Indonesiasenang-, Bulan April selalu membawa ruang refleksi. Di balik peringatan Hari Kartini setiap 21 April, tersimpan semangat panjang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam membuka akses, kesempatan, dan kesetaraan bagi perempuan Indonesia. Jika dulu Kartini berjuang lewat pendidikan, hari ini semangat itu menjelma dalam banyak wajah, salah satunya melalui pariwisata.

Pariwisata bukan lagi sekadar perjalanan. Ia adalah ruang hidup, tempat budaya dirawat, alam dijaga, dan cerita manusia dibagikan. Di dalamnya, hadir perempuan-perempuan tangguh yang bukan hanya menjadi bagian dari industri, tetapi juga penggerak perubahan. Mereka adalah “Kartini Pariwisata Indonesia” sosok inspiratif yang membangun ekosistem wisata berkelanjutan dengan cara mereka masing-masing.

Nama Mari Elka Pangestu menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan pariwisata modern Indonesia. Sebagai mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ia tidak hanya merancang strategi, tetapi juga memperkuat posisi pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi kreatif. Kiprahnya yang berlanjut di kancah global seperti Bank Dunia menunjukkan bahwa perempuan Indonesia mampu berbicara dan memimpin di panggung internasional.

Bagi Nadine Chandrawinata, pariwisata adalah tentang tanggung jawab. Lewat inisiatif #Seasoldier dan pengelolaan destinasi di Raja Ampat, ia mengajak publik melihat laut bukan hanya sebagai destinasi indah, tetapi juga ekosistem yang harus dijaga. Aktivismenya menjadi contoh nyata bahwa perempuan bisa menjadi jembatan antara pariwisata dan keberlanjutan lingkungan.

Sosok Susi Pudjiastuti menghadirkan perspektif berbeda. Dengan kebijakan tegas melawan illegal fishing, ia membantu memulihkan ekosistem laut, sebuah fondasi penting bagi wisata bahari Indonesia. Lewat Susi Air, ia juga membuka akses ke destinasi-destinasi terpencil, menjadikan pariwisata lebih inklusif dan merata.

Di ranah narasi, Trinity mengubah cara orang memandang perjalanan. Lewat karya The Naked Traveler, ia menghadirkan pengalaman wisata yang jujur, ringan, namun penuh makna. Ia membuktikan bahwa cerita bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal Indonesia lebih dalam dan mencintainya lebih utuh.

Semangat Kartini juga hidup dalam diri Prilly Latuconsina. Lewat media sosial, ia memperkenalkan destinasi lokal ke jutaan anak muda. Tak berhenti di promosi, ia turut membangun bisnis wisata bahari serta aktif dalam kampanye konservasi, termasuk perlindungan hiu paus di berbagai daerah seperti Gorontalo dan Sumbawa. Baginya, pariwisata adalah pengalaman yang harus dirasakan, bukan sekadar angka statistik.

Peran strategis terlihat dalam kepemimpinan Maya Watono di InJourney. Ia membawa transformasi pada berbagai destinasi seperti Candi Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah, menjadikannya lebih kompetitif secara global. Sentuhan perempuan dalam kepemimpinannya menghadirkan pendekatan yang lebih holistik, menggabungkan pengalaman, estetika, dan kualitas layanan.

Tak semua perubahan lahir dari pusat kekuasaan. Butet Manurung membuktikan bahwa kerja di akar rumput memiliki dampak besar. Lewat program Sokola Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, ia memberdayakan masyarakat adat melalui pendidikan berbasis budaya. Baginya, pariwisata bukan hanya soal tempat, tetapi tentang manusia dan keberlanjutan hidup mereka.

Ketujuh sosok ini menghadirkan wajah pariwisata Indonesia yang lebih utuh, kuat, berdaya, dan berkelanjutan. Mereka membuktikan bahwa semangat Kartini tidak pernah usang, ia hanya berubah bentuk mengikuti zaman.

Di tengah geliat perjalanan dan eksplorasi, kisah mereka menjadi pengingat bahwa setiap langkah wisata bisa menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar, yaitu menjaga alam, merawat budaya, dan memberdayakan manusia.

Momentum Hari Kartini pun terasa lebih hidup, bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai ajakan. Ajakan untuk melihat Indonesia dengan cara yang lebih dalam, dan mungkin, menjadi bagian dari cerita itu sendiri. (dewa; foto kbkp)