Indonesiasenang-, Marketing + Media Alliance Indonesia atau MMA Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai forum strategis bagi para pemimpin industri melalui penyelenggaraan The MMA Indonesia Executive Dialogues 2026 di The Hermitage, a Tribute Portfolio Hotel. Mengusung tema “Empowering Leaders for Growth”, forum eksklusif berbasis undangan ini mempertemukan lebih dari 50 pemimpin bisnis lintas sektor untuk membahas arah baru pertumbuhan industri pemasaran, media, teknologi, dan ekonomi digital Indonesia.
Acara ini menghadirkan para pengambil keputusan tingkat tinggi mulai dari Chairperson, C-Level Executive, Direktur, Founder, Co-Founder, hingga pemimpin departemen strategis dari berbagai perusahaan nasional dan global. Di tengah dinamika ekonomi dan percepatan transformasi digital, forum ini menjadi ruang diskusi penting untuk merumuskan strategi pertumbuhan yang lebih relevan, terukur, dan berkelanjutan.

Tujuh sesi utama yang dihadirkan dalam Executive Dialogues 2026, seperti The Pivot First Strategy, Purpose-Led Innovation, Leveraging The Brand Soul, hingga MMA’s Framework Movable Middle Growth, dirancang untuk menjawab tantangan nyata yang tengah dihadapi industri. Seluruh pembahasan berakar pada perubahan besar perilaku konsumen dan lanskap media yang kini semakin dipengaruhi teknologi digital, kecerdasan buatan, serta pola konsumsi berbasis performa.
Indonesia sendiri dinilai berada dalam momentum strategis sebagai salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Nilai pasar transformasi digital nasional diperkirakan mencapai USD 29 miliar pada 2026 dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 19,1% hingga menyentuh USD 69,6 miliar pada 2031. Aktivitas digital bahkan telah berkontribusi hampir 10% terhadap PDB nasional.
Di saat yang sama, pasar iklan digital Indonesia juga menunjukkan akselerasi signifikan. Nilainya diperkirakan mencapai USD 3,41 miliar pada 2026 dan akan meningkat menjadi USD 4,51 miliar pada 2031. Pergeseran belanja iklan dari media tradisional menuju platform digital menjadi semakin agresif, terutama pada format video dan media sosial yang kini mendominasi perilaku konsumsi masyarakat.

Dominasi video pendek, live commerce, dan tingginya penggunaan smartphone memperlihatkan bahwa persaingan industri tidak lagi hanya berbicara soal jangkauan audiens. Dengan penetrasi smartphone yang diperkirakan mencapai 91,3% pada 2028 serta rata-rata penggunaan aplikasi harian lebih dari lima jam, perusahaan kini dituntut menghadirkan strategi pemasaran yang mampu menghasilkan dampak bisnis nyata dan terukur.
Dalam forum tersebut, konsep Movable Middles yang dikembangkan MMA turut menjadi sorotan. Pendekatan ini disebut mampu menghasilkan responsivitas iklan lima kali lebih tinggi dibanding populasi umum, sementara kampanye berbasis hasil dinilai mampu melampaui performa kampanye berbasis jangkauan lebih dari 50% dalam aspek Return on Ad Spend (ROAS).
Namun di tengah persaingan yang semakin berbasis data, aspek kepercayaan konsumen tetap menjadi faktor penentu. Sebanyak 63% konsumen disebut lebih memilih brand yang memiliki nilai selaras dengan mereka, sementara 88% konsumen global kini menuntut pembuktian klaim brand melalui data yang dapat diverifikasi secara independen.
Menurut Amalia Sarah Santi selaku Executive Vice President and Global Chief Business Officer, ParagonCorp, masa depan industri akan ditentukan oleh organisasi yang mampu mengintegrasikan kecerdasan, kreativitas, dan etika dalam mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Amalia Sarah Santi menyebut ketidakpastian global saat ini membuat konsumen semakin selektif terhadap brand yang mereka pilih. Dalam kondisi tersebut, perusahaan tidak cukup hanya menawarkan produk, tetapi juga harus mampu membangun makna, kepercayaan, dan relevansi jangka panjang di mata publik.
“Brand yang menang adalah brand yang menciptakan makna di luar produk, membangun kepercayaan dari waktu ke waktu, dan tetap relevan dengan apa yang benar-benar penting,” ujar Amalia Sarah Santi.
Sementara itu, Shanti Tolani selaku Country Head & Board Director, MMA Indonesia, menilai Indonesia tengah berada pada titik infleksi penting dalam perjalanan ekonomi digitalnya. Dengan pertumbuhan ekonomi digital mencapai 19% per tahun, tingkat adopsi AI sebesar 92%, dan pasar loyalitas yang menuju USD 1 miliar, peluang pertumbuhan dinilai semakin besar bagi perusahaan yang mampu beradaptasi secara cepat.
Menurut Shanti Tolani, fase pertumbuhan berikutnya tidak akan ditentukan hanya oleh besarnya investasi atau teknologi yang dimiliki perusahaan, melainkan kemampuan organisasi dalam mengubah data menjadi kepercayaan pelanggan dan keterlibatan konsumen menjadi nilai bisnis yang nyata.

“Loyalitas bukan lagi sekadar hasil transaksi, melainkan disiplin kepemimpinan yang dibangun melalui kejelasan tujuan, ketepatan eksekusi, dan komitmen terhadap konsumen,” kata Shanti Tolani.
Melalui Executive Dialogues 2026, MMA Indonesia ingin memastikan para pemimpin bisnis tidak hanya mampu menavigasi perubahan industri, tetapi juga menjadi arsitek utama dalam membentuk arah baru pertumbuhan brand dan ekonomi digital Indonesia di masa depan. (alvin; foto hmmai)