Indonesiasenang-, Jakarta – Musisi Haryanto Hesaputra resmi merilis album perdananya bertajuk "Berdendang dan Menari" yang berisi 11 lagu pada Sabtu (11/07/2026) di Komune Place, Jl.TB Simatupang No. 1, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Album ini menjadi penanda keseriusannya menekuni industri musik setelah sebelumnya menjadikan bermusik sebagai hobi di sela pekerjaan formal.
Dalam proses kreatifnya, Haryanto mengaku menghadapi banyak tantangan. Empat single pertamanya bahkan ia kerjakan secara mandiri, mulai dari menulis lirik, menciptakan melodi, hingga merekam vokal di Samarinda.
"Memang banyak tantangannya. Single satu sampai ke empat, semua itu saya kerjakan sendiri, dari lirik, melodi, kemudian setelah jadi melodinya saya take vokal di Samarinda," ujar Haryanto.
Perjalanan musik Haryanto mulai memasuki babak baru setelah bekerja sama dengan Sagi Anthony. Dari kolaborasi tersebut, ia diajak mengeksplorasi warna musik fusion jazz, termasuk dalam lagu "Mengertilah Hai Mantan".
Haryanto mengungkapkan lagu tersebut awalnya hanya berjudul "Mengertilah". Namun, judulnya kemudian diubah menjadi "Mengertilah Hai Mantan" sebagai bagian dari strategi pemasaran agar lebih menarik perhatian pendengar.
"Setelah ketemu dengan Sagi, saya diarahkan ke musik-musik yang fusion jazz, termasuk lagu Mengertilah Hai Mantan. Sebenarnya judulnya bukan Mengertilah Hai Mantan, awalnya cuma Mengertilah, tetapi untuk street marketing saya tambahkan jadi Mengertilah Hai Mantan," kata Haryanto.
Menurutnya, perubahan judul tersebut memunculkan respons yang beragam dari masyarakat.
"Orang-orang kalau saya mau menyanyikan lagu Mengertilah Hai Mantan, mereka bilang, 'Mana ada mantan bisa mengerti? Mantan itu buang saja ke tempat sampah.'"
Selain "Mengertilah Hai Mantan" dan "Kau Mencuri Hatiku", Haryanto bersama Sagi Anthony sempat mengusung konsep fusion jazz. Namun, menurut Haryanto, genre tersebut dinilai cukup berat oleh sebagian pendengar sehingga tidak mudah diterima pasar.
Berangkat dari berbagai masukan, Haryanto dan tim kemudian mengarahkan karya-karya berikutnya ke genre pop yang lebih ringan dan mudah dinikmati. Salah satunya adalah lagu "Bersandarlah di Bahuku", yang hadir dengan nuansa mellow dan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penikmat musik Indonesia.
Tantangan Membawakan Lagu Rap
Selain bereksperimen dengan genre musik, Haryanto juga mengaku sempat kesulitan saat membawakan lagu "Senyuman Itu Menggodaku" karena terdapat bagian rap.
"Ada lagu yang sulit saya nyanyikan, judulnya Senyuman Itu Menggodaku. Ada part yang saya harus nge-rap. Jadi ketika saya off air dan saya masih belum bisa nge-rap, saya serahkan sama dia (Sagi) yang ngerap. Tapi lama-lama akhirnya saya bisa juga. Semoga ini bisa menjadi warna-warna yang juga akan menjadi teringat oleh mereka yang mendengarkan. Jadi tujuan kita itu menghibur semua, dan karya-karya kita dinikmati," tuturnya.
Haryanto juga mengungkapkan bahwa musik pada awalnya hanya menjadi hobi karena dirinya masih memiliki pekerjaan formal. Namun, setelah berhasil merilis 11 lagu, termasuk empat lagu ciptaannya sendiri, ia mulai yakin untuk lebih serius menekuni dunia musik.
"Sebenarnya saya juga punya pekerjaan formal, jadi bermusik itu awalnya hanya hobi. Tapi setelah sebelas lagu saya lahirkan, saya berpikir, kok sepertinya kalau diseriusin juga bagus," ujarnya.
Lagu Untuk Glenn Fredly
Ada fakta menarik pada salah satu lagu ciptaan Hary yang memiliki makna dalam. Sebuah lagu berjudul Never Say Goodbye yang bercerita tentang kehilangan dibuat oleh Hary ketika penyanyi Glenn Fredly meninggal dunia.
Saat itu, ia merasakan banyak orang yang kehilangan akan sosok penyanyi bersuara emas itu. Hingga akhirnya jadilah sebuah lagu yang memiliki arti mendalam baginya.
Sementara itu, Restu Fortuna, yang merupakan sahabat musisi Haryanto mengaku terinspirasi oleh semangat Haryanto yang tetap produktif berkarya di usia 63 tahun. Menurutnya, dedikasi Haryanto menjadi bukti bahwa berkarya di industri musik tidak mengenal batas usia.
"Awalnya saya kenal melalui TikTok. Saya kaget melihat ada seorang senior yang masih penuh semangat. Tahun ini usianya sudah 63 tahun. Sebagai orang musik, saya bangga dan senang melihat semangat beliau untuk terus berkarya," ujar Restu Fortuna.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mendukung karya Haryanto dengan mendengarkan lagu-lagunya di berbagai platform musik digital.
"Kita dukung Mas Hary, kita dukung musik Indonesia," katanya.
Bagi Haryanto, konsistensi dalam berkarya jauh lebih penting daripada mengejar popularitas. Ia percaya setiap karya memiliki jalannya sendiri untuk menemukan pendengarnya.
"Yang penting berkarya terus. Soal dikenal atau diterima masyarakat itu urusan belakangan. Kita tidak pernah tahu pintu rezeki dibukakan dari mana," pungkasnya. (kintan; praba)