Indonesiasenang-, Aceh tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan sejarah panjang, kekayaan budaya, serta panorama alam yang memikat. Di balik identitasnya sebagai Serambi Mekkah, Aceh juga menyimpan kekayaan kuliner yang kuat, berani, dan sarat karakter.
Sejak berabad-abad lalu, posisi geografis Aceh yang strategis menjadikannya titik pertemuan berbagai peradaban, mulai dari Melayu, Arab, India hingga Eropa. Perjumpaan budaya itu tidak hanya tercermin dalam sejarah dan tradisi, tetapi juga meresap ke dalam cita rasa makanan. Hasilnya adalah ragam hidangan berempah yang khas, teknik memasak tradisional, serta tradisi makan yang masih dijaga lintas generasi.
Bagi wisatawan yang datang ke Banda Aceh atau wilayah lain di Tanah Rencong, menjelajahi kuliner lokal menjadi pengalaman budaya yang tak terpisahkan dari perjalanan wisata.
Ikon Kuliner Aceh yang Wajib Dicicipi
Mie Aceh, Hidangan Berempah yang Mendunia
Tidak lengkap berbicara tentang kuliner Aceh tanpa menyebut Mie Aceh. Hidangan ini menggunakan mie kuning tebal yang dimasak dengan racikan rempah khas, menghasilkan rasa gurih, kaya bumbu, dan sedikit pedas.
Mie Aceh biasanya tersedia dalam dua varian, yaitu goreng dan berkuah. Topping yang digunakan pun beragam, mulai dari daging sapi, ayam, hingga seafood.
Salah satu tempat legendaris untuk mencicipinya adalah Mie Simpang Lima yang berdiri sejak 1961 di kawasan Peuniti. Warung ini menjadi salah satu saksi perjalanan kuliner mie Aceh hingga dikenal luas seperti sekarang.

Sate Matang, Sate Berkuah Khas Bireuen
Dari wilayah Bireuen lahir hidangan khas bernama Sate Matang. Berbeda dengan sate pada umumnya, sate ini disajikan bersama kuah gurih yang menyerupai soto.
Daging sapi atau kambing terlebih dahulu diungkep dengan bumbu hingga meresap sebelum dibakar. Hasilnya adalah tekstur daging yang empuk dengan rasa rempah yang kuat. Wisatawan dapat mencicipinya di Sate Matang D’wan yang cukup populer di kalangan penikmat kuliner lokal.
Kuah Beulangong, Simbol Kebersamaan
Hidangan lain yang sarat makna budaya adalah Kuah Beulangong. Masakan berkuah ini biasanya dimasak dalam kuali besar saat acara adat, kenduri, atau perayaan masyarakat.
Kuah Beulangong memadukan daging sapi atau kambing dengan nangka muda serta rempah khas Aceh. Proses memasaknya sering dilakukan secara gotong royong, sehingga hidangan ini juga mencerminkan nilai kebersamaan masyarakat Aceh.
Di Banda Aceh, hidangan ini bisa ditemukan di beberapa rumah makan seperti Rumah Makan Cut Mun atau Rumah Makan Syiah Kuala.
Sie Reuboh, Hidangan Daging Khas Aceh
Sie Reuboh merupakan olahan daging sapi yang direbus dengan bumbu khas hingga menghasilkan kuah gurih dengan aroma rempah yang kuat. Hidangan ini sering disajikan dalam jamuan keluarga karena mudah disiapkan dan rasanya bisa bertahan lama.
Salah satu tempat yang terkenal menyajikan hidangan ini adalah Rumah Makan Cut Bit.

Kuah Pliek U, Warisan Kuliner Aceh Barat
Dari wilayah Aceh Barat hadir hidangan tradisional bernama Kuah Pliek U. Masakan ini memadukan berbagai sayuran seperti melinjo, terong, dan labu siam yang dimasak bersama bumbu fermentasi kelapa yang disebut pliek u.
Rasa gurih yang kompleks menjadikan hidangan ini sebagai contoh kekayaan teknik memasak tradisional Aceh. Beberapa rumah makan di Banda Aceh yang menyajikannya antara lain Rumah Makan Montasik dan Rumah Makan Asia Utama.
Eungkot Keumamah, “Ikan Kayu” dari Pesisir Aceh
Eungkot Keumamah sering dijuluki sebagai “ikan kayu”. Hidangan ini dibuat dari ikan tongkol, tuna, atau cakalang yang direbus, dikeringkan, lalu dimasak kembali dengan bumbu rempah. Teknik pengawetan tradisional ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat pesisir Aceh dalam menjaga ketahanan pangan.
Ayam Tangkap, Aroma Daun yang Menggoda
Ayam Tangkap menjadi salah satu menu favorit wisatawan. Potongan ayam goreng disajikan bersama daun kari, daun pandan, dan cabai hijau yang digoreng hingga renyah.
Aroma harum dari daun-daunan inilah yang menjadi ciri khas hidangan ini. Beberapa tempat yang terkenal menyajikannya antara lain Ayam Pramugari dan Lem Bakrie.
Kuah Sie Itek, Gulai Bebek Berempah
Hidangan lain yang tak kalah menggoda adalah Kuah Sie Itek. Gulai bebek ini dimasak dengan santan serta rempah seperti kunyit, serai, dan lengkuas.
Kuahnya kental berwarna kuning keemasan dengan rasa gurih yang kaya. Salah satu tempat yang terkenal menyajikannya adalah Rumah Makan Bu Sie Itek Bireun Ustad Heri.
Minuman Khas yang Menghidupkan Budaya Warung Kopi

Kopi Gayo, Aroma Aceh yang Mendunia
Aceh juga dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia melalui Kopi Gayo yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo.
Kopi ini memiliki karakter lembut dengan aroma khas dan tingkat keasaman seimbang. Di Banda Aceh, wisatawan bisa menikmatinya di kedai seperti Horas Kopi Gayo.
Kopi Sanger, Racikan Kopi Legendaris
Selain kopi hitam, masyarakat Aceh juga memiliki racikan khas bernama Kopi Sanger. Minuman ini memadukan kopi dengan susu kental manis dalam takaran lebih ringan dibanding kopi susu biasa.
Salah satu tempat legendaris untuk menikmatinya adalah Kedai Kopi Solong yang telah lama menjadi ikon budaya warung kopi di Aceh.
Teh Tarik Aceh hingga Minuman Segar Tradisional
Selain kopi, masyarakat Aceh juga gemar menikmati Teh Tarik Aceh yang disajikan dengan teknik “ditarik” antar gelas hingga menghasilkan busa lembut.
Sementara untuk minuman segar, ada Le Boh Timon atau es timun Aceh yang sering hadir saat bulan Ramadan.
Tak kalah menarik adalah Rujak Aceh Kuah Pala yang memadukan aneka buah dengan kuah pala berbahan buah kuini. Salah satu tempat legendaris yang menyajikannya adalah Rujak Blang Bintang yang sudah dikenal sejak 1975.

Kuliner Aceh bukan sekadar soal makanan. Di balik setiap hidangan tersimpan cerita tentang sejarah perdagangan, pengaruh budaya, hingga nilai kebersamaan masyarakatnya.
Dari semangkuk Mie Aceh yang kaya rempah, kopi Gayo yang mendunia, hingga minuman segar tradisional yang sederhana, menjelajahi Aceh melalui kuliner adalah cara paling autentik untuk memahami identitas daerah ini.
Bagi wisatawan, perjalanan ke Aceh bukan hanya tentang menikmati alam dan sejarah, tetapi juga tentang merasakan warisan rasa yang telah hidup selama berabad-abad. (dewa; foto bkkp)