Indonesiasenang-, JAKARTA – Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Namun, di tengah kemudahan akses informasi, peran guru dan dosen tetap menjadi bagian penting dalam membentuk karakter sekaligus menginspirasi generasi masa depan.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam penutupan Wardah Inspiring Teacher (WIT) & Inspiring Lecturer Program 2026 yang digelar ParagonCorp melalui program Inspiring Educators 2026.

Acara yang berlangsung di Jakarta Concert Hall, iNews Tower, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026), dihadiri sekitar 1.000 guru dan pengajar secara luring maupun daring. Tahun ini, sebanyak 6.000 pendidik, terdiri dari 5.000 guru dan 1.000 dosen, dinyatakan lulus dari program WIT dan Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026.
Program ini melanjutkan perjalanan WIT yang telah memiliki sekitar 36.000 alumni guru dan pengajar. Seiring perubahan dunia pendidikan, program tersebut terus dikembangkan, termasuk dengan membekali pendidik agar semakin siap menghadapi perkembangan teknologi dan AI.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Abdul Mu'ti, Komisaris ParagonCorp Salman Subakat, Menteri Perdagangan RI periode 2011–2014 Gita Wirjawan, Guru Inspiratif asal Mentawai sekaligus alumni WIT Dika Riyanti, serta Dosen Inspiratif Imam Santoso.
Komisaris ParagonCorp Salman Subakat menyampaikan apresiasi kepada para guru dan dosen yang terus menjalankan perannya dalam berbagai kondisi.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat siswa kini dapat memperoleh informasi dengan mudah melalui mesin pencari maupun AI. Namun, ada sisi dari seorang pendidik yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi.

“Teknologi semakin berkembang, anak sekarang bisa tanya Google dan AI. Namun ada yang tidak bisa tergantikan dari seorang guru, yaitu spirit dan niat yang tulus kepada para muridnya. Sampai kapanpun peran pengajar tidak akan pernah terganti, Bapak Ibu!” tegas Salman Subakat.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika pendidikan memasuki era AI. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga membantu siswa memahami informasi, membangun karakter, berpikir kritis, dan menemukan arah untuk masa depannya.
Menteri Pendidikan Abdul Mu'ti Bicara Perjalanan Pendidikan
Salah satu momen yang mendapat perhatian peserta adalah sesi Inspiring Educators, ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Abdul Mu'ti berbagi cerita mengenai perjalanan pendidikannya.
Dengan gaya yang santai, Abdul Mu'ti mengisahkan perjuangannya menempuh pendidikan dari daerah terpencil hingga memperoleh kesempatan kuliah melalui beasiswa dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
“Ayah saya mau saya jadi guru, PNS. Tapi saya tolak karena prinsip hidup yang berbeda. Suatu hari, guru saya bilang, kalau saya tidak kuliah di kampus dan jurusan pilihannya, maka saya tidak diakui sebagai muridnya. Waduh, itulah yang akhirnya mencambuk saya untuk berusaha keras. Dari daerah terpencil, tidak ada sinyal, saya kuliah mendapat beasiswa hingga bisa ke luar negeri. Sekarang saya jadi PNS, bukan guru, tapi guru dari semua guru,” ungkap Abdul Mu'ti.

Ia juga mengingatkan para pendidik untuk kembali melihat niat ketika memilih profesi sebagai guru.
“Apa niat Anda menjadi guru? Niat adalah salah satu hal penting, agar apa yang akan dilakukan menjadi lebih maksimal hasilnya. Kalau Bapak/Ibu ingin menjadi guru, jadilah orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Mendidik itu adalah menginspirasi. Menginspirasi tidak harus menggurui,” tuturnya.
Menurut Abdul Mu'ti, guru perlu menjadi figur yang mampu membawa perubahan dan membuka jalan bagi murid untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.
Kisah Pendidikan dari Mentawai hingga Kampus
Pesan tentang pentingnya pendidik juga disampaikan melalui pertunjukan monolog oleh Dika Riyanti, guru inspiratif asal Mentawai sekaligus alumni WIT.
Dika membawa cerita tentang berbagai tantangan pendidikan di daerah terpencil, mulai dari keterbatasan akses hingga menurunnya minat belajar karena jarak tempuh yang jauh.
“Masalah ketidaksiapan orangtua memberikan perannya, sulitnya akses, turunnya minat belajar karena lelah menempuh perjalanan yang jauh setiap hari. Mirisnya, orangtua mereka memilih anaknya berhenti sekolah dan bilang bahwa mereka lebih membutuhkan anak-anak untuk bekerja di ladang!” kata Dika dalam monolognya.
Sementara itu, Dosen Inspiratif Imam Santoso mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, mulai dari tekanan menyelesaikan skripsi, tuntutan untuk sempurna, hingga kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.
Melalui kisah seorang mahasiswa yang nyaris kehilangan masa depan karena merasa dirinya tidak mampu hingga hampir dikeluarkan dari kampus, Imam menunjukkan bagaimana dukungan seorang dosen dapat menjadi titik balik bagi mahasiswanya.
Rangkaian Inspiring Educators 2026 pun menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar soal transfer ilmu. Di tengah perkembangan AI, kehadiran guru dan dosen tetap memiliki ruang penting untuk memberikan arah, membangun kepercayaan diri, serta menyalakan semangat belajar para peserta didik. (kintan)