Indonesiasenang-, JAKARTA – Pianis Uruguay Mariana Airaudo tampil di Auditorium Gedung Yamaha Music Center, Jakarta, pada 21 Agustus 2026. Dalam konser tersebut, Mariana berkolaborasi dengan soprano muda Indonesia Ratnaganadi Paramita, pemenang Ananda Sukarlan Award 2025, dengan membawakan sejumlah karya komponis Uruguay serta karya baru komponis Indonesia Ananda Sukarlan. Antusiasme dan sambutan hangat nampak dari para tamu yang memenuhi auditorium.
Penampilan ini merupakan bagian dari kunjungan Mariana Airaudo ke Indonesia atas undangan Kedutaan Besar Uruguay di Jakarta. Konser tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan seni dan diplomasi budaya antara Indonesia dan Uruguay melalui musik klasik.

Salah satu momen utama konser adalah pertunjukan perdana Three Uruguayan Poems, karya baru Ananda Sukarlan yang secara khusus diciptakan untuk kunjungan Mariana ke Indonesia. Gagasan penciptaan karya ini datang dari Duta Besar Uruguay untuk Indonesia, Cristina Gonzalez, yang menginisiasi proyek tersebut sebagai bentuk diplomasi artistik.
"Dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Uruguay, kami ingin merayakan hubungan antarmasyarakat kedua negara. Musik merupakan salah satu cara yang sangat baik untuk mewujudkannya. Karena itu, kami memilih musik sebagai sarana untuk merayakan persahabatan antara Uruguay dan Indonesia." Jelas Cristina Gonzalez.
Karya tersebut terdiri atas tiga puisi Uruguay, yakni Angustia dan Te Doy Mi Alma Desnuda karya Juana de Ibarbourou serta Hombre que Mira Su País desde el Exilio karya Mario Benedetti.
Ananda memilih suprano Ratnaganadi Paramita untuk membawakan karya tersebut bersama Mariana. Prosesnya menuntut kemampuan artistik sekaligus penguasaan fonetik dan nuansa bahasa Spanyol Uruguay yang memiliki karakter tersendiri.
"Ini tantangan buat saya karena saya terbiasa membawakan lagu berbahasa Indonesia, namun kali ini harus bisa membawakan bahasa Spanyol. Kami sama-sama banyak belajar, dengan waktu yang terbatas. Saya baru bertemu langsung dengan Mariana sehari sebelum kami tampil. Namun untuk latihan sebelumnya sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. " Ungkap Ratnaganadi usai tampil.

Selain karya baru tersebut, Mariana dan Ratnaganadi juga membawakan Sepanjang Prawirotaman, karya Ananda yang diangkat dari puisi Kurnia Effendi dan terinspirasi kawasan Prawirotaman di Yogyakarta. Pemilihan karya ini menjadi bagian dari pertukaran budaya dalam rangkaian kunjungan sang pianis. Unsur nada gamelan yang dituangkan dalam alunan piano membuat penampilan kali ini sangat spesial.
Saat ditanya bagaimana perasaannya pada pertunjukan kali ini, Mariana mengaku sangat bersemangat.
''Semuanya berjalan dengan baik, tidak ada kesulitan dan saya sangat senang berada di sini."
Dalam konser Jakarta, Mariana juga memainkan karya komponis Uruguay, antara lain Beatriz Lockhart, César Cortinas, Eduardo Fabini, Carlos Giucci, Gerardo Matos Rodríguez, Agustín Urbina, dan Carlos Weiske. Pertunjukan ditutup dengan karya komponis Argentina yang sangat dikenal dalam musik Amerika Selatan, Astor Piazzolla.

Sebelumnya Berkunjung ke Yogyakarta
Sebelum tampil di Jakarta, Mariana terlebih dahulu mengunjungi Yogyakarta. Setelah tiba di Jakarta pada 14 Agustus, ia melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta pada 15 Agustus untuk memberikan masterclass selama tiga hari kepada mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan konser bersama mahasiswa ISI. Dua mahasiswi vokal klasik yang terlibat adalah Monica Cintia Christy dan Mathilda Ave Mariyorie, mahasiswa dari dosen vokal Ika Sri Wahyuningsih, M.Sn.
Melalui karya-karyanya, Ananda turut memperkenalkan sastra Indonesia ke panggung internasional. Kolaborasi Mariana Airaudo dan Ratnaganadi Paramita di Jakarta pun menjadi contoh bagaimana musik dapat menjadi jembatan diplomasi sekaligus mempererat hubungan Indonesia dan Uruguay. (kintan)