Indonesiasenang-, Ramadan selalu datang dengan ritmenya sendiri. Ada aroma sahur yang menguar dari dapur, ada detik-detik menunggu azan magrib, dan ada kehangatan tradisi yang terus berulang dari tahun ke tahun. Namun bagi Wulan Sadeva, Ramadan 1447 Hijriah terasa berbeda, lebih sunyi, lebih dalam, dan terasa seperti sebuah perjalanan spiritual yang personal.
Bukan sekadar menjalani ibadah puasa sebagai rutinitas tahunan, Wulan Sadeva merasakan bulan suci kali ini sebagai sebuah spiritual journey yang perlahan membuka ruang refleksi dalam dirinya.
“Ramadan kali ini terasa seperti perjalanan pulang ke diri sendiri”, ungkap Wulan Sadeva.
Di tengah hari-hari puasa yang berjalan perlahan, Wulan Sadeva menemukan momen-momen hening yang sebelumnya jarang ia rasakan. Saat sahur yang sunyi, menjelang waktu berbuka, atau bahkan di malam hari ketika dunia terasa lebih tenang, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda, sebuah kesempatan untuk benar-benar “bertemu” dengan dirinya sendiri.
Bukan versi dirinya yang sibuk dengan dunia luar, tetapi versi yang lebih jujur dan lebih sadar. “Di momen-momen itu, aku mulai melihat diriku dengan lebih jelas, tanpa distraksi”, tutur Wulan Sadeva.

Ramadan, bagi Wulan Sadeva seolah memberi ruang untuk berhenti sejenak dari kebisingan kehidupan. Dari tuntutan yang tak pernah berhenti, dari distraksi yang selama ini tanpa sadar memenuhi hari-harinya. Ia memperlambat langkah. Mendengarkan lebih dalam. Merasakan setiap emosi yang datang.
Kesadaran tentang apa yang sebenarnya Wulan Sadeva rasakan, tentang hal-hal yang selama ini mungkin ia hindari, dan tentang banyak hal kecil yang ternyata begitu penting namun kerap terabaikan. Refleksi semacam itu tidak selalu terasa nyaman. Kadang justru membuka lapisan-lapisan perasaan yang selama ini tersimpan rapat.
Namun bagi Wulan Sadeva, dari situlah muncul pencerahan, bukan pencerahan yang besar dan dramatis, melainkan sebuah quiet awakening yang lembut namun kuat. “Bukan perubahan besar, tapi seperti memahami diri sendiri sedikit lebih baik dari sebelumnya”, katanya.
Perjalanan spiritual itu kemudian bermuara pada makna Idulfitri yang ia rasakan tahun ini. Lebaran, bagi Wulan Sadeva, bukan sekadar perayaan tahunan dengan hidangan khas atau tradisi berkumpul bersama keluarga. Ia melihatnya sebagai sebuah titik pulang.
Bukan hanya pulang ke rumah, tetapi pulang kepada diri sendiri. “Coming home, not just to a place, but to who I truly am”, ujar Wulan Sadeva.
Di titik itu, Wulan Sadeva merasakan dirinya menjadi lebih tenang, lebih hadir dalam setiap momen, dan lebih jujur terhadap apa yang ia rasakan. Ramadan mungkin tidak membuatnya merasa menjadi orang yang sepenuhnya baru. Namun ada sesuatu yang berubah: cara ia melihat hidup, cara ia merasakan, dan cara ia memahami perjalanan dirinya.
“Maybe growth doesn’t have to be loud to be real”, ucap Wulan Sadeva pelan.
Refleksi spiritual itu juga membawanya pada makna berbagi yang lebih luas. Pada Ramadan kali ini, Wulan Sadeva memilih untuk menyalurkan bantuan amal kepada mereka yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung hingga ke luar kota.
Bagi Wulan Sadeva, kebaikan tidak selalu harus berada dalam lingkaran terdekat. Charity, menurutnya, adalah tentang menjangkau lebih jauh dari yang bisa kita lihat. “Giving, in its purest form, reaching beyond my own circle”, ungkapnya.
Dan dari perjalanan spiritual selama Ramadan ini, Wulan Sadeva merasa belajar satu hal sederhana namun mendalam: bahwa makna Lebaran sesungguhnya bukan hanya tentang kembali, tetapi juga tentang menyadari dan berbagi. Sebuah perjalanan pulang yang tidak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi terasa nyata di dalam hati. (fathur; foto dws)