Indonesiasenang-, Industri film dan musik Indonesia kembali bertemu dalam satu ruang emosional yang intim lewat film Para Perasuk. Menjelang penayangannya, film garapan Wregas Bhanuteja ini memperkenalkan dua original soundtrack (OST) yang tak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga jiwa dari cerita: “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan”, keduanya dibawakan oleh Maudy Ayunda.
Dirilis oleh Rekata Studio bersama Trinity Optima Production, kedua lagu ini menghadirkan eksplorasi vokal Maudy Ayunda yang terasa lebih lirih, dalam, dan kontemplatif dibanding karya-karya sebelumnya. Setelah lebih dulu merilis “Aku yang Engkau Cari” di awal 2026, kini lirik video resminya hadir bersamaan dengan peluncuran single baru “Di Tepi Lamunan”.
Tidak sekadar soundtrack, dua lagu ini menjadi refleksi perjalanan karakter Bayu yang diperankan Angga Yunanda. Sosok Bayu digambarkan sebagai “perasuk” pemandu bagi mereka yang ingin melarikan diri dari realitas melalui ritual kerasukan dalam Pesta Sambetan.
Proses kreatif “Aku yang Engkau Cari” lahir secara organik di lokasi syuting. Maudy Ayunda, yang juga ikut membintangi film ini sebagai Laksmi, menulis lagu tersebut bersama Lafa Pratomo. Ia menggambarkan komposisinya sebagai lapisan emosi yang tenang namun menyimpan kegelisahan seperti bisikan yang perlahan menembus ruang batin.
“Prosesnya sangat intuitif, tidak pakai logika naratif biasa, tapi menggunakan rasa, Pengalaman ini menjadi salah satu proyek paling membebaskan dalam karier, baik sebagai aktris maupun musisi”, ungkap Maudy Ayunda.
Video musik “Di Tepi Lamunan” yang juga disutradarai oleh Wregas menghadirkan pendekatan visual yang tidak konvensional. Alih-alih mengikuti alur cerita linear, visualnya dibangun dari fragmen rasa, mengaburkan batas antara mimpi, trauma, dan penerimaan.
Pendekatan ini sejalan dengan visi Wregas terhadap film Para Perasuk. Ia ingin menghadirkan narasi yang menjauh dari amarah dan balas dendam, menggantinya dengan refleksi tentang berdamai dengan masa lalu.
“Saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda: menerima, memeluk, dan move on”, ujar Wregas.
Dari sisi lifestyle, Para Perasuk juga memotret fenomena healing dengan cara yang tak lazim. Jika biasanya orang mencari ketenangan ke destinasi populer, karakter Laksmi justru datang ke Desa Latas untuk mengikuti ritual kerasukan demi melepaskan trauma.
Narasi ini membuka perspektif baru tentang cara manusia menghadapi luka batin, bahwa perjalanan penyembuhan bisa hadir dalam bentuk yang tak terduga, bahkan ekstrem.
Baik Maudy Ayunda maupun Angga Yunanda menjalani proses syuting yang menantang. Angga, misalnya, harus menjalani adegan bertapa dengan posisi terbalik, sementara Maudy Ayunda melakukan adegan ekstrem seperti memakan bahan mentah demi mendalami karakter.
Tak ketinggalan, Anggun turut menambah warna dalam film ini sebagai Guru Asri sebuah peran yang menandai eksplorasi barunya di dunia akting setelah sukses di panggung musik internasional.
Sebelum tayang di Indonesia pada 23 April 2026, Para Perasuk telah mencuri perhatian dunia. Film ini melakukan world premiere di Sundance Film Festival 2026 dan mendapat sambutan meriah.
Perjalanannya berlanjut ke berbagai festival bergengsi seperti Miami Film Festival 43, Fantaspoa Brasil, hingga seleksi resmi di MSPIFF dan MOOOV Belgia.
Dengan perpaduan sinema yang puitis, musik yang menggugah, dan pendekatan lifestyle yang reflektif, Para Perasuk menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar tontonan. Dua OST yang dibawakan Maudy Ayunda menjadi pintu masuk ke dalam dunia batin para karakternya, sebuah ruang di mana luka, mimpi, dan penerimaan saling bertaut dalam harmoni yang sunyi. (sugali; foto hfp)