Indonesiasenang-, Sejarah tidak selalu hidup di buku pelajaran. Ia bersemayam dalam ingatan kolektif, kebiasaan sehari-hari, rasa, aroma, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari kesadaran itulah Galeri Budaya Tionghoa Indonesia hadir di Pantjoran PIK sebagai ruang untuk membaca ulang perjalanan komunitas Tionghoa di Nusantara, bukan sebagai masa lalu yang beku, melainkan sebagai pengalaman yang terus bergerak.

Perjalanan komunitas Tionghoa di Indonesia dimulai dari gelombang migrasi panjang yang membawa harapan akan kehidupan yang lebih baik. Mereka datang dengan membawa tradisi, nilai, serta kebiasaan yang kemudian berinteraksi dengan budaya lokal. Proses perjumpaan itu melahirkan akulturasi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Indonesia, terlihat dalam kuliner peranakan, seni, bahasa, hingga ritme kehidupan kota-kota pesisir.

Namun perjalanan ini juga diwarnai fase-fase sulit. Ada masa ketika identitas menjadi beban, ketika budaya harus disembunyikan, dan sejarah dijalani dengan kewaspadaan. Di tengah keterbatasan itu, komunitas Tionghoa tetap bertahan, beradaptasi, dan berkontribusi melahirkan karya, pemikiran, serta tokoh-tokoh penting di berbagai bidang kehidupan.

Galeri Budaya Tionghoa Indonesia hadir sebagai ruang untuk merefleksikan perjalanan tersebut. Bukan sekadar menampilkan artefak atau arsip sejarah, galeri ini dirancang sebagai ruang hidup, tempat pengunjung diajak merasakan, bukan hanya melihat.

“Galeri ini mengajak kita memahami bahwa budaya bukan sesuatu yang statis, melainkan pengalaman hidup yang terbentuk dari interaksi lintas generasi”, kata Natalia Kusumo selaku CEO Amantara, Agung Sedayu Group.

Ditegaskan oleh Natalia Kusumo, bahwa galeri ini diharapkan menjadi ruang edukasi, ruang komunitas, sekaligus sumber inspirasi kreatif yang inklusif.

Pengalaman pengunjung disusun melalui tiga zona utama : Ruang Kedatangan, yang mengisahkan awal migrasi dan penanaman akar kehidupan; Ruang Kesaksian, yang merekam perjalanan identitas dan tantangan sejarah; serta Ruang Keakraban, yang menampilkan dinamika kebersamaan dan kontribusi dalam kehidupan sehari-hari. Kisah-kisah yang ditampilkan berasal dari berbagai lapisan, dari pedagang kecil hingga tokoh publik menunjukkan bagaimana sejarah dibangun oleh manusia biasa.

Setelah menjelajahi zona utama, pengunjung akan memasuki Temporary Exhibition Area, ruang pameran temporer yang berganti setiap enam bulan. Area ini menjadi wadah eksplorasi tema-tema kontemporer melalui kolaborasi lintas komunitas dan disiplin kreatif.

Pameran perdana bertajuk “≠ / Tidak Sama Dengan” mengangkat gagasan tentang identitas yang tidak pernah tunggal. Melalui karya seniman seperti Edita Atmaja, FX Harsono, Meliantha Muliawan, dan Yaya Sung, pameran ini mengajak pengunjung merenungkan perbedaan, keberagaman, dan ruang dialog dalam masyarakat Indonesia hari ini.

Lebih dari destinasi seni, galeri ini juga menjadi ruang interaksi untuk menghadirkan diskusi publik, pertunjukan, hingga program edukatif yang mendorong keterlibatan lintas generasi. Sejarah tidak lagi ditempatkan sebagai narasi elitis, tetapi sebagai percakapan bersama.

Kehadiran Galeri Budaya Tionghoa Indonesia sejalan dengan inisiatif PIK Berbudaya, sebuah gerakan yang mengintegrasikan sejarah, seni, kuliner, dan gaya hidup dalam satu ekosistem budaya di kawasan Pantai Indah Kapuk. Melalui pendekatan ini, Pantjoran PIK tidak hanya berkembang sebagai destinasi kuliner, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran budaya yang relevan dengan kehidupan urban masa kini.

Di tengah dinamika kota dan gaya hidup modern, galeri ini menawarkan jeda, ruang untuk mengingat, memahami, dan merayakan keberagaman. Sebuah pengingat bahwa kisah komunitas Tionghoa adalah bagian dari kisah Indonesia itu sendiri: tentang penerimaan, ketahanan, dan perjalanan bersama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. (dewa; foto hgbt)