Resorts (IHG) memperkuat komitmennya untuk tumbuh bersama Indonesia melalui ekspansi jaringan hotel, pengembangan pengalaman wisata berkualitas, serta pemberdayaan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya IHG mendefinisikan Next Chapter of Tourism Growth atau babak baru pertumbuhan pariwisata Indonesia. Tidak sekadar memperluas bisnis perhotelan, perusahaan global ini juga mendorong penguatan ekosistem pariwisata melalui lokalisasi rantai pasok (local supply chain), penyerapan tenaga kerja nasional, kemitraan dengan UMKM, petani, nelayan, hingga perajin lokal.

Komitmen tersebut disampaikan dalam acara IHG Hotels & Resorts Media Gathering bertajuk Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth di InterContinental Jakarta Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (4/11/2026).

Diungkapkan oleh Vivek Bhalla selaku Managing Director Southeast Asia & Korea IHG, bahwa  Indonesia memiliki prospek pertumbuhan pariwisata yang sangat menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kelas menengah, serta kebutuhan masyarakat untuk melakukan perjalanan menjadi sejumlah faktor yang memperkuat peluang industri perjalanan dan perhotelan dalam jangka panjang.

Menurut Vivek Bhalla, pertumbuhan pariwisata global kini semakin bergerak ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara. Indonesia memiliki posisi strategis berkat kekuatan pasar domestik, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, serta kekayaan alam dan budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.

Data Januari hingga Agustus 2026 menunjukkan Indonesia mencatat 10,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 5,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842 juta perjalanan atau tumbuh 4,2 persen.

"Perjalanan domestik merupakan penggerak utama industri pariwisata Indonesia, sementara permintaan dari wisatawan mancanegara juga terus meningkat. Dengan semakin mudahnya akses ke berbagai destinasi, terdapat peluang besar untuk mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak wilayah Indonesia dan memperluas manfaat pariwisata ke berbagai daerah”, kata Vivek Bhalla.

Salah satu perubahan penting yang diamati IHG adalah pergeseran orientasi pariwisata dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju perjalanan berkualitas. Wisatawan kini semakin mempertimbangkan pengalaman autentik, kekayaan budaya, kuliner, alam, serta fasilitas penginapan yang mampu memberikan nilai lebih selama perjalanan.

Perubahan tersebut turut tercermin dalam kinerja industri perhotelan nasional. Rata-rata tarif harian hotel atau Average Daily Rate (ADR) mencapai US$78, meningkat 12,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pendapatan per kamar tersedia atau Revenue per Available Room (RevPAR) mencapai US$47, tumbuh 9,8 persen, dengan tingkat okupansi sekitar 60 persen.

Bagi IHG, perkembangan ini menjadi momentum untuk menghadirkan pengalaman menginap yang tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan karakter destinasi.

Vivek Bhalla menilai wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih personal, mulai dari wisata kebugaran (wellness), kuliner, eksplorasi budaya, hingga perjalanan yang memberikan kesempatan untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat.

Tren tersebut juga mendorong perkembangan destinasi di luar kawasan wisata konvensional. Labuan Bajo, Lombok, Yogyakarta, Medan, Manado, Puncak, Bogor, Lampung, dan Belitung menjadi sejumlah wilayah yang memiliki peluang untuk berkembang seiring meningkatnya konektivitas dan infrastruktur pariwisata.

Menurut Vivek Bhalla, Indonesia memiliki kesempatan untuk bertransformasi dari pola pariwisata yang terlalu bertumpu pada Bali menuju ekosistem pariwisata mult destinasi. Dengan demikian, potensi wisata dan manfaat ekonomi dapat tersebar lebih luas ke berbagai wilayah Nusantara.

Untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan tersebut, IHG terus memperkuat jaringan perhotelannya di Indonesia. Saat ini, IHG mengoperasikan 35 hotel dengan total 7.096 kamar yang tersebar di 11 destinasi. Selain itu, terdapat 13 hotel tambahan dengan kapasitas 2.494 kamar dalam pipeline pengembangan. Ekspansi berikutnya direncanakan menyasar Medan, Yogyakarta, Puncak, dan Lombok.

