Indonesiasenang-, Bagaimana rasanya menjadi orang yang harus menikmati kejamnya penjara disebuah pulau, tanpa kesalahan yang pernah dilakukan ?. Dipaksa mengakui kejahatan yang tak terpikirkan seumur hidup, hingga tak ada kesempatan untuk bertemu keluarga yang amat disayangi, adalah mimpi buruk yang harus dilalui seorang pria bernama Mohamedou Ould Slahi. Film The Mauritanian diangkat dari memoir tulisan Mohamedou Ould Slahi yang berjudul Guantanamo Diary yang terbit pada tahun 2015 silam.

Kisah ini bermula pada bulan November 2001, dua bulan pasca-serangan 9/11, saat Mohamedou Ould Salahi (Tahar Rahim) tiba-tiba dijemput Polisi Mauritanian di rumahnya. Ia ditahan di penjara Yordania selama lima bulan dan akhirnya dibawa ke penjara angkatan Militer AS Guantanamo Bay, Kuba.

Di tempat itu, Mohamedou Ould Salahi diinterogasi 18 jam setiap harinya selama tiga tahun. Mohamedou Ould Salahi ditahan atas tuduhan menjadi sponsor tersangka teroris serangan tragedi 9/11.Tiga tahun kemudian di bulan Februari 2005, Nancy Hollander (Jodie Foster) dan Teri Duncan (Shailene Woodley) dari Firma Freedman, Boyd and Hollander menjadi pengacara pembela untuk Mohamedou Ould Salahi. Sedangkan dari pihak pemerintah menunjuk Stuart Couch (Benedict Cumberbatch) sebagai jaksa penuntut.

Mohamedou menulis banyak surat kepada Nancy yang isinya adalah ceritanya selama dia di dalam tahanan sebagai kesaksiannya di persidangan nanti. Ia menceritakan bagaimana penyiksaan yang dialaminya baik secara fisik maupun psikis, hingga pelecehan seksual agar Mohamedou mengakui keterlibatannya dengan terorrist.

Lalu bagaimana pada akhirnya kebenaran dapat terungkap ?. Akankah pernyataan dari Mohamedou dapat diterima dan ia bebas ?.

Yang jelas, film ini akan terasa membosankan karena tidak memberikan ketegangan yang berarti selama film berlangsung. Berdurasi lebih dari dua jam, penonton tidak akan menyaksikan banyak adegan action seperti film-film berlatar belakang penjara pada umumnya. Kita justu akan melihat bagaimana Mohamedou bersabar dalam setiap interogasi yang dilakukan sehingga membuat penonton sedikit mengantuk. Namun untuk penyuka film sejarah, yang lebih mengutamakan cerita, film ini cocok untuk ditonton karena alurnya yang tidak dipaksakan.

Diambil dari berbagai sudut pandang, film ini menjelaskan bagaimana sisi dari Mohamedou dan penuntut yang merasa sama-sama harus memperjuangkan kebenaran. Meski dengan cara yang tak manusiawi dilakukan oleh pihak penginterogasi, kita belajar bagaimana Mohamedou tetap teguh dengan pendiriannya. Sehingga memutuskan untuk memaafkan para pelaku penganiayaan di penjara. Sepertinya sang sutradara, Kevin Macdonald ingin mengikuti alur cerita yang sama dengan buku aslinya.

Setelah selama dua jam lebih disajikan alur cerita yang agak flat, kita juga harus menerima durasi harus tetap diperhatikan. Itu membuat sutradara seperti memilih film untuk berhenti disaat Mohamedou diputuskan tak bersalah, padahal sebenarnya masih ada perjalanan panjang sebelum akhirnya ia benar-benar bebas dari penjara pasca putusan hakim yang pertama. Ini membuat penonton agak sedikit terkejut karena scene nampak berhenti mendadak, dilanjutkan dengan tulisan yang menerangkankan kelanjutan kasusnya beserta video nyata dari the real Mohamedou saat menulis buku.

Dengan jalan cerita diatas, layak rasanya film ini diberi score 7/10. Well, selamat menonton !. (kintan; foto praba)