Indonesiasenang-, Generasi Z kembali menghadirkan cara baru menikmati perjalanan wisata. Jika sebelumnya traveling identik dengan berburu spot foto populer atau menikmati keindahan alam, kini anak muda mulai melirik pasar tradisional sebagai tujuan utama perjalanan melalui tren snackpacking. Aktivitas menjelajahi dan mencicipi jajanan lokal ini pun berpotensi menjadi peluang baru bagi sektor pariwisata Indonesia.

Bukan sekadar wisata kuliner biasa, snackpacking menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan budaya lokal. Gen Z tidak lagi hanya mencari destinasi yang menarik untuk diabadikan dalam foto, tetapi juga pengalaman autentik yang mampu menghadirkan cerita di setiap perjalanan.

Pasar tradisional menjadi ruang yang menjawab kebutuhan tersebut. Interaksi dengan pedagang, aroma khas makanan lokal, hingga suasana pasar yang hidup memberikan pengalaman yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern maupun destinasi wisata mainstream.

Menariknya, tren ini juga sejalan dengan karakter Gen Z yang mengutamakan pengalaman dibanding kepemilikan. Dengan biaya yang relatif terjangkau, sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, wisatawan sudah dapat menikmati beragam jajanan khas daerah sekaligus mengenal budaya masyarakat setempat.

Tak heran apabila snackpacking semakin banyak ditemukan dalam konten media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube. Mulai dari berburu jajanan pasar legendaris, mencicipi makanan khas yang jarang ditemukan di kota lain, hingga mengeksplorasi sudut-sudut pasar tradisional yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi anak muda.

Tren ini secara tidak langsung turut membuka peluang besar bagi sektor pariwisata nasional. Pasar tradisional yang selama ini lebih dikenal sebagai pusat ekonomi masyarakat kini memiliki potensi berkembang menjadi destinasi wisata berbasis pengalaman atau experience tourism.

Di Palembang misalnya, Pasar 16 Ilir menawarkan pengalaman berburu pempek kapal selam mini, kue maksuba, lapis kojo, hingga aneka kerupuk dan kemplang khas Palembang. Lokasinya yang berdekatan dengan Sungai Musi juga memungkinkan wisatawan menikmati wisata sejarah dan budaya dalam satu perjalanan.

Sementara Pasar Santa di Jakarta menjadi contoh bagaimana pasar tradisional mampu bertransformasi menjadi ruang kreatif yang dekat dengan anak muda. Selain menikmati kuliner unik dan kekinian, wisatawan juga dapat menemukan berbagai produk kreatif lokal yang menjadikan pengalaman snackpacking lebih berwarna.

Pengalaman berbeda ditawarkan Pasar Terapung Lok Baintan di Banjarmasin. Aktivitas jual beli yang berlangsung di atas sungai menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Berbagai jajanan tradisional khas Banjar yang dijual langsung dari atas perahu menghadirkan pengalaman kuliner yang autentik dan sulit dilupakan.

Yogyakarta melalui Pasar Ngasem juga menunjukkan bagaimana wisata kuliner dapat dipadukan dengan wisata budaya. Setelah menikmati jajanan pasar dan hidangan khas seperti gudeg serta wedang, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan Taman Sari yang berada tidak jauh dari lokasi pasar.

Tak kalah menarik, Pasar Hamadi di Jayapura menghadirkan cita rasa khas Papua melalui kue sagu bakar, papeda mini, hingga kue bagea. Beragam kerajinan tangan khas Papua yang dijual di pasar tersebut juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal lebih dekat identitas budaya masyarakat setempat.

Besarnya potensi snackpacking membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengembangkan paket wisata berbasis kuliner lokal dan pasar tradisional. Tidak hanya menguntungkan pelaku usaha pariwisata, tren ini juga mampu mendorong pertumbuhan UMKM, memperkuat promosi kuliner daerah, hingga menjaga keberlangsungan pasar tradisional sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Snackpacking membuktikan bahwa wisata tidak selalu harus mahal dan mewah. Melalui perjalanan sederhana menyusuri pasar tradisional, generasi muda justru menemukan pengalaman yang lebih bermakna dan autentik. Di saat yang sama, mereka turut menjadi penggerak lahirnya wajah baru pariwisata Indonesia yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis budaya lokal. (ridho; foto bkkp)