Indonesiasenang-, Setelah lama dinantikan para penggemarnya, Slank akhirnya kembali menghadirkan karya yang sarat kritik sosial melalui album terbaru bertajuk Republik Fufufafa. Album yang resmi dirilis pada 05 Juni 2026 itu menjadi penanda kembalinya karakter khas Slank sebagai band yang berani menyuarakan keresahan masyarakat lewat musik.
Sejak beberapa bulan terakhir, sinyal kembalinya semangat kritis tersebut sebenarnya sudah terlihat melalui perilisan single "Republik Fufufafa". Lagu itu mendapat perhatian luas karena mengingatkan publik pada era Slank yang dikenal lantang mengomentari berbagai persoalan sosial dan politik melalui karya-karyanya.
Peluncuran album studio ke-26 ini pun dibuat berbeda dari biasanya. Bertempat di markas besar Slank di Gang Potlot, Jakarta Selatan, acara dikemas dengan nuansa satir yang kuat. Area peluncuran disulap menyerupai lingkungan kumuh dengan dekorasi berupa seng bekas, papan kayu, hingga grafiti yang menggambarkan kondisi sosial yang penuh tantangan.

Atmosfer kritik semakin terasa saat kelima personel Slank, yaitu Bimbim, Kaka, Ivan, Abdee, dan Ridho muncul menggunakan mobil berwarna kuning sambil mengenakan topeng monyet. Mereka kemudian menampilkan aksi teatrikal singkat yang menjadi pembuka rangkaian acara.
Berbagai instalasi simbolik juga menghiasi lokasi peluncuran. Salah satunya adalah sebuah bathtub putih bertuliskan "Slank" yang dipenuhi tumpukan uang dolar tiruan. Properti tersebut menjadi salah satu ikon visual yang menarik perhatian para tamu dan awak media yang hadir.
Tak hanya menyuguhkan simbol-simbol kritik, Slank juga menghadirkan momen penuh makna melalui prosesi pengibaran bendera Merah Putih. Bendera yang semula berada di posisi setengah tiang kemudian dinaikkan hingga mencapai puncak tiang. Simbol tersebut menggambarkan harapan agar Indonesia mampu bangkit dan bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Di balik lahirnya album Republik Fufufafa, terdapat proses kreatif yang tidak biasa. Bimbim mengungkapkan bahwa album ini direkam selama bulan Ramadan 2025.
Menurut Bimbim, seluruh personel menjalani proses rekaman dalam kondisi berpuasa. Aktivitas di studio dilakukan pada siang hari, kemudian mereka berbuka bersama saat Magrib sebelum melanjutkan rutinitas keesokan harinya.

Proses rekaman berlangsung di Fat Five Studio milik Ridho Hafiedz dan menghasilkan sepuluh lagu baru. Bagi Kaka, pengalaman merekam dalam suasana Ramadan justru memberikan energi dan fokus yang berbeda sehingga kualitas materi yang dihasilkan terasa lebih maksimal.
Meski identik dengan tema kritik sosial, album Republik Fufufafa juga menyimpan sisi personal yang mendalam. Slank menyelipkan sejumlah lagu yang berbicara tentang keluarga dan orang-orang terdekat yang memiliki arti penting dalam perjalanan hidup mereka.
Salah satu lagu yang paling emosional adalah "Papa Sid". Lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan langsung oleh Bimbim sebagai bentuk penghormatan kepada sang ayah.
Karya tersebut memiliki nilai sentimental tersendiri karena dibuat ketika Bunda Iffet masih mendampingi keluarga besar Slank. Namun sebelum album dirilis ke publik, Bunda Iffet terlebih dahulu berpulang, menjadikan lagu tersebut memiliki makna yang semakin mendalam bagi para personel.
Melalui Republik Fufufafa, Slank kembali menegaskan identitas mereka sebagai kelompok musik yang tidak sekadar menghadirkan hiburan. Band yang telah melahirkan puluhan album sepanjang kariernya itu menunjukkan bahwa musik tetap dapat menjadi medium untuk menyampaikan kritik, refleksi sosial, sekaligus harapan.

Di tengah perkembangan industri musik yang terus berubah, Slank membuktikan bahwa keberanian menyuarakan realitas sosial masih menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Album ini menjadi bukti bahwa semangat kritis yang telah lama melekat pada Slank belum pernah benar-benar hilang, melainkan kini kembali hadir dalam kemasan yang lebih segar, satir, dan relevan dengan kondisi zaman.
Album Republik Fufufafa kini sudah dapat dinikmati melalui berbagai platform streaming digital di Indonesia dan mancanegara. (sugali; foto hs)