Jaringan IHG saat ini mencakup Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Semarang, Batam, Bintan, Lampung, Labuan Bajo, Cikarang, dan Kalimantan Selatan.

Strategi pengembangan dilakukan melalui pendekatan klaster destinasi dengan menghadirkan sejumlah merek hotel yang saling melengkapi. Pendekatan ini memungkinkan IHG membangun skala operasional, memperkuat hubungan jangka panjang dengan pemilik hotel, serta mengembangkan jaringan layanan yang sesuai dengan karakter setiap pasar.

Jakarta tetap menjadi gerbang bisnis penting dengan delapan hotel yang melayani kebutuhan korporasi, pemerintahan, dan wisatawan internasional. Bali memiliki 13 hotel yang telah beroperasi, sedangkan Bandung menjadi salah satu pasar penting dengan enam hotel dari enam merek berbeda.

IHG juga mengembangkan portofolio merek di berbagai segmen, mulai dari luxury, premium, hingga mainstream, sehingga dapat menjangkau wisatawan dengan kebutuhan dan karakter perjalanan yang beragam.

Menariknya, sekitar 75 persen hotel dalam pipeline pengembangan IHG berada di segmen Luxury & Lifestyle. Strategi tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap pengalaman menginap yang lebih eksklusif, personal, dan memiliki karakter destinasi.

Saat ini, sekitar 33 persen portofolio IHG di Indonesia berada di segmen Luxury & Lifestyle, sementara sisanya berada di segmen mainstream. Penambahan hotel-hotel baru diharapkan menciptakan keseimbangan portofolio sekaligus menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas.

Salah satu pembukaan yang dinantikan adalah Kimpton Suntaya Bali Ubud, yang dijadwalkan hadir pada akhir 2026 dengan konsep wellness yang berfokus pada pemulihan, keseimbangan tubuh, dan aktivitas kebugaran.

Sementara itu, Hotel Indigo terus memperkuat pendekatan neighbourhood storytelling dengan mengangkat cerita, budaya, dan karakter komunitas di sekitar hotel. Saat ini terdapat tiga hotel Hotel Indigo yang beroperasi di Bandung, Bintan, dan Bali, serta enam hotel dalam pipeline pengembangan.

Di balik strategi ekspansi hotel, IHG menempatkan pemberdayaan masyarakat dan penguatan rantai pasok lokal sebagai bagian penting dari pertumbuhan bisnisnya.

Ditegaskan oleh Vivek Bhalla, keberadaan hotel harus memberikan kontribusi nyata kepada komunitas tempat hotel beroperasi. Hubungan dengan masyarakat tidak cukup hanya melalui aktivitas sosial, tetapi juga perlu diwujudkan melalui penciptaan lapangan pekerjaan, pengembangan keterampilan, serta keterlibatan pelaku usaha lokal dalam kegiatan operasional hotel.

Saat ini, IHG mempekerjakan hampir 3.700 orang di Indonesia, dengan lebih dari 95 persen di antaranya merupakan tenaga kerja lokal. Sepanjang 2026, perusahaan juga telah menciptakan sekitar 200 lapangan pekerjaan baru.

IHG turut menjalin kerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan untuk mengembangkan talenta profesional perhotelan Indonesia. Para karyawan mendapatkan akses pelatihan berstandar internasional dan kesempatan mengembangkan karier hingga jenjang manajerial.

Sementara itu Anil Pathak selaku Director of Operations Indonesia IHG, menjelaskan bahwa kekuatan operasional lokal menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan. IHG menggabungkan pemahaman terhadap karakter pasar Indonesia dengan sistem, standar, dan kapabilitas jaringan perhotelan global.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip berpikir global dan bertindak lokal. Dengan tim yang memahami kebutuhan setiap destinasi, IHG dapat membangun hubungan lebih dekat dengan pemilik hotel, karyawan, dan komunitas di sekitar properti.

Lokalisasi rantai pasok juga diwujudkan melalui kemitraan dengan petani, nelayan, pengrajin, serta berbagai pelaku usaha lokal. Kolaborasi ini tidak hanya mendukung kebutuhan operasional hotel, tetapi juga membuka pasar bagi produk daerah dan memperkuat mata pencaharian masyarakat.

