Eros untuk Indonesia, Seni sebagai Surat Cinta Negeri

Pameran Eros untuk Indonesia menghadirkan lukisan, instalasi, dan performance sebagai refleksi cinta, kritik, serta harapan bagi negeri

Eros untuk Indonesia, Seni sebagai Surat Cinta Negeri

Indonesiasenang-, Mencintai Indonesia tidak selalu harus diwujudkan melalui kata-kata besar. Sebuah lukisan, instalasi, desain, maupun performance dapat menjadi cara lain untuk menyampaikan rasa cinta, kegelisahan, kritik, bahkan harapan terhadap negeri.

Gagasan itulah yang menjadi napas pameran “Surat Cinta untuk Negeri dan Eros untuk Indonesia” yang akan digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di Sancaka Art Spice, Cinere Bellevue Mall, Depok.

Melalui catatan kuratorial Bambang Asrini, pameran ini mencoba menghadirkan Indonesia dari perspektif yang lebih intim. Negeri tidak dilihat sebagai simbol yang jauh dan abstrak, tetapi sebagai ruang tempat manusia mengalami kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terdapat ingatan, kebanggaan, kehilangan, konflik, kekecewaan, sekaligus harapan yang terus tumbuh.

“Surat Cinta untuk Negeri” menjadi metafora utama dalam pameran tersebut. Sebuah surat cinta tidak selalu lahir dari kebahagiaan. Surat dapat ditulis ketika seseorang merindukan sesuatu, merasa kehilangan, ingin menyampaikan kegelisahan, atau bahkan ketika kecewa.

Karena itu, cinta kepada Indonesia dalam pameran ini tidak ditempatkan sebagai perasaan yang harus selalu menghasilkan pujian. Sebaliknya, cinta justru dapat menjadi alasan untuk mempertanyakan keadaan.

Ketika seseorang masih peduli, ia akan merasa perlu bertanya mengapa ketidakadilan terjadi, mengapa persoalan tertentu terus berulang, atau mengapa sesuatu yang seharusnya diperbaiki justru dibiarkan. Dalam konteks tersebut, karya seni menjadi bahasa alternatif untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lukisan tidak hanya menjadi objek visual. Instalasi bukan sekadar benda yang mengisi ruang. Performance bukan hanya pertunjukan. Semuanya dapat menjadi cara seniman menyusun kembali pengalaman personal menjadi percakapan yang lebih luas mengenai Indonesia.

Catatan kuratorial Bambang Asrini menempatkan ingatan kolektif sebagai salah satu bagian penting dalam membaca negeri. Indonesia bukan hanya sejarah yang tertulis dalam buku atau simbol yang hadir dalam upacara kenegaraan.

Indonesia juga terdapat dalam benda-benda yang kita gunakan, jalan yang kita lewati, ruang publik yang kita datangi, hubungan antarmanusia, percakapan sehari-hari, hingga pengalaman kecil yang sering dianggap tidak penting.

Melalui seni, pengalaman tersebut dapat memperoleh bentuk baru. Seorang seniman mengambil sesuatu yang mungkin sangat personal, mengolahnya menjadi karya, lalu menyerahkannya kepada publik untuk ditafsirkan.

Pada titik itulah karya seni tidak lagi sepenuhnya menjadi milik penciptanya. Ia menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman seniman dan pengalaman penonton.

Bambang Asrini juga membawa pembacaan terhadap tradisi sastra sufistik Melayu, khususnya metafora musafir dalam Syair Dagang yang dikaitkan dengan Hamzah Fansuri.

Musafir menggambarkan manusia yang berada dalam perjalanan panjang untuk menemukan jalan pulang. Metafora itu dapat dibaca sebagai gambaran perjalanan Indonesia yang juga belum selesai.

Sebagai bangsa, Indonesia membawa begitu banyak warisan sejarah. Ada keberhasilan dan kebanggaan, tetapi juga konflik, luka, kesalahan, dan persoalan yang belum menemukan penyelesaian.

