Indonesiasenang-, Semangat pelestarian budaya, seni, dan nilai-nilai religi berpadu dalam peringatan Hari Lahir ke-66 Lesbumi NU yang digelar meriah di Rorotan, Jakarta Utara, Senin (30/03/2026). Mengusung tema “Bulan Budaya”, perayaan ini tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi penanda lahirnya ruang baru bagi kebudayaan: Pondok Budaya Rorotan.
Sejak awal acara, nuansa khas Nusantara terasa kuat. Lantunan hadroh berpadu dengan gerak tari tradisional, menghadirkan harmoni antara seni dan spiritualitas. Kehadiran Ridwan sebagai pemandu acara menambah warna tersendiri. Dengan pantun-pantun jenaka sekaligus sarat makna, ia merajut suasana menjadi hangat, akrab, dan penuh kearifan lokal.
Dalam sambutannya Masdjo Arifin selaku ketua panitia menegaskan bahwa berdirinya Pondok Budaya Rorotan merupakan ikhtiar kolektif untuk menjaga denyut budaya Betawi di tengah derasnya arus globalisasi. Baginya, budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga identitas yang harus terus dihidupkan.
“Pondok ini adalah ruang hidup, tempat budaya Betawi dirawat, dikembangkan, dan diwariskan lintas generasi,” ujar Masdjo Arifin.
Momentum sakral peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada pendiri pondok, KH. Ahmad Mukhlis Fadil. Prosesi ini bukan hanya simbol syukur, tetapi juga doa agar ruang budaya tersebut menjadi sumber keberkahan bagi masyarakat sekitar.
Perayaan semakin semarak dengan ragam pertunjukan seni. Tari Betawi dan pencak silat tampil memukau, memperlihatkan kekayaan ekspresi tubuh yang berakar dari tradisi. Sementara itu, komunitas Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara menghadirkan edukasi tentang filosofi golok sebagai simbol keberanian dan kehormatan dalam budaya lokal.
Dimensi religius turut menguat melalui penampilan tari sufi yang berpadu dengan iringan hadroh, menciptakan suasana kontemplatif. Seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai Ilahi.
Kemeriahan berlanjut saat Iwenk MJC membawakan lagu Holopis Kuntul Baris. Lagu tersebut menjadi pengingat akan semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ruh masyarakat Betawi.
Memasuki sesi refleksi, perbincangan budaya menghadirkan perspektif yang beragam. Bang Boim menyoroti dinamika seni Betawi, sementara Jamal menegaskan peran Lesbumi sebagai penjaga nilai-nilai budaya berbasis keislaman. Dari sisi media, TC 'Yayo' Sulistyo mengingatkan pentingnya jurnalisme dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
Kehadiran Syauki Asrul Sani turut memperkaya diskusi dengan refleksi historis tentang perjalanan panjang Lesbumi NU sebagai lembaga yang mengawinkan seni, budaya, dan dakwah.
Peringatan Harlah ke-66 Lesbumi NU ini menjadi lebih dari sekadar perayaan usia. Ia menjelma menjadi penegasan bahwa budaya Nusantara khususnya Betawi masih hidup, tumbuh, dan beradaptasi di tengah modernitas. Lahirnya Pondok Budaya Rorotan pun diharapkan menjadi episentrum baru gerakan budaya: mengakar kuat pada tradisi, sekaligus menjulang menyongsong masa depan. (dewa; foto tcs)