Indonesiasenang-, Michael Anthony Kwok, pemenang Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025, mencatat prestasi penting dalam perjalanan sebagai pianis muda Indonesia. Ia mendapat kesempatan mengikuti program musik intensif sekaligus tampil di panggung musik klasik di Paris, Prancis, pada Juni 2026.
Perjalanan Michael Anthony Kwok berlangsung pada 14–20 Juni 2026 dengan dukungan Kedutaan Besar Prancis dan Institut français d’Indonésie (IFI). Program tersebut merupakan bagian dari kemitraan IFI dengan Ananda Sukarlan Center (ASC) dalam mendukung talenta muda Indonesia.
Pencapaian Michael Anthony Kwok semakin istimewa karena ia merupakan pemenang pertama dalam sejarah Ananda Sukarlan Award yang merupakan penyandang tunanetra dan spektrum autisme.

"Ini pertama kalinya kita mendapat pemain piano dari spektrum autisme dan juga tunanetra. Kebetulan saya juga punya sindrom Asperger yang juga spektrum autisme. Jadi kita saling mengerti. Kita bawa dia ke Paris, agar dia bisa belajar di sana, dan juga guru-guru di sana banyak belajar. Sebenarnya guru-guru di sana sudah biasa bagaimana meng- handle pianis tunanetra. Tapi pianis tunanetra dan dari spektrum autisme ini baru pertama kali”, jelas Pianis dan Composer Ananda Sukarlan yang ditemui awak media pada Jumat, 14 Agustus 2026 di IFI Thamrin, Jakarta Pusat.
Pada kesempatan kali ini, di hadapan para awak media Michael Anthony Kwok juga memainkan Rapsodia Nusantara No. 44 karya Ananda Sukarlan yang sempat dibawakan di Paris bulan Juni lalu. Lagu yang diciptakan oleh Pak Kasur ini menjadi teramat spesial dan berbeda dari yang biasa kita dengar.
Michael Anthony Kwok Dalami Musik Klasik Prancis
Di Paris, Michael Anthony Kwok mengikuti program intensif di Conservatoire Municipal Charles Munch. Ia menjalani enam sesi privat bersama tiga pianis asal Prancis, yakni Orlando Bass, Isabelle Dubuis, dan Éric Le Sage.
Bersama Orlando Bass, Michael mendalami teknik piano dan interpretasi musik. Ia kemudian mengkaji karya Maurice Ravel bersama Isabelle Dubuis serta repertoar Francis Poulenc dan Claude Debussy bersama Éric Le Sage.
Michael Anthony Kwok membagikan rasa bahagia dan antusias mengikuti program ini. "Konsernya seru banget, aku jadi ingin membuat cerita perjalanan saat belajar piano ke Paris selama 16 hari”, jelasnya menceritakan keinginannya ke depan.

"Ia bahkan bisa membedakan bagaimana guru di Paris dan Indonesia yang memiliki cara mengajar yang berbeda. Meski tidak bicara, tapi dari mimik, gesturnya, Michael menunjukkan rasa nyamannya saat belajar”, ungkap Mentalia Kurnia, ibunda dari Michael Anthony Kwok.
Pengalaman tersebut tentunya makin memperkaya kemampuan teknis sekaligus pemahaman Michael terhadap tradisi musik klasik Prancis.
Tampil di Festival Fièvres Musicales
Puncak perjalanan Michael Anthony Kwok terjadi ketika ia mendapat undangan tampil di Festival Fièvres Musicales di Paris pada 17 dan 18 Juni 2026. Dalam festival tersebut, Michael Anthony Kwok membawakan Le Tombeau de Couperin karya Maurice Ravel, yang dipelajarinya selama menjalani residensi di Paris.
Ia juga membawakan Rapsodia Nusantara No. 44 karya Ananda Sukarlan. Karya tersebut menggunakan melodi lagu rakyat Indonesia Potong Bebek Angsa dengan referensi tradisi musik klasik Eropa.
Ananda Sukarlan memilih lagu Potong Bebek Angsa karena dinilai memiliki kemiripan dengan Beethoven, dimana saat kompetisi ASA 2025 Michael membawakan lagu Beethoven.
"Lagu ini memang didesain untuk pianis penyandang tunanetra ya, dan memang memiliki kemiripan dengan Sonata-nya Beethoven. Kan waktu dia menang Anthony bawakan lagu Beethoven”, jelas Ananda Sukarlan melanjutkan.
Perpaduan dua karya tersebut menghadirkan dialog musikal antara Indonesia dan Prancis sekaligus memperlihatkan hasil nyata pertukaran seni lintas budaya.

Peran Ananda Sukarlan dan IFI Jakarta
Prestasi Michael Anthony Kwok tidak terlepas dari peran Ananda Sukarlan dan Ananda Sukarlan Award. Kompetisi yang didirikan pada 2008 ini berkembang menjadi wadah bagi talenta musik klasik Indonesia.
Sejak 2014, pemenang Hadiah Utama ASA mendapatkan beasiswa kursus musim panas di Prancis melalui kemitraan Ananda Sukarlan Center dan IFI Jakarta.
Kerja sama tersebut kembali diperkuat pada 2025 melalui pembaruan perjanjian serta penyelenggaraan masterclass bersama Trio Saint-Saëns. Program ini menunjukkan bahwa Ananda Sukarlan Award 2025 bukan sekadar ajang kompetisi. Bagi Michael Anthony Kwok, penghargaan tersebut menjadi pintu menuju pendidikan, pengalaman, dan prestasi di panggung musik klasik internasional. (kintan; foto praba)