Indonesiasenang-, Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kembali menjadi momentum penting bagi Kota Semarang, Jawa Tengah. Lebih dari sekadar agenda keagamaan, Imlek menjelma ruang pertemuan sejarah, budaya, dan pariwisata, sebuah lanskap hidup yang mencerminkan identitas Indonesia sebagai bangsa majemuk. Inilah yang menjadi sorotan dalam kunjungan kerja Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, ke sejumlah destinasi bersejarah di Semarang.

Didampingi Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Menpar Putri Wardhana meninjau kesiapan destinasi unggulan yang menjadi episentrum perayaan Imlek sekaligus penanda perjalanan panjang akulturasi budaya di pesisir utara Jawa.

Langkah pertama tertuju pada Kelenteng Sam Poo Kong, cagar budaya yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi dialog lintas peradaban. Setiap Imlek, kawasan ini dipadati ribuan peziarah dan wisatawan yang ingin merasakan atmosfer spiritual sekaligus sejarah.

Sam Poo Kong berakar dari kisah pelayaran Laksamana Cheng Ho, pelaut Muslim dari Tiongkok yang singgah di Semarang berabad silam. Bermula dari gua batu sebagai tempat persinggahan armadanya, kawasan ini kemudian berkembang menjadi kelenteng, simbol kuat persilangan budaya Jawa, Tionghoa, dan nilai-nilai Nusantara.

“Sam Poo Kong adalah potret nyata harmoni budaya Indonesia,” ujar Menpar Putri Widiyanti.

Bagi Menpar Putri Widyanti, Imlek di Semarang adalah etalase pariwisata inklusif, di mana sejarah dan toleransi menjadi daya tarik utama.

Memperkuat narasi tersebut, pihak Yayasan Kelenteng Agung Sam Poo Kong menyiapkan pesta budaya yang memadukan kesenian Jawa, tradisi Tionghoa, dan ekspresi budaya nasional. Digelar pada 15 Februari 2026 dan terbuka gratis untuk publik, pesta budaya ini menjadi ajakan untuk merayakan Imlek sebagai peristiwa kebudayaan bersama.

Dari spiritualitas pesisir, perjalanan berlanjut ke jantung sejarah modern Semarang, yaitu Lawang Sewu. Bangunan ikonik yang berdiri sejak 1904 ini menyimpan memori panjang perkeretaapian nasional dan dinamika kolonial Belanda.

Kini, Lawang Sewu tak hanya menawarkan arsitektur megah dengan “seribu pintu”, tetapi juga pengalaman wisata sejarah yang bertransformasi. Melalui ruang immersive berbasis proyeksi visual digital, pengunjung diajak menyusuri sejarah Kereta Api Indonesia secara interaktif, sebuah pendekatan yang sejalan dengan program Tourism 5.0 Kementerian Pariwisata.

“Sejarah tidak lagi hanya dibaca, tetapi dialami”, ucap Menpar Putri Widiyanti saat meninjau koridor digital tersebut.

Sebagai pengelola, KAI Wisata memastikan kesiapan infrastruktur dan layanan menghadapi lonjakan wisatawan Imlek. Dari rata-rata 6.000 pengunjung per hari, angka tersebut diperkirakan melonjak hingga 10.000 orang selama libur perayaan.

Tak hanya itu, atraksi barongsai dan pembagian angpau turut dihadirkan, menambah lapisan budaya dalam ruang sejarah kolonial. Pemandu wisata juga disiagakan untuk memastikan setiap pengunjung pulang dengan pemahaman, bukan sekadar foto.

Kunjungan kerja ini menegaskan arah kebijakan pariwisata Indonesia yang menempatkan budaya dan sejarah sebagai fondasi utama. Dengan memastikan kesiapan destinasi di momentum hari besar seperti Imlek, Kementerian Pariwisata berupaya mendorong dampak ekonomi sekaligus merawat ingatan kolektif bangsa.

Turut mendampingi kunjungan tersebut Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto.

Di Semarang, Imlek bukan hanya pergantian tahun. Ia adalah perayaan perjalanan panjang peradaban, tentang pelayaran, perjumpaan budaya, dan bagaimana sejarah terus hidup melalui pariwisata yang berakar pada identitas bangsa. (dewa; foto bkkp)