Indonesiasenang-, Jakarta – Siapa sangka, kesulitan bercerita tentang perasaan ternyata bukan hanya dialami Gen Z. Di balik senyum para milenial, orang tua, hingga pasangan suami istri, banyak yang menyimpan emosi dan memilih memendamnya karena merasa tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan.
Fakta tersebut terungkap dalam acara konferensi pers Main Event Hearticulate bertema Speak Your Heart Through Art yang diselenggarakan mahasiswa Marketing Communication Batch 27 Excellent Class LSPR Institute di Sesco Startup Hub, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu pagi (11/7/2026). Workshop ini mengangkat seni sebagai media untuk membantu seseorang mengekspresikan emosi dan menjadi ruang aman untuk curhat tanpa takut dihakimi.
Ketua Pelaksana Hearticulate, Marine Bintang Feliza, mengatakan ide workshop lahir dari pengalaman pribadi panitia yang terbiasa meluapkan perasaan melalui seni, mulai dari menggambar, mencoret-coret, bermain musik, bernyanyi hingga merajut.
"Dari situ kami menyadari bahwa itu adalah bentuk self-expression kami. Akhirnya kami mengajak teman-teman untuk ikut menciptakan karya seni sebagai media mengekspresikan perasaan," ujarnya.
Menurut Marine, persoalan mental health kini semakin nyata karena banyak orang merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan isi hati. Saat mencoba curhat, respons yang diterima justru sering berupa penilaian, perbandingan hidup, bahkan diabaikan.
"Perasaan yang diungkapkan lewat kata-kata sering kali dibalas dengan judgment. Ada yang diabaikan, ada yang justru dipatahkan. Ada juga yang jadi adu nasib. Melalui seni, kami percaya ekspresi itu tidak bisa dihakimi karena seni adalah bentuk ekspresi diri," katanya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan tim penyelenggara, sekitar tujuh dari sepuluh orang pernah mengalami perasaan tidak didengarkan ketika mencoba menceritakan apa yang mereka rasakan.
"Kalau dari yang kami lihat, sekitar tujuh dari sepuluh orang merasakan hal seperti itu. Ini menjadi kondisi yang cukup urgent dan membutuhkan solusi," jelas Marine.
Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama yang sangat memengaruhi kondisi kejiwaan seseorang. Ketika seseorang merasa tidak didukung oleh keluarga, mereka cenderung mencari tempat lain yang dianggap lebih aman untuk didengar.
"Ketika sudah merasa tidak didukung di keluarga, biasanya mereka mencari alternatif lain yang benar-benar mau mendengarkan. Setelah itu baru muncul dari lingkungan pertemanan atau masyarakat yang juga kurang peduli terhadap apa yang mereka rasakan," ungkapnya.
Yang mengejutkan, workshop ini justru diikuti peserta dari berbagai kelompok usia. Tidak hanya Gen Z dan milenial, tetapi juga ibu rumah tangga, para ayah, hingga peserta yang telah memiliki cucu. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan mental, emosi, dan kebutuhan untuk didengarkan ternyata dialami hampir semua generasi.
Founder UNIQ Mind Creates, Anetta Audrey P., S.Psi, mengatakan seni sering kali mampu mengungkap cerita yang tidak pernah keluar lewat kata-kata. Meski peserta diberikan tema tertentu seperti kecemasan, rasa syukur, atau kebahagiaan, hasil karya mereka justru memperlihatkan kondisi emosional yang sebenarnya.
"Walaupun sudah ada tema, hasil gambarnya tidak bisa bohong. Seni itu tidak bisa bohong. Kata-kata mungkin bisa disembunyikan, tetapi karya seni sering kali memperlihatkan apa yang sebenarnya sedang dirasakan seseorang," tuturnya.
Dari karya-karya tersebut, banyak peserta akhirnya berani menceritakan beban hidup yang selama ini dipendam. Sejumlah ibu mengaku lelah mengurus rumah, anak, dan suami, tetapi merasa tidak pernah benar-benar didengarkan. Di sisi lain, para suami juga mengaku telah bekerja keras setiap hari, namun tetap kesulitan menyampaikan isi hati kepada keluarga.
"Banyak ibu-ibu yang bilang sebenarnya capek mengurus rumah, anak, dan suami. Ada juga suami yang merasa sudah bekerja keras tetapi ketika pulang tetap merasa tidak didengarkan. Kasusnya hampir sama, yaitu merasa tidak didengarkan," kata Anetta.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan mental health bukan hanya milik anak muda. Orang dewasa bahkan orang tua juga dapat mengalami tekanan emosional yang sama apabila tidak memiliki ruang untuk bercerita dan didengarkan.
Karena itu, Anetta berharap masyarakat mulai membangun kebiasaan berkomunikasi yang lebih sehat, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pasangan. Menurutnya, seni dapat menjadi jembatan untuk membantu seseorang mengenali emosi, membuka cerita, dan lebih berani curhat tanpa rasa takut dihakimi.
"Komunikasi itu sangat penting. Walaupun seseorang sudah menikah atau memiliki keluarga, mereka tetap bisa mengalami perasaan tidak didengarkan. Karena itu kami berharap seni bisa menjadi jembatan agar orang lebih berani mengenali dan menyampaikan apa yang sebenarnya mereka rasakan," pungkasnya. (kintan; praba)