Film Begu Ganjang Masuk Tahap Produksi, Hadirkan Medical Horror Mystery Berbasis Mitos Batak

Film Begu Ganjang masuk tahap produksi, mengadaptasi novel Ferdiriva Hamzah dengan mitos Batak, misteri medis, dan teror horor supranatural

Film Begu Ganjang Masuk Tahap Produksi, Hadirkan Medical Horror Mystery Berbasis Mitos Batak

Indonesiasenang-, Mitos Begu Ganjang dari Sumatera Utara diangkat ke layar lebar melalui film Begu Ganjang yang mengusung genre medical horror mystery. Mengadaptasi novel karya dokter spesialis mata dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M, film produksi Delapan Entertainment Studios ini memadukan teror supranatural, misteri kematian, dan dunia medis dalam cerita yang mempertemukan logika kedokteran dengan kepercayaan tradisional masyarakat Batak.

Film yang disutradarai Arwin Tri Wardhana tersebut memasuki tahap produksi pada Oktober 2026. Proyek ini menjadi langkah perdana Delapan Entertainment Studios di industri film layar lebar sekaligus upaya mengembangkan mitos lokal menjadi kekayaan intelektual yang berpotensi menjangkau penonton nasional maupun internasional.

Produser film sekaligus Direktur Utama Delapan Entertainment Studios, Rama Michael, mengatakan Begu Ganjang menawarkan pendekatan berbeda dari film horor yang selama ini mengandalkan teror makhluk gaib. Keunikan cerita terletak pada pertemuan unsur folklor dengan persoalan medis yang menjadi bagian penting dalam pengembangan konflik.

“Ini sesuatu yang amat unik. Ini memang bukan cerita horor yang sama kayak yang lain”, ujar Rama Michael dalam jumpa pers di Hotel Des Indes, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).

Menurut Rama Michael, folklor Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya sinema dengan identitas budaya yang kuat. Legenda Begu Ganjang dipilih karena menawarkan ruang eksplorasi cerita yang tidak hanya menghadirkan ketakutan, tetapi juga membuka perbincangan mengenai hubungan manusia dengan tradisi dan rasionalitas modern.

Penulis novel sekaligus pemilik hak kekayaan intelektual Begu Ganjang, dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M, menjelaskan bahwa cerita tersebut dirancang dengan menempatkan dunia medis dan kepercayaan mistis dalam satu rangkaian konflik. Latar belakangnya sebagai dokter turut memengaruhi pendekatan narasi yang tidak semata-mata mengandalkan kemunculan makhluk supranatural.

“Karena saya dokter, tidak mungkin saya menulis cerita horor tanpa penjelasan medis”, ucap dr. Ferdiriva Hamzah.

Ia ingin mempertemukan cara berpikir ilmiah dengan kepercayaan tradisional yang hidup di tengah masyarakat. Pertentangan tersebut menjadi landasan cerita sekaligus pembeda Begu Ganjang dari horor konvensional.

“Di sini saya ingin di film ini bukan cuma mengedepankan horor, tapi juga hubungan antara pemikiran modern dengan pemikiran tradisional. Jadi yang dibahas adalah benturan antara medis dan mitos”, jelas dr. Ferdiriva Hamzah.

Dalam tradisi dan penuturan masyarakat Batak, istilah begu merujuk pada hantu atau roh, sedangkan ganjang berarti panjang atau tinggi. Mitos Begu Ganjang kemudian menjadi pijakan bagi pengembangan cerita yang membawa folklor Sumatera Utara ke dalam konteks misteri medis.

Melalui pendekatan tersebut, film ini berupaya membangun ketegangan dari pertanyaan yang lebih kompleks: bagaimana seorang dokter menghadapi kejadian yang tidak dapat dijelaskan melalui penalaran medis, sementara kepercayaan terhadap hal-hal mistis menawarkan penafsiran berbeda?

Kisah Begu Ganjang berpusat pada Tobias, seorang dokter muda yang bekerja di Rumah Sakit Rotua, Sumatera Utara. Sebagai tenaga medis yang mengandalkan ilmu pengetahuan dan rasionalitas, Tobias terbiasa mencari penjelasan ilmiah atas setiap peristiwa yang dihadapinya.

Namun, keyakinannya mulai terusik ketika serangkaian kematian misterius terjadi di rumah sakit tempatnya bekerja. Di tengah situasi yang semakin mencekam, teror supranatural mulai membayangi kehidupan Tobias, termasuk mengancam Lena, kekasihnya yang berprofesi sebagai dokter residen kejiwaan.

Rangkaian kejadian tersebut memaksa Tobias menghadapi persoalan yang melampaui rutinitas profesionalnya. Ketika penjelasan medis tidak segera menjawab berbagai kejanggalan, ia harus mempertanyakan batas antara fakta, persepsi, dan kemungkinan adanya kekuatan yang berada di luar pemahamannya.

