Tantangan Film Musikal di Indonesia, dari Produksi hingga Menjaga Minat Penonton

Diskusi film musikal membahas tantangan produksi, pendanaan, minat penonton, serta potensi musik sebagai media hiburan dan pendidikan anak

Tantangan Film Musikal di Indonesia, dari Produksi hingga Menjaga Minat Penonton

Indonesiasenang-, Film musikal Indonesia masih menghadapi tantangan untuk berkembang di tengah dominasi genre horor, drama, dan komedi. Meski demikian, genre yang memadukan akting, musik, vokal, serta koreografi tersebut dinilai tetap memiliki ruang untuk berkembang, termasuk sebagai medium hiburan sekaligus pendidikan bagi anak.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Diskusi Film Musikal bertajuk “Tantangan Film Musikal di Indonesia”, yang digelar di PFN Heritage, Jalan Otista Raya No. 125–127, Jakarta Timur, Senin (24/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 – Pekan Diskusi Film Indonesia yang diselenggarakan PT Avatara Lintas Media. Diskusi menghadirkan aktris sekaligus pendidik anak Yessy Gusman, Produser Eksekutif film Sahabat Anak Herty P. Purba, serta artis cilik sekaligus ventriloquist Afsheena Zerina Sofialdin. Diskusi dipandu produser dan penulis TV Rani Oktavia.

Pembahasan tidak hanya menyoroti perkembangan film musikal dari sisi kreatif, tetapi juga tantangan produksi, pembiayaan, karakteristik penonton, hingga potensi film musikal sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia.

Perkembangan film musikal di Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan genre yang lebih dominan di pasar, khususnya horor, drama percintaan, dan komedi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi sineas maupun produser yang ingin mengembangkan film musikal. Jumlah produksi memang mulai mengalami perubahan, begitu pula dengan kualitasnya, tetapi pertumbuhan genre ini belum sebanding dengan tingginya produksi film dari genre lain.

Salah satu persoalannya adalah karakteristik penonton Indonesia yang masih lebih banyak memilih film drama, horor, dan komedi. Kondisi itu berpengaruh terhadap tingkat keuntungan film musikal dan akhirnya berdampak pada keberanian investor untuk membiayai produksi berikutnya.

Produksi film musikal juga membutuhkan biaya yang relatif kompleks. Selain pemain dan kru film, produksi melibatkan musisi, penata koreografi, penari, hingga kebutuhan kostum yang beragam. Ketika pendapatan sebuah film tidak sebanding dengan biaya produksinya, ruang bagi produser untuk kembali mengembangkan film musikal menjadi semakin terbatas.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, film musikal tetap memiliki peluang karena musik memiliki kekuatan untuk menyampaikan emosi dan pesan secara berbeda.

Dikatakan oleh Herty P. Purba, bahwa  film musikal tidak seharusnya menjadikan lagu sekadar selingan atau soundtrack. Musik harus menjadi bagian integral dari cerita. “Cerita dan musik harus menjadi satu kesatuan. Setiap lagu harus memiliki fungsi dalam cerita, baik untuk memperkenalkan karakter, menyampaikan konflik, membangun emosi maupun menguatkan pesan”, jelasnya.

Konsep tersebut diterapkan dalam film Sahabat Anak, yang mengangkat persahabatan, keberanian, kasih sayang, serta hubungan antara anak dan orang tua.

Menurut Herty P. Purba, film tersebut dirancang agar dapat dinikmati dua generasi sekaligus. Anak-anak tetap mendapatkan cerita yang dekat dengan dunia mereka, sementara orang tua juga dapat menikmati film ketika mendampingi anak. “Kami ingin menghadirkan film yang tidak menggurui anak. Anak-anak diajak tertawa, bernyanyi, bermain, berimajinasi, sekaligus belajar tentang persahabatan”, ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, Yessy Gusman menekankan bahwa film musikal dan seni pertunjukan memiliki potensi besar dalam membantu perkembangan anak.

Menurut Yessy Gusman, kemampuan anak tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan nilai akademik maupun peringkat di sekolah. Setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang berbeda.

Yessy Gusman mengaitkannya dengan konsep multiple intelligences atau kecerdasan jamak yang dikembangkan Howard Gardner. Kecerdasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga musikal, kinestetik, linguistik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan kemampuan lainnya.

