Tumbal Proyek, Horor Folklore Mitos Suramadu Terungkap

Film Tumbal Proyek angkat mitos Suramadu, kisah tumbal manusia, horor emosional tentang kehilangan dan trauma di balik proyek jembatan megah

Tumbal Proyek, Horor Folklore Mitos Suramadu Terungkap

Indonesiasenang-, Rumor tentang tumbal dalam proyek pembangunan besar bukanlah hal baru di Indonesia. Ia hidup dari bisik-bisik, cerita turun-temurun, hingga menjadi bagian dari folklore urban yang sulit dipisahkan dari ingatan kolektif masyarakat. Kini, mitos itu menemukan bentuk barunya dalam film Tumbal Proyek, karya terbaru rumah produksi Dee Company, yang resmi merilis trailer perdananya di Metropole XXI, Jakarta, Kamis (23/04/2026).

Dalam cuplikan singkat tersebut, nuansa horor terasa pekat sejak awal. Bukan sekadar menampilkan sosok menyeramkan, film ini justru menggali sisi gelap pembangunan Jembatan Surabaya–Madura atau Jembatan Suramadu yang selama ini lekat dengan cerita hilangnya nyawa secara misterius. Kisah yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut, kini diangkat menjadi narasi sinematik yang lebih dalam dan emosional.

Diungkapkan oleh Produser Dheeraj Kalwani, bahwa sejak awal, film ini memang dirancang untuk menghadirkan ulang fase sebelum jembatan tersebut diresmikan, sebuah periode yang jarang terekspos, namun sarat cerita.

“Film ini bercerita tentang masa ketika Suramadu masih dalam tahap pembangunan. Karena itu, kami harus menciptakan ulang visualnya, termasuk membangun replika jembatan dengan teknologi CGI. Proses ini membutuhkan biaya besar, tapi penting untuk menjaga keaslian cerita”, kata Dheeraj Kalwani.

Pendekatan visual tersebut menjadi fondasi penting untuk menghidupkan atmosfer cerita sebuah ruang di mana realitas konstruksi bertemu dengan bayang-bayang mitos yang tak kasatmata.

Di tangan sutradara Jeropoint, Tumbal Proyek tidak hanya berdiri sebagai film horor, tetapi juga sebagai eksplorasi rasa takut yang lebih intim. Ia menyebut bahwa horor yang ingin dibangun bukan sekadar kejutan visual, melainkan pengalaman emosional yang mampu “menarik” penonton masuk ke dalamnya.

“Saya ingin membuat horor yang bisa dinikmati secara berbeda. Bukan hanya menakutkan, tapi juga membuat penonton larut dan merasakan adrenalin yang sama seperti saat mereka menonton film horor”, ungkap Jeropoint.

Namun, kekuatan utama film ini justru terletak pada lapisan dramanya. Di balik mitos tumbal dan teror yang menghantui proyek pembangunan, tersimpan kisah kehilangan yang tak pernah selesai. Film ini menyoroti penderitaan keluarga yang kehilangan anggota mereka di area proyek, tanpa kejelasan nasib, bahkan tanpa kesempatan untuk menguburkan dengan layak.

Dari titik inilah horor dalam Tumbal Proyek tumbuh, bukan hanya dari makhluk tak kasatmata, tetapi dari luka batin yang terus hidup. Trauma yang tak terselesaikan menjadi sumber ketakutan yang lebih dalam, menjadikan film ini sebagai perpaduan antara horor, misteri, dan drama keluarga.

Cerita berpusat pada Yuda, yang diperankan oleh Kiesha Alvaro. Ia nekat menyusup ke dalam proyek pembangunan demi mencari jawaban atas hilangnya sang ayah. Meski mendapat penolakan dari ibunya (Karina Suwandi) dan adiknya (Callista Arum), Yuda tetap melangkah, didorong oleh keyakinan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, sebuah rahasia tentang tumbal manusia di balik megahnya proyek tersebut.

Perjalanan Yuda menjadi pintu masuk bagi penonton untuk menelusuri misteri yang selama ini hanya menjadi legenda. Berlatar di perbatasan Surabaya dan Madura, film ini membawa audiens menyusuri ruang-ruang gelap antara fakta dan kepercayaan, antara realitas dan folklore.

Menariknya, Jeropoint menegaskan bahwa film ini tidak merujuk pada karya horor luar negeri. Teror yang dihadirkan dibangun dari konteks budaya lokal, termasuk cara masyarakat memaknai kematian, kehilangan, dan hal-hal yang tak terjelaskan.

“Secara kultur kita berbeda. Proses terornya juga berbeda. Semua kami adaptasi dari kebutuhan cerita yang kami rancang sejak awal”, jelas Jeropoint.

Dengan pendekatan tersebut, Tumbal Proyek berpotensi menjadi lebih dari sekadar tontonan horor. Ia adalah refleksi tentang bagaimana mitos hidup di tengah masyarakat, tentang bagaimana rasa kehilangan bisa berubah menjadi ketakutan, dan tentang bagaimana sesuatu yang tak terlihat sering kali terasa lebih nyata daripada yang kasatmata.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026, membawa serta harapan baru bagi genre horor lokal yang tak hanya menegangkan, tetapi juga menyentuh sisi terdalam emosi penontonnya. (satria; foto tcs)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.