Indonesiasenang-, Press Screening & Press Conference film “Senin Harga Naik” di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (3/3/2026), terasa seperti reuni keluarga besar. Bukan hanya karena deretan pemain lintas generasi yang hadir, tapi karena energi hangat yang langsung terasa bahkan sebelum film diputar.

Diproduksi oleh Starvision yang tahun ini memasuki 31 tahun perjalanan berkarya dan berkolaborasi dengan Legacy Pictures, film ini hadir setelah kesuksesan blockbuster Komang yang menembus lebih dari tiga juta penonton. Kali ini, mereka kembali dengan pendekatan berbeda, drama keluarga yang intim, dekat, dan sangat relevan dengan dinamika generasi masa kini.

“Senin Harga Naik” mengisahkan Mutia (Nadya Arina), perempuan muda ambisius yang memilih pergi dari rumah demi membuktikan dirinya mampu sukses tanpa bayang-bayang keluarga. Namun takdir membawanya kembali ke rumah dan ke toko roti legendaris “Mercusuar” milik sang ibu, Retno (Meriam Bellina).

Ironisnya, kepulangan Mutia bukan untuk berdamai, melainkan untuk melobi ibunya agar menjual toko roti tersebut demi proyek properti tempatnya bekerja. Dari situlah drama berlapis dimulai: pertentangan nilai, perbedaan definisi bahagia, hingga luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.

Disutradarai oleh Dinna Jasanti dan ditulis oleh Rino Sarjono, film ini diproduseri Chand Parwez Servia yang menekankan pentingnya momentum Lebaran sebagai ruang refleksi keluarga.

“Lebaran adalah momen sangat penting untuk menghadirkan film terbaik. Momen di mana kita berkumpul kembali dengan keluarga, dan semoga Senin Harga Naik bisa menghangatkan hati untuk mau saling memaafkan”, kata Chand Parwez.

Selama pemutaran perdana untuk media, suasana studio beberapa kali diwarnai tawa ringan, terutama dari adegan-adegan keluarga yang terasa begitu nyata. Namun tak sedikit pula yang terisak ketika konflik Mutia dan Retno mencapai titik emosional.

Diakui oleh Dinna Jasanti, bahwa kisah ini memiliki kedekatan personal baginya. Baginya, rumah bukan sekadar tempat, melainkan ruang penuh memori. Toko roti Mercusuar dalam film ini tak hanya menjadi latar, tetapi simbol warisan, harga diri, dan cinta yang sering kali disalahpahami.

Interior toko roti ditampilkan hangat, klasik, dan sentimental, seolah menjadi karakter tersendiri yang menggerakkan emosi setiap tokohnya. Aroma roti, meja kayu tua, hingga etalase kaca menjadi metafora kenangan yang sulit dilepas.

Diungkapkan oleh Nadya Arina, bahwa memerankan Mutia memberinya refleksi personal tentang cara berkomunikasi dengan orang tua. “Semakin dewasa, ada perubahan cara komunikasi dengan orang tua. Sering terjadi kesalahpahaman. Film ini ngajarin aku untuk lebih memahami dan menyayangi keluarga”, ujarnya.

Sementara Meriam Bellina menyoroti sisi orang tua yang kerap dianggap keras, padahal dilandasi rasa takut kehilangan. “Biasanya saat kehilangan kita baru sadar betapa berharganya kebersamaan itu. Di film ini saya hanya ingin dekat dengan anak-anak, tapi cara saya mungkin membuat mereka menjauh. Namun selalu ada kesempatan untuk memperbaiki”, tuturnya.

Lebih dari sekadar drama, “Senin Harga Naik” menawarkan pengalaman lifestyle yang relevan dengan keluarga modern Indonesia: anak yang mengejar karier di kota besar, orang tua yang mempertahankan nilai tradisi, dan jurang komunikasi yang kerap tak terlihat.

Film ini menjadi pengingat bahwa “maaf” bukan hanya kewajiban anak kepada orang tua, tetapi juga sebaliknya. Bahwa pulang bukan berarti kalah. Dan bahwa rumah, betapapun kerasnya konflik selalu menyimpan ruang untuk kembali.

Film Senin Harga Naik dibintangi Nadya Arina, Meriam Bellina, Andri Mashadi, Nayla Purnama, Givina, Adam Xavier, Brandon Salim, Nungki Kusumastuti, Hamish Daud, Aci Resti, Arif Alfiansyah, Razan Zu, Rianti Cartwright, Restu Sinaga, Annisa Hertami, Dayu Wijanto, Reynavenzka, Hifdzi Khoir, Devy Anastasia, Lolox, Inyok, Violeta Ekanjani, Chika Waode, Maryam Lin, Jordan Omar, Mikhaila Zeline, Ashraf Dirgham, dan lain-lain.

Dengan deretan pemain lintas generasi dan lapisan konflik mulai dari relasi ibu-anak, mertua-menantu, hingga keras kepala dua generasi, “Senin Harga Naik” hadir sebagai drama keluarga yang lengkap: hangat, pahit, sekaligus menyembuhkan.

Lebaran 2026 tampaknya tak hanya akan diisi dengan ketupat dan silaturahmi, tetapi juga momen duduk bersama di bioskop menyaksikan kisah yang mungkin terlalu dekat dengan kehidupan kita sendiri. Dan mungkin, setelah lampu studio menyala, akan ada pesan singkat yang terkirim ke orang tua, “Maaf ya”. (ridho; foto hs)