Salah satu contohnya adalah Regent Bali Canggu yang mengembangkan konsep nature-to-table melalui SAZÓN dengan memanfaatkan bumbu dan produk lokal dari petani sekitar. Pendekatan tersebut mendorong penggunaan bahan baku yang bertanggung jawab sekaligus membantu mengurangi limbah.

Sementara Holiday Inn Cikarang Jababeka memperkenalkan teh artisan kepada para tamu, yang dibudidayakan oleh petani di Ciwidey dan Purworejo. Inisiatif tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan produk lokal melalui pengalaman menginap.

Di bidang sosial, IHG juga bekerja sama dengan lebih dari 40 mitra komunitas di Indonesia. Salah satunya Saab Shares, organisasi nirlaba yang memberdayakan para ibu dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Pada 2025, berbagai inisiatif keterlibatan komunitas IHG di Indonesia tercatat memberikan dampak positif bagi sekitar 14.000 orang.

Dalam babak baru pariwisata Indonesia, peran hotel juga mengalami perkembangan. Hotel tidak lagi sekadar menjadi tempat beristirahat setelah wisatawan mengunjungi destinasi, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang memperkenalkan budaya, kuliner, alam, dan kehidupan masyarakat setempat. Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai penting yang ditawarkan IHG melalui beragam mereknya.

Wisatawan yang menginap di hotel dapat mengenal produk lokal, menikmati sajian berbahan baku daerah, mempelajari karakter budaya setempat, hingga memperoleh pengalaman kebugaran yang terhubung dengan lingkungan destinasi.

Dengan demikian, keberadaan hotel berpotensi menciptakan hubungan ekonomi yang lebih luas. Manfaatnya tidak hanya dirasakan pemilik dan pengelola hotel, tetapi juga pemasok bahan pangan, pengrajin, pekerja kreatif, pelaku UMKM, serta masyarakat di sekitar destinasi.

Di sisi lain, IHG juga terus mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan. Salah satunya melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses pemesanan, program loyalitas, pengelolaan pendapatan hotel, dan efisiensi operasional.

IHG telah memperkenalkan fitur pencarian percakapan pada situs web dan aplikasinya serta pengalaman IHG di ChatGPT untuk membantu wisatawan menemukan hotel berdasarkan preferensi perjalanan, termasuk informasi harga dan ketersediaan secara real-time.

Meski demikian, Vivek Bhalla menegaskan teknologi tetap harus mendukung interaksi manusia, bukan menggantikannya.

Ambisi IHG adalah menjadi perusahaan yang didukung AI, tetapi tetap disempurnakan oleh manusia. Teknologi diharapkan dapat mengurangi pekerjaan administratif sehingga staf hotel memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan pelayanan dan membangun hubungan dengan tamu.

Vivek Bhalla melihat masa depan pariwisata Indonesia memiliki peluang besar seiring berkembangnya destinasi baru, meningkatnya konektivitas transportasi, dan semakin beragamnya kebutuhan wisatawan.

Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur, konektivitas udara, pengembangan destinasi, serta promosi pariwisata yang mampu mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak wilayah Indonesia.

Bagi IHG, pertumbuhan bisnis perhotelan harus berjalan seiring dengan perkembangan destinasi dan kesejahteraan masyarakat setempat. "Kami tidak hanya membuka hotel di Indonesia. Bersama para pemilik hotel dan mitra, kami turut membangun infrastruktur perhotelan untuk mendukung babak berikutnya dari pertumbuhan pariwisata Indonesia. Masih banyak peluang yang menanti, dan kami antusias menjadi bagian dari perjalanan ini”, ujar Vivek Bhalla.

Melalui ekspansi jaringan, pengembangan merek, lokalisasi rantai pasok, dan pemberdayaan masyarakat, IHG ingin mengambil bagian dalam membangun ekosistem pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Babak baru pariwisata Indonesia pun bukan semata-mata tentang bertambahnya jumlah hotel dan wisatawan, melainkan bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai ekonomi, membuka peluang usaha, mengangkat potensi destinasi, serta menghadirkan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat di berbagai daerah. (dewa; foto tcs)