Indonesiasenang-, Bali tidak hanya tentang pantai dan matahari terbenam. Di bagian pegunungan Kabupaten Tabanan, terdapat Desa Wisata Jatiluwih yang menawarkan wajah lain Pulau Dewata melalui hamparan sawah, udara sejuk, budaya agraris, dan kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan tradisi.
Berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Desa Jatiluwih terletak di lereng Gunung Batukaru dengan ketinggian sekitar 600–700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Lokasi tersebut membuat Jatiluwih memiliki karakter berbeda dibandingkan sejumlah destinasi populer Bali yang berada di kawasan pesisir. Dari desa ini, wisatawan dapat menikmati panorama pegunungan sekaligus suasana pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kawasan wisata.
Jatiluwih pun menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan dengan suasana lebih tenang, sejuk, dan dekat dengan alam.
Salah satu daya tarik Jatiluwih adalah lanskap alamnya. Hamparan persawahan terasering membentang mengikuti kontur perbukitan dengan latar Gunung Batukaru.

Pemandangan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Alih-alih menikmati Bali dari tepian laut, Jatiluwih menawarkan kesempatan untuk melihat keindahan Pulau Dewata dari kawasan pegunungan.
Kondisi geografisnya juga memberikan suasana yang berbeda. Udara yang relatif sejuk dan lingkungan pedesaan menjadikan Jatiluwih cocok sebagai destinasi untuk melepas penat sekaligus menikmati perjalanan berbasis alam. Namun, daya tarik Jatiluwih tidak berhenti pada panorama.
Hamparan sawah Jatiluwih menjadi semakin istimewa karena pengelolaannya menggunakan sistem Subak, sistem irigasi tradisional Bali yang telah berkembang sejak sekitar abad ke-11.
Subak bukan hanya sistem pembagian air untuk pertanian. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan yang berkaitan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Nilai tersebut membuat kawasan persawahan Jatiluwih memiliki dimensi budaya yang kuat. Sistem Subak di Jatiluwih menjadi bagian dari lanskap budaya Bali yang mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada 2012.
Bagi wisatawan, hamparan sawah yang terlihat indah dari kejauhan sebenarnya menyimpan cerita panjang mengenai kehidupan masyarakat Bali dan cara mereka menjaga keseimbangan dengan lingkungan.
Kehidupan masyarakat Jatiluwih juga tidak bisa dilepaskan dari sektor pertanian. Kesuburan tanah dan sistem irigasi yang terjaga membuat kawasan ini mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian.

Salah satu yang dikenal sebagai produk khas adalah Beras Merah Jatiluwih. Beras merah tersebut dibudidayakan dengan pendekatan organik tanpa menggunakan pestisida. Produk ini memiliki karakteristik tersendiri dari sisi warna, aroma, dan cita rasa.
Keberadaan produk lokal tersebut memperlihatkan bahwa potensi desa wisata tidak hanya terletak pada keindahan alam. Pertanian juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus sumber penggerak ekonomi masyarakat.
Jatiluwih juga menawarkan kekayaan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Okokan yang dilaksanakan dalam momentum atau upacara tertentu.
Selain tradisi, kegiatan seperti Jatiluwih Festival turut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi desa kepada wisatawan.
Berbagai aktivitas tersebut membuat wisatawan dapat melihat Jatiluwih bukan hanya sebagai tempat untuk berfoto dengan latar sawah, tetapi sebagai ruang hidup masyarakat yang memiliki tradisi, aktivitas ekonomi, dan budaya yang terus diwariskan.
Kombinasi alam, budaya, pertanian, dan kehidupan masyarakat tersebut membawa Jatiluwih memperoleh pengakuan di tingkat internasional. Pada 2024, Desa Jatiluwih dinobatkan sebagai Best Tourism Village oleh United Nations Tourism.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap potensi desa dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat dan kekayaan lokal. Jatiluwih menunjukkan bahwa sebuah desa dapat menjadi destinasi berkelas dunia tanpa harus meninggalkan karakter dan kehidupan masyarakatnya.
Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pariwisata berkualitas dapat dibangun dari potensi yang telah dimiliki masyarakat, mulai dari alam, budaya, hingga produk pertanian.

Keunikan Jatiluwih terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman yang berbeda dari gambaran Bali yang selama ini dikenal wisatawan. Jika pantai menjadi salah satu ikon Bali, Jatiluwih memperlihatkan bahwa pegunungan, sawah, pertanian, dan budaya juga memiliki daya tarik yang tidak kalah kuat.
Di lereng Gunung Batukaru, wisatawan dapat menikmati panorama persawahan terasering sekaligus mengenal sistem Subak, mencicipi hasil pertanian lokal, serta melihat kehidupan masyarakat desa yang masih menjaga tradisi.
Jatiluwih pada akhirnya bukan sekadar destinasi untuk menikmati pemandangan. Desa ini merupakan gambaran tentang bagaimana alam, budaya, pertanian, dan pariwisata dapat berjalan beriringan.
Keberadaan Desa Wisata Jatiluwih juga menjadi bukti bahwa pengalaman wisata berkualitas dapat lahir dari desa. Dengan kekayaan alam dan budaya yang dikelola secara berkelanjutan, Jatiluwih menawarkan alasan baru untuk melihat Bali dari perspektif berbeda: Bali yang sejuk, hijau, agraris, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. (fathur; foto bkkp)