Indonesiasenang-, Waktu tidak selalu ramah bagi sebuah band. Ia bisa mengikis, menjauhkan, bahkan memisahkan. Namun bagi Padi Reborn, waktu justru menjadi ruang untuk tumbuh, jatuh, lalu bangkit kembali dengan cara yang lebih jujur. Dua puluh delapan tahun sejak pertama kali berdiri di Surabaya pada 1997, Padi Reborn kini bersiap merayakan seluruh perjalanan itu lewat sebuah panggung bernama Konser Dua Delapan.

Pada Sabtu, 31 Januari 2026, Tennis Indoor Senayan, Jakarta, akan menjadi saksi bagaimana perjalanan panjang itu dirangkum dalam satu malam, bukan sekadar konser, melainkan perayaan hidup, musik, dan ketahanan sebuah band yang pernah diam hampir satu dekade.

Konser Dua Delapan bukan nostalgia yang berdebu. Ini adalah pernyataan. Setelah vakum panjang dan kembali bangkit pada 2017, Padi Reborn menjadikan konser ini sebagai titik temu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dua Delapan merepresentasikan dua fase penting: 28 tahun perjalanan musik, dan delapan tahun kebangkitan sejak mereka “reborn”.

“Tidak mudah bagi Padi Reborn untuk sampai di titik ini”, ujar Fadly, sang vokalis, dalam jumpa pers (23/01/2025).

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menyimpan cerita panjang tentang jarak, luka, dan usaha untuk tetap bertahan di industri yang terus berubah. “Konser Dua Delapan bukan sekadar music performance. Ini selebrasi bagi semua yang telah membersamai kami selama 28 tahun”, imbuh Fadly.

Di balik angka dan perayaan, Konser Dua Delapan juga menjadi panggung utama bagi album studio kedelapan mereka yang bertajuk 28. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu baru, melainkan refleksi kedewasaan musikal Padi Reborn yang lebih jujur, lebih terbuka, dan berani menyapa generasi baru tanpa kehilangan identitas.

Gitaris Piyu melihat konser ini sebagai ruang emosional yang melintasi waktu. Lagu-lagu Padi Reborn, menurutnya, telah tumbuh bersama pendengarnya, menjadi latar cinta pertama, patah hati, kehilangan, hingga proses berdamai dengan diri sendiri.

“Dua Delapan bukan cuma soal angka. Ini tentang bagaimana lagu-lagu kami hidup bersama pendengarnya, menembus usia, gender, dan latar belakang”, kata Piyu.

Secara musikal, Konser Dua Delapan menjanjikan perjalanan lintas album dengan aransemen yang diperbarui. Setlist dirancang untuk membawa penonton naik-turun secara emosional dari lagu-lagu yang melekat di memori kolektif, hingga materi baru dari album 28.

Single “Ego” akan kembali diperkenalkan dalam format panggung, sementara lagu “Haru Biru” dijadwalkan rilis dan dibawakan pertama kali pada malam konser.

“Album Dua Delapan penuh warna. Ada delapan lagu dengan karakter berbeda, tapi tetap membawa signature Padi Reborn. Beberapa lagu baru akan kami hadirkan sebagai kejutan”, ungkap Rindra.

Untuk menegaskan semangat lintas generasi, Padi Reborn juga menggandeng Sal Priadi dan Fanny Soegi sebagai kolaborator. Kehadiran dua musisi dengan karakter kuat ini bukan sekadar gimmick, melainkan dialog musikal antar generasi, tentang bagaimana lagu-lagu Padi Reborn tetap hidup dan relevan.

“Kami ingin energi baru tanpa mengubah identitas. Sal dan Fanny punya karakter yang kuat, dan ternyata mereka juga tumbuh dengan lagu-lagu kami. Kolaborasinya terasa natural”, jelas Ari.

Didukung oleh Northstar Entertainment, Megapro Communications, dan Mata Elang Production, Konser Dua Delapan dirancang sebagai pertunjukan yang megah secara visual, namun tetap intimate secara emosional. Sebuah ruang temu bagi Sobat Padi, mereka yang mungkin sudah tumbuh dewasa, dan mereka yang baru menemukan lagu Padi Reborn hari ini.

Pada akhirnya, Konser Dua Delapan bukan tentang seberapa lama Padi Reborn bertahan. Ini tentang keberanian untuk kembali, untuk jujur pada proses, dan untuk terus berjalan bersama waktu. Di tengah gemuruh industri musik yang cepat berubah,

Padi Reborn memilih satu hal yang paling sulit, yaitu tetap setia pada musik dan pendengarnya. Dan pada 31 Januari nanti, semua cerita itu akan bernyanyi bersama. (sugali; foto hkdd)