Indonesiasenang-, Jamu terus membuktikan dirinya sebagai lebih dari sekadar minuman herbal tradisional. Di tengah tren gaya hidup sehat yang berkembang pesat di berbagai negara, racikan rempah khas Indonesia kini tampil sebagai bagian dari industri wellness, kuliner, sekaligus diplomasi budaya yang semakin diperhitungkan di tingkat internasional.
Perjalanan jamu memang telah berlangsung selama ratusan tahun. Dahulu, masyarakat mengenalnya melalui para penjual jamu gendong yang menyusuri kampung-kampung membawa botol berisi kunyit asam, beras kencur, temulawak, dan berbagai racikan herbal lainnya. Minuman tersebut menjadi bagian dari keseharian masyarakat untuk menjaga kesehatan secara alami.
Kini, warisan tersebut memasuki babak baru. Jamu tak lagi hanya dipandang sebagai minuman tradisional untuk kalangan tua, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang diminati generasi muda. Dengan kemasan modern, konsep penyajian yang lebih kekinian, hingga pemasaran digital, jamu perlahan menembus pasar nasional bahkan internasional.
Perjalanan panjang jamu sejatinya telah dimulai sejak ratusan tahun silam. Pada masa kolonial, kekayaan tanaman herbal Nusantara menarik perhatian para ilmuwan Eropa. Salah satunya ahli botani Georg Eberhard Rumphius yang mendokumentasikan berbagai tanaman berkhasiat dari Kepulauan Maluku dalam karya monumental Herbarium Amboinense, menjadi bukti bahwa kekayaan rempah Indonesia telah lama dikenal dunia.
Sebagai bagian dari budaya Nusantara, jamu bukan sekadar minuman herbal. Setiap racikan menyimpan filosofi, pengetahuan tradisional, hingga kearifan lokal mengenai cara menjaga kesehatan secara alami. Dari rempah-rempah seperti kunyit, jahe, kencur, temulawak, hingga asam jawa, seluruh bahan tersebut menjadikan jamu sebagai salah satu kekayaan kuliner tradisional Indonesia yang memiliki manfaat kesehatan.
Pengakuan dunia terhadap nilai budaya tersebut semakin kuat setelah UNESCO menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2023. Pengakuan itu menegaskan bahwa jamu merupakan warisan budaya hidup yang terus berkembang bersama masyarakat Indonesia.
Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga agar tradisi tersebut tetap relevan di tengah maraknya minuman modern dan tren kesehatan global. Berbagai pelaku industri kreatif pun menjawab tantangan tersebut melalui inovasi produk, konsep kedai jamu modern, hingga festival budaya yang mendekatkan jamu kepada generasi muda.
Dikatakan oleh Jony Yuwono selaku Founder Acaraki, bahwa jamu bukan hanya minuman yang menyehatkan tubuh, tetapi juga menyimpan cerita panjang mengenai budaya dan identitas bangsa Indonesia.
"Melalui Festival Jamu Nusantara, kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa jamu dan budaya Indonesia dapat terus berkembang mengikuti zaman. Ketika tradisi bertemu kreativitas, kekayaan budaya tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu melahirkan peluang baru bagi generasi masa kini dan masa depan”, jelas Joni Yuwono.
Semangat tersebut diwujudkan melalui Festival Jamu Nusantara yang digelar selama 6–7 Juni 2026 lalu di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta. Festival itu menghadirkan pengalaman menikmati jamu sebagai bagian dari gaya hidup modern dengan memadukan unsur wellness, kuliner Nusantara, seni budaya, fesyen berbasis budaya, hingga permainan tradisional seperti Karnaval Nusantara dan Estafet Permainan Nusantara.
Festival tersebut menjadi bukti bahwa jamu mampu hadir sebagai produk kuliner tradisional yang dikemas secara edukatif, interaktif, sekaligus menyenangkan bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
Ditegaskan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, bahwa jamu merupakan identitas bangsa yang harus terus dijaga melalui inovasi. "Jamu bukan hanya produk. Jamu adalah identitas Indonesia. Dari budaya dan identitas itulah kreativitas lahir sehingga menghasilkan berbagai inovasi yang membuat budaya kita tetap lestari sekaligus relevan”, katanya.
Menurut Irene Umar, jamu memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai produk kreatif yang mampu bersaing di pasar internasional, baik dalam industri kesehatan, kecantikan, maupun kuliner.
"Jamu bukan hanya obat tradisional. Jamu adalah brand Indonesia yang memiliki potensi besar dalam industri kesehatan, kecantikan, dan kuliner global. Karena itu, tugas kita bersama adalah menjaga warisan budaya ini agar tetap relevan dan mampu berkembang mengikuti kebutuhan zaman”, ujar Irene Umar.
Upaya membawa jamu ke panggung dunia juga mendapat dukungan dari Dewan Jamu Indonesia (DJI). Ketua DJI, Daniel Tjen, mengungkapkan pihaknya akan menggelar The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 pada Oktober 2026 bertepatan dengan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.
Menurut Daniel Tjen, ajang tersebut akan menjadi platform internasional yang mempertemukan kalangan akademisi, industri, pelaku budaya, hingga pemerintah melalui konferensi ilmiah, pameran industri, dan promosi budaya untuk semakin memperkuat posisi jamu di pasar global.
"Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu. Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini”, tutur Daniel Tjen.
Transformasi jamu menunjukkan bahwa tradisi tidak harus tertinggal oleh perkembangan zaman. Dari minuman racikan para penjual jamu gendong hingga hadir di kedai-kedai modern, festival budaya, dan forum internasional, jamu membuktikan kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri kreatif, komunitas, dan masyarakat, jamu kini tidak hanya menjadi simbol kesehatan alami dan kekayaan kuliner Nusantara, tetapi juga menjadi wajah Indonesia di mata dunia. Perpaduan tradisi, inovasi, dan kreativitas diharapkan mampu menjadikan jamu sebagai kebanggaan nasional yang semakin dikenal, dicintai, dan dinikmati masyarakat global. (dewa; foto bkek)