Indonesiasenang-, GAZOO Racing (GR) Toyota mulai memperkenalkan babak baru teknologi otomotif dalam kompetisi motorsport dunia melalui pengembangan kendaraan berbasis Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) atau mobil listrik sel bahan bakar hidrogen. Teknologi tersebut akan diuji dalam ajang Reli Dakar 2027 melalui kendaraan DKR GR FC Hilux.

Program ini menjadi langkah penting bagi Toyota karena menandai partisipasi penuh pertama mereka dalam kompetisi motorsport menggunakan teknologi FCEV. Tidak sekadar mengejar prestasi di lintasan reli ekstrem, Toyota juga ingin membuktikan kemampuan teknologi energi alternatif untuk menghadapi tantangan motorsport dengan tingkat kesulitan tinggi.

Menariknya, DKR GR FC Hilux akan dikemudikan oleh pereli wanita asal Arab Saudi, Dania Akeel. Reli Dakar 2027 akan menjadi kompetisi pertama bagi kendaraan tersebut sekaligus panggung pembuktian teknologi sel bahan bakar hidrogen Toyota di dunia motorsport internasional.

Pengembangan DKR GR FC Hilux memperlihatkan bagaimana inovasi teknologi otomotif mulai bergerak melampaui penggunaan mesin pembakaran internal dan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV). Hidrogen menjadi salah satu alternatif energi yang dikembangkan untuk menghadirkan kendaraan berperforma tinggi dengan emisi nol saat digunakan.

Toyota mengembangkan teknologi FCEV dengan memanfaatkan hidrogen (H2) dan oksigen (O2) dari udara bebas melalui serangkaian reaksi kimia untuk menghasilkan energi listrik. Energi tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan motor listrik sekaligus mengisi baterai kendaraan.

Teknologi ini menggunakan Toyota Fuel Cell System (TFCS), yang terdiri dari Fuel Cell Stack, FC Boost Converter, serta tangki penyimpanan hidrogen bertekanan tinggi.

Berbeda dengan kendaraan listrik berbasis baterai yang menyimpan energi listrik dari sumber eksternal, FCEV mampu menghasilkan listrik sendiri melalui proses reaksi kimia di dalam sistem sel bahan bakar.

Toyota mengklaim teknologi TFCS lebih hemat energi dibandingkan mesin pembakaran internal serta tidak menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) maupun polusi udara lainnya selama pengoperasian kendaraan. Sisa proses penggunaan hidrogen dan oksigen dalam sistem tersebut berupa air (H2O), sehingga teknologi ini menawarkan pendekatan mobilitas dengan emisi nol dari kendaraan.

Dalam pengoperasiannya, FCEV Toyota mengombinasikan tenaga dari fuel cell dan baterai untuk menghasilkan performa motor listrik.

Ketika kendaraan mulai berjalan atau melaju dalam kecepatan rendah, tenaga listrik dari baterai digunakan untuk memutar motor listrik. Selanjutnya, saat kendaraan berada dalam kondisi berkendara normal, fuel cell mengambil alih suplai energi untuk menggerakkan motor listrik sekaligus mengisi baterai ketika kapasitasnya membutuhkan tambahan energi. Ketika pengemudi membutuhkan akselerasi lebih kuat, baterai dan fuel cell bekerja bersama untuk menyediakan tenaga tambahan.

Sistem tersebut juga dilengkapi teknologi regenerative braking yang mengubah energi kinetik saat kendaraan mengurangi kecepatan maupun melakukan pengereman menjadi energi listrik. Energi yang dihasilkan kemudian disimpan kembali ke dalam baterai untuk digunakan.

Prinsip kerja ini memiliki kemiripan dengan teknologi Hybrid EV Toyota. Perbedaannya terletak pada sumber energi utama. Jika kendaraan hybrid menggunakan mesin bensin sebagai pembangkit tenaga, FCEV menggantinya dengan sistem sel bahan bakar hidrogen.

Penerapan teknologi tersebut pada DKR GR FC Hilux menjadi tantangan tersendiri. Kendaraan harus mampu menghadapi medan ekstrem, perubahan kondisi lintasan, serta kebutuhan performa dan daya tahan selama Reli Dakar. Pengembangan DKR GR FC Hilux tidak terlepas dari potensi hidrogen sebagai sumber energi alternatif untuk industri otomotif.

Hidrogen dapat diperoleh dari berbagai sumber daya alam, termasuk air, yang bisa diproses menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Dengan demikian, hidrogen berpotensi menjadi bagian dari diversifikasi energi sekaligus mendukung pengembangan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan.

Selain itu, hidrogen memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan baterai dan relatif mudah disimpan serta didistribusikan. Keunggulan tersebut membuat teknologi FCEV memiliki peluang untuk dikembangkan pada kendaraan yang membutuhkan daya jelajah dan pengisian energi cepat.

Sebagai gambaran, Toyota Mirai dan Crown dengan teknologi FCEV generasi kedua memiliki jarak tempuh hingga 820 kilometer ketika tangki hidrogen terisi penuh.

Pengisian hidrogen juga menawarkan waktu yang relatif singkat. Dengan menggunakan Hydrogen Refueling Station (HRS) bertekanan 700 bar, pengisian tangki hingga penuh dapat dilakukan sekitar tiga menit. Keunggulan tersebut menjadi salah satu alasan teknologi hidrogen dinilai menjanjikan untuk melengkapi pilihan teknologi elektrifikasi kendaraan di masa depan.

Melalui DKR GR FC Hilux, Toyota GAZOO Racing membawa pengembangan teknologi hidrogen ke lingkungan kompetisi yang sesungguhnya. Reli Dakar dipilih sebagai arena untuk menguji kemampuan teknologi FCEV dalam menghadapi salah satu kompetisi motorsport paling menantang di dunia.

Kehadiran Dania Akeel sebagai pengemudi juga menjadi bagian menarik dari program tersebut. Pereli wanita asal Arab Saudi itu akan membawa kendaraan berbasis hidrogen Toyota untuk menjalani debut kompetitifnya di Reli Dakar 2027.

Langkah Toyota ini memperlihatkan bahwa kompetisi motorsport tidak hanya menjadi ajang adu kecepatan, keterampilan pengemudi, dan ketangguhan kendaraan. Motorsport juga dapat menjadi laboratorium pengembangan teknologi yang nantinya berpotensi diterapkan pada kendaraan produksi massal.

Dengan membawa DKR GR FC Hilux ke Reli Dakar 2027, Toyota GAZOO Racing ingin mengeksplorasi kemampuan teknologi fuel cell hidrogen sekaligus membuka peluang baru bagi pemanfaatan energi terbarukan dalam industri otomotif.

Perjalanan menuju elektrifikasi kendaraan pun semakin beragam. Selain kendaraan listrik berbasis baterai, teknologi hidrogen berpotensi menjadi salah satu solusi untuk membangun masa depan mobilitas yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. (yanuar; hgr)