Indonesiasenang-, Dedikasi seorang aktor kerap diuji bukan hanya oleh kedalaman emosi, tetapi juga oleh batas fisik yang harus ditembus. Itulah yang dilakukan Luna Maya saat menjalani syuting film horor Lebaran 2026, SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa. Di tengah arus deras sungai dan medan berbatu tajam, Luna Maya membuktikan bahwa totalitas bukan sekadar slogan promosi, melainkan pilihan sadar seorang aktris terhadap profesinya.
Adegan yang kini ramai diperbincangkan itu memperlihatkan Suzzanna terseret arus sungai deras. Namun di balik layar, adegan tersebut nyaris menjadi pengalaman paling ekstrem dalam karier Luna Maya. Tanpa stunt double, ia turun langsung ke sungai dengan wig, prostetik, dan kostum berat yang membalut tubuhnya.
Lokasi syuting berada di Sungai Citumang, sungai seluas 6,6 hektar yang dikenal memiliki arus kuat dan bebatuan alami. Dalam video behind the scene yang dirilis oleh Soraya Intercine Films, terlihat derasnya aliran air yang bahkan membuat kru harus siaga di beberapa titik pengamanan.
Meski seluruh standar keselamatan telah diterapkan dan tim stunt profesional disiapkan, situasi berubah menegangkan ketika Luna Maya benar-benar tenggelam lebih lama dari yang diperkirakan.
“Kena arus air di dalam, tergulung. Pas aku mau naik ke permukaan, malah aku tertarik semakin dalam lagi. Belum lagi tertabrak batu, terminum air juga, ditambah wig dan make up prostetik yang berat”, kenang Luna Maya.
Dalam momen tersebut, kepanikan nyaris mengambil alih. Namun Luna Maya memilih strategi yang tak hanya menyelamatkan adegan, tetapi juga dirinya sendiri, ia melemaskan tubuh agar tidak kehabisan tenaga dan napas. Seusai pengambilan gambar, ia terlihat beberapa kali menggunakan tabung oksigen untuk menstabilkan pernapasan.
“Wah, ini pengalaman yang seru sekali”, ujar Luna Maya, terdengar ringan, meski jelas adegan itu bukan perkara sederhana.
Bagi Luna Maya, ini adalah kali ketiga ia memerankan karakter legendaris Suzzanna dalam waralaba horor ikonik Indonesia. Nama Suzzanna sendiri bukan sekadar karakter, melainkan simbol dalam sejarah perfilman nasional, sosok figur perempuan mistis dengan aura tragedi dan kekuatan.
Di film ini, Suzzanna diceritakan dicintai oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam dan haus kekuasaan. Ketika ayah Suzzanna disantet hingga tewas, dendam membawanya mempelajari ilmu hitam. Namun perjalanan balas dendam itu menjadi kompleks ketika ia jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), pria religius yang tak mengetahui rahasia kelamnya.
Konflik batin antara dendam dan cinta menjadi lapisan emosional yang memperkaya horor film ini. Dan bagi Luna Maya, tantangannya bukan hanya soal adegan fisik ekstrem, tetapi juga menjaga kedalaman psikologis karakter yang hidup di antara luka, amarah, dan kerinduan akan cinta.
Di luar layar, keberanian Luna Maya melakukan adegan berisiko tanpa pemeran pengganti mencerminkan gaya hidup profesional yang disiplin dan penuh komitmen. Dalam industri film yang semakin kompetitif, totalitas menjadi pembeda antara sekadar tampil dan benar-benar menghidupkan karakter.
Film ini juga menjadi satu-satunya proyek layar lebar Luna Maya pada 2026, sebuah pilihan yang menunjukkan fokus dan kurasi ketat terhadap karya. Ia tidak hanya menjaga citra sebagai ikon horor modern, tetapi juga mempertahankan kualitas performa yang konsisten.
Dalam lanskap film horor Indonesia yang terus berkembang, SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa bukan hanya menawarkan teror supranatural, melainkan juga potret dedikasi seorang aktris yang rela “tenggelam” demi keutuhan cerita.
Di balik kabut mistis dan dendam yang membara, ada satu hal yang nyata, totalitas Luna Maya bukan ilusi layar lebar, ia benar-benar menyelam ke dalamnya. (triyadi; foto hsif)