Indonesiasenang-, Lampung Tengah menjadi saksi hidup bagaimana budaya dan spiritualitas bisa menjadi motor penggerak pariwisata. Tradisi Blangikhan, ritual penyucian diri menjelang Ramadhan, kembali digelar di Nuwo Balak, Rabu (18/2/2026), menarik perhatian masyarakat, pemerintah, dan penggiat pariwisata nasional.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar), Ni Luh Puspa, memberikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan tradisi ini. Menurutnya, Blangikhan bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga menjadi platform pemberdayaan ekonomi lokal. “Inilah wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, dikelola bersama, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan lokal,” ujar Wamenpar.

Blangikhan, atau yang dikenal juga sebagai Blangiran, merupakan kearifan lokal Lampung berupa prosesi penyiraman diri dengan air dari tujuh mata air. Ritual ini melambangkan pembersihan lahir dan batin, sekaligus menguatkan kesiapan mental dan spiritual menyambut bulan suci Ramadhan. Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019, tradisi ini menjadi simbol identitas budaya Lampung yang hidup dan lestari.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan”, ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Kegiatan Blangikhan tidak hanya menyuguhkan nilai spiritual, tetapi juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk menampilkan produk-produk mereka. Kehadiran ekonomi kreatif ini memperkuat dampak positif tradisi bagi kesejahteraan masyarakat.

Fenomena ini sejalan dengan tren positif pariwisata Indonesia sepanjang 2025, di mana kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta, tumbuh 10,8%, dan pergerakan wisatawan nusantara mencapai 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,55%. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional juga signifikan, mencapai 3,97% atau setara Rp946–1.143 triliun jika memperhitungkan dampak lanjutan ke sektor terkait.

Dalam sambutannya, Wamenpar Ni Luh Puspa menegaskan pentingnya pengembangan desa wisata dan atraksi berbasis budaya lokal agar memiliki daya saing nasional maupun internasional. Hal ini sejalan dengan capaian global Indonesia, seperti Desa Wisata Pemuteran di Bali yang dinobatkan sebagai salah satu desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism.

Pemerintah Provinsi Lampung juga menargetkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk menstimulasi investasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami memohon doa dan dukungan dari Wakil Menteri Pariwisata agar program ini dapat terwujud dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat”, kata Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela.

Tradisi Blangikhan menjadi contoh konkret bagaimana budaya, spiritualitas, dan pariwisata bisa bersinergi. Wamenpar Ni Luh Puspa membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan agar tradisi ini dapat menjadi agenda tahunan yang berkualitas, berkelanjutan, dan mampu menarik wisatawan dari seluruh dunia.

Dengan memadukan kearifan lokal, nilai spiritual, dan potensi ekonomi, Lampung Tengah menunjukkan bahwa budaya bukan hanya memelihara warisan masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi pariwisata masa depan yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar pada identitas bangsa. (dewa; foto bkkp)