Indonesiasenang-, Kibasan lembut sehelai stola menjadi sorotan dalam sesi latihan catwalk Vicky Kosasie selaku Putri Indonesia mewakili Bali. Di balik gerakan yang tampak sederhana itu, tersimpan kebanggaan akan karya anak bangsa, sebuah pernyataan fashion sekaligus penghormatan budaya menjelang ajang Putri Indonesia 2026.
Dalam balutan stola batik tulis eksklusif berbahan sutra, Vicky Kosasie tampil memikat. Kain tersebut merupakan karya dari GPH Paundrakarna, sosok desainer sekaligus pangeran dari lingkungan Mangkunegaran yang dikenal konsisten mengangkat nilai tradisi ke panggung modern. Setiap kibasan stola menghadirkan keindahan motif Bali yang diproduksi oleh Batik Keris, menjadikannya bukan sekadar aksesori, tetapi simbol identitas lintas budaya.
GPH Paundrakarna pangeran Mangkunegaran yang akrab dipanggil gusti sepuh Paundra ini sangat lekat dengan Bali, warisan turunan Trah Eyang Soekarno yang ibunya dari Buleleng Bali yaitu Nyai Rai srimben maka terciptalah karya seni stola khas Bali yang indah.

Latihan yang dipandu oleh koreografer Dewanugi ini memperlihatkan bagaimana Vicky Kosasie tidak hanya berlatih teknik berjalan, tetapi juga membangun storytelling visual. Kibasan stola menjadi bagian dari gestur artistik yang mengalir, hidup, dan sarat makna. Dalam setiap gerakan, ia seolah membawa narasi tentang perempuan Indonesia yang percaya diri, berakar pada tradisi, namun tetap relevan di panggung global.
Sebagai seniman kontemporer yang menempuh pendidikan di Central Saint Martins dan Royal College of Art, Vicky Kosasie memiliki pendekatan unik terhadap fashion dan beauty. Baginya, kecantikan bukan hanya soal tampilan, tetapi juga tentang bagaimana karya budaya dapat dikenakan, dihidupkan, dan diceritakan ulang kepada dunia.
Kebanggaan terhadap karya desainer Mangkunegaran pun terasa kental. Stola karya Paundrakarna menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat tampil elegan di panggung kontemporer, sekaligus menjadi representasi Indonesia yang kaya akan estetika. Vicky Kosasie pun menjadikannya sebagai bagian dari identitasnya dalam perjalanan menuju panggung nasional.
Dengan kibasan stola yang penuh makna, Vicky Kosasie tidak hanya melangkah di runway, ia membawa semangat kolaborasi budaya, mengangkat karya lokal, dan menunjukkan bahwa fashion Indonesia memiliki tempat istimewa di hati generasi baru.

Dalam lanskap beauty, Vicky Kosasie menghadirkan definisi yang lebih luas. Ia bukan hanya wajah cantik di atas panggung, tetapi seorang seniman kontemporer dengan latar pendidikan dari Central Saint Martins dan Royal College of Art. Perspektif global ini membentuk visinya tentang kecantikan sebagai ekspresi identitas, keberanian, dan kesadaran sosial.
Melalui inisiatif “kemBALIkeSENI”, Vicky Kosasie aktif mendukung seniman lokal, menghidupkan kembali ruang-ruang kreatif yang berakar pada tradisi namun terbuka pada eksplorasi baru. Dalam konteks ini, beauty tidak lagi berhenti pada tampilan luar, tetapi menjelma sebagai kekuatan untuk merawat dan merayakan budaya.
Jejak seni juga mengalir kuat dari keluarga. Ibunya, Ratih Soe Kosasie, dikenal sebagai master teacher tari tango Argentina di Indonesia. Latar belakang ini memperkaya sensibilitas artistik Vicky Kosasie menggabungkan disiplin, ekspresi, dan keberanian tampil di panggung internasional. Kolaborasi keluarga dengan Adicipta Paundrakarna Production turut memperkuat jejaring kreatif yang kini menjadi bagian dari perjalanan Vicky Kosasie.
Perjalanan Vicky Kosasie selaku Putri Indonesia mewakili Bali menuju Putri Indonesia 2026 bukan sekadar kompetisi kecantikan. Ini adalah perjalanan budaya di mana fashion menjadi artefak, beauty menjadi narasi, dan perempuan menjadi pusat perubahan. Dari catwalk latihan hingga panggung nasional, Vicky Kosasie membawa satu pesan kuat bahwa kecantikan Indonesia adalah tentang keberanian merawat akar, sekaligus melangkah ke masa depan. (fathur; foto dpp)