Rumah sakit menjadi salah satu pusat teror dalam film ini. Lingkungan yang identik dengan ilmu pengetahuan, diagnosis, dan upaya menyelamatkan nyawa justru berubah menjadi ruang penuh teka-teki. Kontras tersebut memperkuat karakter medical horror mystery, dengan misteri kematian dan ancaman supranatural berjalan beriringan.

Konflik Tobias dan Lena juga memberikan dimensi personal pada cerita. Ancaman yang muncul tidak hanya menguji keyakinan Tobias sebagai dokter, tetapi turut mempertaruhkan keselamatan orang yang dicintainya.

Sebelum dikembangkan menjadi film, Begu Ganjang telah hadir sebagai novel yang pertama kali diterbitkan pada 2017. Karya Ferdiriva tersebut dilaporkan telah terjual lebih dari 50.000 eksemplar dan memasuki cetakan keempat. Ceritanya juga telah dikembangkan ke medium komik.

Fondasi cerita yang telah terbentuk melalui buku dan komik menjadi modal bagi pengembangan ke medium layar lebar. Adaptasi ini sekaligus memperluas kemungkinan audiens untuk mengenal mitos Begu Ganjang melalui pengalaman sinematik.

Aktor Randy Pangalila, salah satu pemeran dalam film ini, mengaku tertarik karena konsep cerita yang mempertemukan dunia medis dan mistis. Menurutnya, keberadaan novel dan komik memberikan dasar naratif bagi pengembangan cerita ke layar lebar.

“Yang membuat aku sangat tertarik, ini bukan cerita yang tiba-tiba ada. Ini ceritanya memang sudah ada novelnya, dan sudah ada komiknya”, kata Randy Pangalila.

Selain Randy Pangalila, film ini dibintangi Dwi Sasono, Nasya Marcella, dan Alexandra Gottardo. Para pemain tersebut akan menghidupkan karakter-karakter yang terlibat dalam rangkaian misteri dan teror di Rumah Sakit Rotua.

Bagi Delapan Entertainment Studios, pengembangan Begu Ganjang tidak berhenti pada produksi satu film. Rumah produksi tersebut melihat peluang untuk memperluas cerita melalui pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), termasuk kemungkinan menghadirkannya dalam format serial pada masa mendatang.

“Who knows kita kalau misalnya nanti ke depannya, kita juga mengangkat nanti Begu Ganjang ini ke series,” ujar Rama Michael.

Ditegaskan oleh Rama Michael bahwa perusahaan ingin membangun ekosistem kreatif yang dapat mengembangkan cerita dan talenta melalui berbagai medium. Kolaborasi dengan 8 Management, manajemen artis yang berdiri sejak 2005 di bawah pimpinan Gugun Ibnu Siregar dan Yusuf Hartono, menjadi salah satu fondasi pengembangan tersebut.

Dalam proyek ini, Rama Michael turut bertanggung jawab sebagai produser sekaligus executive producer. Setelah sekitar satu tahun hiatus dari dunia akting, ia kini mengambil peran di balik layar untuk mengawal pengembangan cerita hingga proses produksi.

Pengambilan gambar Begu Ganjang direncanakan berlangsung di Jakarta dan Medan. Sekitar 30 persen proses syuting akan dilakukan di Sumatera Utara, wilayah yang memiliki keterkaitan langsung dengan latar budaya legenda tersebut.

Pemilihan lokasi ini berpotensi memperkuat atmosfer cerita sekaligus menghadirkan konteks geografis dan budaya yang melingkupi mitos Begu Ganjang. Dengan demikian, folklor tidak sekadar menjadi latar bagi teror, tetapi juga menjadi bagian dari identitas film.

Tantangan adaptasi terletak pada bagaimana menerjemahkan narasi novel menjadi pengalaman visual yang mampu mempertahankan misteri, konflik psikologis, dan konteks budaya. Pada saat yang sama, unsur medis perlu terintegrasi dengan alur cerita agar tidak sekadar menjadi pelengkap bagi kemunculan fenomena supranatural.

Melalui perpaduan mitos Batak, misteri kematian, dan penalaran kedokteran, Begu Ganjang berupaya menawarkan perspektif baru bagi perfilman horor Indonesia. Film ini juga membuka peluang bagi kekayaan folklor daerah untuk dikembangkan menjadi kekayaan intelektual yang dapat tumbuh lintas medium.

Masuknya Begu Ganjang ke tahap produksi menjadi awal perjalanan legenda lokal tersebut menuju layar lebar. Dengan genre medical horror mystery sebagai identitas utamanya, film ini menempatkan pertanyaan tentang batas ilmu pengetahuan dan kepercayaan sebagai sumber ketegangan, sekaligus menjadikan mitos Sumatera Utara sebagai fondasi bagi eksplorasi horor yang lebih berkarakter. (fathur; foto hfbg)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.