Indonesiasenang-, Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan di akhir pekan, kawasan Senen tetap bergerak dengan ritme khas ibu kota dengan kendaraan berlalu-lalang, pedagang membuka hari, dan warga kota menjalani aktivitasnya masing-masing. Namun pada Sabtu, 28 Februari 2026, ada frekuensi lain yang terasa hidup di Gelanggang Jakarta Pusat.

Bukan suara lalu lintas atau hiruk pikuk kota, melainkan percakapan hangat para anggota komunitas radio amatir yang berkumpul dalam Rapat Kerja ORARI Lokal Jakarta Pusat. Bertepatan dengan Ramadan 1447 Hijriah, pertemuan ini mengusung semangat #JakpusBangkitBersatu, menghadirkan wajah komunitas urban yang tetap solid di tengah perubahan zaman.

Di era aplikasi pesan instan dan media sosial serba cepat, radio amatir mungkin terdengar seperti bagian dari masa lalu. Namun bagi anggota ORARI Jakarta Pusat, justru di sinilah letak daya tariknya: komunikasi yang personal, teknis, sekaligus penuh rasa kebersamaan.

Sekretariat ORARI di kawasan Senen menjadi ruang temu lintas generasi. Ada anggota senior yang telah puluhan tahun mengudara, berdampingan dengan anggota baru yang tertarik mempelajari dunia komunikasi radio sebagai bagian dari gaya hidup komunitas.

Rapat kerja tahunan ini menjadi momen penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merancang arah baru komunitas di tengah ekosistem urban Jakarta yang terus berubah.

Disampaikan oleh  Ketua ORARI Lokal Jakarta Pusat, Yudi Wahyudin Suryaputra (YD0JNK), bahwa komunitas radio amatir tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang menjaga hubungan sosial di tengah kehidupan kota yang serba cepat.

Dalam laporan kegiatan, salah satu pencapaian yang kembali disorot adalah penyelenggaraan Jakarta Pusat Sprint Contest 40 Meter SSB Tahun 2024, ajang yang mempertemukan operator radio amatir dari berbagai negara.

Bagi komunitas ini, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ruang kecil di tengah Jakarta mampu terhubung dengan dunia luas tanpa batas geografis.

Selain itu, kegiatan Exhibition Fox Hunting pada Juli 2023 juga menjadi simbol bagaimana komunitas urban dapat menggabungkan teknologi dengan aktivitas luar ruang. Kegiatan berburu sinyal radio itu menghadirkan pengalaman berbeda, yaitu perpaduan edukasi teknis, olahraga ringan, dan interaksi sosial.

Di sela rapat, suasana terasa santai namun penuh energi. Diskusi teknis bercampur cerita perjalanan komunikasi lintas negara, pengalaman mengikuti kontes radio, hingga rencana kegiatan sosial berikutnya.

Bagi sebagian anggota, ORARI telah menjadi bagian dari lifestyle urban, tempat melepas penat dari rutinitas kerja sekaligus membangun relasi sosial yang lebih bermakna.

Sementara itu mantan Ketua ORARI Jakarta Pusat, Laksama Edy Sulitiadi (YC0EDY), menilai semangat kebersamaan yang terlihat dalam rapat kerja menunjukkan bahwa komunitas tetap relevan karena mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Nuansa Ramadan memberi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya berbicara soal program kerja, ORARI Jakarta Pusat juga menghadirkan aksi sosial dengan menyerahkan bingkisan Lebaran kepada petugas keamanan, cleaning service, dan tim maintenance Gedung Gelanggang Senen.

Di tengah kerasnya kehidupan kota, gestur sederhana itu menjadi bentuk penghargaan terhadap mereka yang sering luput dari perhatian. Aksi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa komunitas urban tidak selalu identik dengan individualisme. Justru melalui kegiatan kolektif, solidaritas sosial dapat tumbuh lebih kuat.

Tagline #JakpusBangkitBersatu terasa relevan dengan wajah Jakarta hari ini, sebagai kota yang terus bergerak maju, namun tetap membutuhkan ruang kebersamaan.

Di tengah teknologi komunikasi yang semakin instan, ORARI Jakarta Pusat memilih tetap menjaga esensi komunikasi yang sesungguhnya: mendengar, memahami, dan saling terhubung sebagai manusia.

Di balik antena radio dan perangkat komunikasi, komunitas ini membuktikan bahwa di kota sebesar Jakarta, koneksi paling penting bukan hanya sinyal yang kuat, tetapi rasa kebersamaan yang tetap hidup. (devin; foto yws)