Alunan Piano Ananda Sukarlan Temani Ngopi Bareng Sastrawan di Books and Identity Over Coffee

Alunan piano Ananda Sukarlan mengiringi diskusi sastrawan Austria, Ukraina, dan Indonesia tentang sastra, identitas nasional, dan isu sosial

Alunan Piano Ananda Sukarlan Temani Ngopi Bareng Sastrawan di Books and Identity Over Coffee

Indonesiasenang-, Menikmati kopi khas Austria sambil berdiskusi tentang sastra, identitas nasional, dan isu sosial menjadi pengalaman berbeda dalam acara Books and Identity Over Coffee: Vienna – Kyiv – Jakarta. Digelar pada Senin (19/10/2026) di Kedutaan Besar Austria, Menteng, Jakarta Pusat, acara ini menghadirkan sastrawan dari Austria, Ukraina, dan Indonesia, serta penampilan istimewa dari komponis dan pianis Indonesia, Ananda Sukarlan.

Diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Austria dan Kedutaan Besar Ukraina untuk Indonesia, diskusi ini menghadirkan Stefan Kutzenberger dari Austria, Irena Karpa dari Ukraina, serta Laksmi Pamuntjak dan Dhianita Kusuma Pertiwi dari Indonesia. Diskusi yang dimoderatori Debra H. Yatim ini membahas bagaimana sastra dapat menjadi medium untuk merawat identitas nasional sekaligus menyuarakan berbagai persoalan sosial.

Suasana acara berlangsung santai dengan pengalaman menikmati kopi khas gaya Austria yang cenderung ringan dan creamy, ditemani kudapan seperti lemon cake dan cinnamon cake.

Ananda Sukarlan Padukan Musik dan Sastra

Sebelum diskusi dimulai, Ananda Sukarlan membuka acara dengan sejumlah komposisi yang berkaitan dengan sastra, budaya, dan kemanusiaan.

Salah satunya adalah Urip Iku Urup, karya yang terinspirasi dari filosofi Jawa tentang kehidupan yang seharusnya memberikan manfaat bagi orang lain. Kata urip berarti hidup, sedangkan urup berarti menyala.

Ananda Sukarlan juga membawakan Paradise Lost, karya yang berkaitan dengan tragedi Bom Bali, serta Rapsodia Nusantara No. 39: Oras Loro Malirin dalam versi khusus untuk tangan kiri. Komposisi yang terinspirasi dari lagu daerah Nusa Tenggara Timur tersebut didedikasikan untuk yayasan Superhuman di Ukraina, yang mendukung penyintas perang, termasuk mereka yang kehilangan anggota tubuh. Dan terakhir Under Juliet's Balcony.

Ananda Sukarlan dikenal melalui lebih dari 500 tembang puitik berdasarkan puisi dan prosa karya sastrawan Indonesia maupun dunia, termasuk Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Rabindranath Tagore, dan William Shakespeare. Seri Rapsodia Nusantara yang digarapnya kini telah mencapai 46 nomor.

Sastrawan Austria, Ukraina, dan Indonesia Berbagi Cerita

Sastrawan Indonesia, Laksmi Pamuntjak, membacakan kutipan dari dua karya berbeda, salah satunya Fall Baby, novel ketiganya sekaligus sekuel dari novel debutnya, Amba: The Question of Red. Karya tersebut juga menjadi novel pertamanya yang ditulis dalam bahasa Inggris.

"Hari ini, saya membacakan dua kutipan dari dua karya yang berbeda. Karya pertama berjudul Fall Baby. Ini adalah novel ketiga saya, sekaligus sekuel dari novel debut saya, Amba atau The Question of Red. Karya ini juga merupakan novel pertama saya yang ditulis dalam bahasa Inggris”, kata Laksmi Pamuntjak.

Karya-karyanya turut mengangkat persoalan sosial, termasuk kehidupan buruh dan keluarga mereka, serta isu etnis dan agama.

Dari Ukraina, Irena Karpa, yang dikenal sebagai penulis, musisi, dan jurnalis, berbagi pengalaman masa kecil yang membentuk kecintaannya terhadap buku dan petualangan.

"Aku senang membaca buku, dan aku tidak suka menjadi seperti seorang putri. Aku suka petualangan, mengetahui banyak hal di luar, datang ke museum, melihat sejarah, menikmati banyak makanan di seluruh dunia”, ujar Irena Karpa.

Menurutnya, buku dapat menjadi teman sekaligus sarana memahami persoalan masyarakat, mulai dari isu perempuan dan anak-anak hingga diskriminasi dan LGBT.

Sementara itu, Stefan Kutzenberger, sastrawan dan akademisi asal Austria, menceritakan sejarah keluarganya yang memiliki akar Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia asal Surabaya. Keluarganya berangkat ke Eropa pada 1965, tetapi situasi politik membuat mereka tidak dapat kembali ke Indonesia.

"Mereka tidak pernah kembali dan kehilangan semua yang mereka miliki. Mereka berada di Eropa hanya dengan dua koper di tangan, tetapi mereka berhasil bertahan hidup”, cerita Stefan Kutzenberger.

Adapun Dhianita Kusuma Pertiwi, penulis, penerjemah, dan editor asal Indonesia, turut hadir dengan latar belakang karya yang mencakup sastra, budaya, sejarah, serta isu sosial-politik.

Sastra sebagai Jembatan Antarbudaya

Melalui Books and Identity Over Coffee, para sastrawan dari Austria, Ukraina, dan Indonesia berbagi perspektif mengenai identitas, diskriminasi, sejarah, dan pengalaman manusia melalui karya sastra.

Setelah agenda di Jakarta, para penulis dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) pada 21–25 Oktober 2026. Pertemuan ini menjadi ruang dialog lintas budaya yang mempertemukan sastra dan musik sebagai cara untuk memahami sekaligus melestarikan identitas nasional. )(kintan; foto praba)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.