Dalam perjalanan semacam itu, “pulang” tidak selalu berarti kembali ke sebuah tempat. Pulang dapat dimaknai sebagai perjalanan menuju kesadaran dan nurani. Pemikiran tersebut kemudian bersinggungan dengan Serat Wedhatama karya Sri Mangkunegara IV yang menekankan pentingnya laku hidup dan kesadaran batin.

Pesannya menjadi relevan ketika manusia kerap sibuk menilai orang lain, masyarakat, bahkan negara, tetapi lupa melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Sementara itu, istilah Eros dalam judul pameran memperluas pembicaraan mengenai cinta. Cinta tidak hanya dilihat sebagai perasaan romantis, tetapi sebagai energi yang mendorong manusia untuk melekat, bertahan, merawat, dan terus mencari hubungan dengan sesuatu yang dianggap penting.

Gagasan tersebut kemudian berkelindan dengan Amor Fati, konsep yang dapat dimaknai sebagai mencintai takdir. Namun mencintai takdir bukan berarti menerima keadaan tanpa sikap kritis.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, manusia memang tidak dapat memilih seluruh sejarah yang telah terjadi. Masa lalu tidak dapat dihapus. Kesalahan yang sudah berlangsung tidak dapat begitu saja dikembalikan ke titik awal. Tetapi manusia masih memiliki pilihan mengenai bagaimana meresponsnya.

Karena itu, mencintai Indonesia dapat berarti berani menerima kenyataan sekaligus berusaha memperbaikinya. Kekecewaan tidak harus menjadi alasan untuk meninggalkan kepedulian. Sebaliknya, kekecewaan dapat menjadi energi untuk mencari jalan lain.

Pameran ini juga menempatkan seni sebagai salah satu bentuk respons manusia terhadap tantangan zaman. Mengacu pada gagasan Arnold J. Toynbee tentang challenge and response, sebuah masyarakat menghadapi tantangan dan kemudian mencari cara untuk meresponsnya.

Seni dapat menjadi salah satu bentuk respons tersebut. Ia tidak selalu memberikan jawaban langsung. Bahkan karya seni mungkin tidak memiliki jawaban sama sekali. Namun karya dapat menimbulkan pertanyaan.

Seorang pengunjung mungkin berdiri di depan sebuah lukisan selama beberapa menit, lalu meninggalkan ruang pamer dengan satu pertanyaan yang terus terbawa pulang.

Mengapa karya itu membuat saya merasa demikian?

Mengapa saya baru melihat persoalan tersebut sekarang?

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar saya?

Pertanyaan sederhana semacam itu dapat menjadi awal dari kesadaran.

“Surat Cinta untuk Negeri dan Eros untuk Indonesia” pada akhirnya bukan sekadar pameran yang mempertemukan berbagai karya seni. Pameran ini menjadi ruang untuk membicarakan kembali hubungan manusia dengan negeri yang ditinggalinya. Karya menjadi bahasa. Ruang pamer menjadi tempat percakapan. Sementara pengunjung menjadi bagian dari percakapan tersebut.

Indonesia tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang sempurna. Sebaliknya, Indonesia hadir sebagai negeri yang sedang berjalan, membawa kebanggaan sekaligus luka, membawa harapan sekaligus persoalan. Dalam perspektif tersebut, surat cinta kepada negeri tidak harus berisi pujian. Ia dapat berisi kritik, kegelisahan, kesedihan, kemarahan, bahkan pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Justru karena belum selesai, surat itu masih dapat ditulis kembali.

Melalui pameran yang berlangsung di Sancaka Art Spice, Cinere Bellevue Mall, Depok, seni diajak menjadi semacam api kecil yang menjaga kepedulian tetap menyala. Bukan api besar yang mengklaim mampu menerangi seluruh negeri, melainkan cahaya kecil yang cukup untuk membuat seseorang berhenti, melihat sekeliling, kemudian menyadari bahwa Indonesia masih menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan.

Sebab mencintai negeri bukan berarti menganggap semuanya sempurna. Mencintai Indonesia berarti tetap peduli ketika melihat ada sesuatu yang perlu diperbaiki. (prayogi; foto hscne)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.