Film musikal dapat menjadi salah satu ruang untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut secara bersamaan. Ketika anak menghafalkan skenario dan menyampaikan dialog, terdapat kemampuan linguistik. Saat menyanyi atau memainkan musik, kemampuan musikal berkembang. Sementara ketika mengikuti gerakan dan koreografi, kemampuan kinestetik juga terasah.

“Anak-anak bisa bermain sambil belajar, mengembangkan keberanian, sekaligus menemukan kemampuan yang mereka miliki”, tegas Yessy Gusman.

Dengan pendekatan tersebut, film musikal tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga dapat menjadi media untuk mengenalkan kerja sama, kedisiplinan, keberanian tampil, kreativitas, serta kemampuan mengekspresikan diri.

Penggunaan anak sebagai pemeran utama juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam produksi film musikal. Herty P. Purba menjelaskan, pemain anak tidak hanya dituntut mampu berakting, tetapi juga harus menguasai kemampuan vokal, memahami emosi karakter, mengikuti koreografi, serta menjaga kedisiplinan selama proses produksi.

“Anak sebagai pemeran utama harus mengembangkan kemampuan akting, vokal, emosi dan kedisiplinan, sekaligus tetap menjaga dunia anak agar terasa natural”, kata Herty P. Purba.

Proses pemilihan pemain pun harus mempertimbangkan kemampuan bernyanyi, akting, dan koreografi. Perubahan usia serta kondisi fisik anak juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam proses produksi.

Pengalaman tersebut turut dirasakan Afsheena Zerina Sofialdin. Artis cilik yang dikenal sebagai ventriloquist tersebut membagikan pengalaman pertamanya terlibat dalam produksi film musikal Sahabat Anak.

Berbeda dengan penampilan ventriloquist yang selama ini dijalaninya, bermain dalam film musikal membuat Afsheena harus memahami karakter, menghafalkan dialog, mengikuti arahan sutradara, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan adegan musikal.

Keterlibatannya menjadi contoh bahwa pengalaman di dunia pertunjukan dapat menjadi pintu bagi anak untuk mengembangkan kemampuan di bidang kreatif lainnya.

Salah satu pendekatan kreatif yang dilakukan Sahabat Anak adalah menghadirkan kembali lagu-lagu anak karya Pak Kasur dengan izin penggunaan yang telah diperoleh pihak produksi.

Herty menilai lagu-lagu tersebut memiliki kesederhanaan sekaligus pesan yang kuat. Lagu anak dapat menjadi bagian dari cerita untuk memperkenalkan persahabatan, bermain, berbagi, mengenal lingkungan, hingga memahami nilai kehidupan.

Sejumlah lagu dalam film ditempatkan untuk membuka cerita, menggambarkan cita-cita, memperkuat konflik emosional, memperdalam hubungan antarkarakter, hingga menyampaikan pesan utama pada bagian penutup.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa musik dalam film musikal dapat berfungsi lebih jauh daripada sekadar hiburan. Musik dapat menjadi bahasa cerita yang membantu karakter menyampaikan perasaan maupun pesan yang sulit disampaikan melalui dialog biasa.

Diskusi “Tantangan Film Musikal di Indonesia” menjadi ruang bertukar pengalaman antara pelaku industri, pendidik, dan generasi muda mengenai masa depan film musikal Indonesia.

Di tengah persaingan genre film yang semakin beragam, film musikal membutuhkan strategi kreatif sekaligus dukungan ekosistem industri agar dapat berkembang. Tantangannya bukan hanya menghadirkan cerita yang menarik, tetapi juga memastikan musik benar-benar menyatu dengan cerita dan mampu menjangkau penonton.

Melalui film seperti Sahabat Anak, genre musikal juga menunjukkan peluang untuk menyatukan hiburan, pendidikan, dan pengalaman keluarga dalam satu karya.

Pada akhirnya, keberlanjutan film musikal Indonesia tidak hanya bergantung pada jumlah produksinya, tetapi juga kemampuan industri menciptakan karya yang memiliki identitas, kualitas, nilai hiburan, serta alasan kuat bagi penonton untuk kembali memilih film musikal di layar lebar.

Rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 sendiri dirancang untuk memberikan wawasan dan pengalaman praktis kepada peserta mengenai proses kreatif, produksi, serta perkembangan film musikal melalui diskusi bersama para pelaku industri. (satria; foto tcs)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.