Indonesiasenang-, Kota Solo kembali bersiap menjadi panggung budaya berskala internasional lewat gelaran Solo Menari 2026. Festival tahunan yang masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) ini hadir dengan tema “Aku Kipas (Aha Pankha)”, merayakan semangat Hari Tari Dunia melalui kolaborasi seni, budaya, dan pariwisata yang menyatu dalam satu ruang publik.
Digelar pada 28–29 April 2026 di kawasan Balai Kota Solo dan titik nol Kota Solo, Solo Menari bukan sekadar pertunjukan tari. Ia adalah perayaan lintas budaya yang menghidupkan kota, menghadirkan ribuan penari dari berbagai daerah hingga mancanegara dalam satu harmoni gerak yang memukau.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2008, Solo Menari telah tumbuh menjadi ikon budaya di Surakarta. Tahun ini, sekitar 3.000 penari dari berbagai usia dan latar belakang akan tampil, dengan 1.500 di antaranya membentuk tarian kolosal menggunakan kipas sebagai properti utama. Sementara itu, puluhan kelompok tari dari seluruh Indonesia turut meramaikan panggung dengan ragam gaya tradisional hingga kontemporer.
Tema “Aku Kipas (Aha Pankha)” menjadi simbol kuat dalam perayaan kali ini. Kipas, yang digunakan dalam berbagai tradisi tari di dunia, dimaknai sebagai lambang kreativitas, kesejukan, serta persatuan lintas budaya. Gerakan serentak ribuan penari dengan kipas menciptakan lanskap visual yang tidak hanya artistik, tetapi juga sarat makna tentang kebersamaan.
Penggagas Solo Menari, Heru Mataya, menyebut bahwa pusat pertunjukan akan difokuskan di titik nol Kota Solo, menjadikan area Balai Kota sebagai sentral energi artistik. Ia menegaskan bahwa konsep tahun ini bukan hanya pertunjukan, tetapi juga ruang interaksi budaya melalui pameran dan workshop.
“Pengunjung akan melihat ribuan penari memakai kipas di titik nol Kota Solo. Ini bukan hanya pertunjukan, tapi juga perayaan kipas Nusantara melalui tarian, pameran, dan workshop”, kata Heru Mataya.
Lebih dari sekadar festival seni, Solo Menari 2026 juga menjadi magnet wisata budaya. Kota Solo akan dipenuhi atmosfer festival yang hangat, mulai dari sajian kuliner khas, interaksi dengan masyarakat lokal, hingga berbagai aktivitas pendukung seperti Pameran Kipas Nusantara dan Workshop Tari & Kipas.
Bagi wisatawan, pengalaman ini bisa diperluas dengan menjelajahi destinasi budaya ikonik di Solo. Kawasan batik seperti Kampung Batik Laweyan dan Pasar Klewer menawarkan kekayaan tekstil tradisional, sementara Museum Keris Nusantara menghadirkan jejak sejarah pusaka Jawa. Tak ketinggalan, kemegahan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran menjadi ruang refleksi budaya yang memperkaya perjalanan wisata.
Solo Menari 2026 membuktikan bahwa tari bukan hanya ekspresi seni, melainkan juga bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan. Di tengah riuhnya ribuan langkah yang bergerak serempak, tersimpan pesan tentang persatuan, kreativitas, dan kehidupan.
Lewat festival ini, Indonesia tidak hanya merayakan warisan budaya lokal, tetapi juga mengirimkan pesan global bahwa dari Solo, harmoni dunia bisa tercipta melalui gerak, rasa, dan cerita dalam setiap tarian. (dewa; foto bkkp)