Indonesiasenang-, Gangguan pendengaran masih menjadi tantangan kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Padahal, bagi banyak orang, terutama lansia, kemampuan mendengar bukan sekadar soal menangkap suara, tetapi juga menentukan kualitas hidup, kesehatan mental, hingga hubungan sosial.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penderita gangguan pendengaran lebih berisiko mengalami kesulitan berkomunikasi, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga merasa kesepian. Pada lansia, kondisi tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif apabila tidak segera ditangani dengan alat bantu dengar yang sesuai.
Namun, penggunaan alat bantu dengar ternyata tidak selalu mudah. Di Indonesia, perempuan Muslim yang mengenakan hijab memiliki tantangan tersendiri. Desain alat bantu dengar konvensional sering kali tertutup kain hijab sehingga kualitas suara menjadi kurang optimal, bahkan menimbulkan rasa tidak nyaman ketika digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Hear in Hijab, Inovasi Terbaru Berbentuk Bros
Berangkat dari kebutuhan nyata tersebut, lahirlah inovasi Hear in Hijab, sebuah alat bantu dengar yang dirancang khusus bagi perempuan Muslim berhijab, terutama lansia yang mengalami gangguan pendengaran.
Inovasi ini dikembangkan melalui kolaborasi Wardah bersama Dentsu Creative Jakarta dan Digital Nativ. Berbeda dengan alat bantu dengar konvensional, Hear in Hijab menggunakan mikrofon berbentuk bros yang dikenakan di bagian luar hijab. Mikrofon tersebut berfungsi menangkap suara secara lebih optimal, kemudian mengirimkannya secara nirkabel ke perangkat penerima di telinga sehingga pengguna dapat mendengar lebih jelas tanpa mengganggu penggunaan hijab.
Meraih Penghargaan Dunia
Inovasi tersebut kini mendapat pengakuan dunia. Hear in Hijab berhasil meraih Bronze Lion pada kategori Brand Experience & Activation (Cultural Engagement) dalam Cannes Lions International Festival of Creativity 2026 yang berlangsung di French Riviera, Prancis, pada 22–26 Juni 2026.
Festival Cannes Lions sendiri dikenal sebagai ajang paling bergengsi di industri periklanan, pemasaran, dan komunikasi global. Selama lebih dari tujuh dekade, penghargaan ini menjadi tolok ukur karya kreatif yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebelum menembus panggung internasional, Hear in Hijab juga telah memperoleh Grand Prix of Medium, penghargaan tertinggi dalam Citra Pariwara 2025. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari kebutuhan masyarakat Indonesia mampu diapresiasi hingga tingkat global.
Berangkat dari Empati terhadap Pengguna
Khikin Indahsari, Group Head of New Brand Innovation ParagonCorp, mengatakan bahwa inovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendampingi perempuan di setiap fase kehidupannya.
"Wardah selalu percaya bahwa kecantikan adalah milik setiap perempuan, di setiap tahap kehidupannya. Kecantikan tidak dapat dipisahkan dari cara mereka menjalani kehidupan. Hijab merupakan ekspresi iman dan identitas yang erat kaitannya dengan rasa percaya diri, kemampuan untuk mendengar dengan jelas orang-orang yang mereka cintai, serta rasa hadir dan berdaya," ujar Khikin.
Ia menambahkan bahwa misi perusahaan tidak hanya menghadirkan produk kecantikan, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas bagi kehidupan perempuan Indonesia.
Sementara itu, Defri Dwipaputra, Chief Creative & Experience Officer Dentsu Creative Indonesia, menilai bahwa karya tersebut lahir dari pemahaman terhadap karakter masyarakat Indonesia yang sangat beragam.
"Indonesia adalah pasar dengan cara hidup yang sangat berlapis, dengan nilai spiritual yang kuat dan kebutuhan yang tidak bisa disederhanakan. Perempuan di Indonesia, khususnya, layak mendapatkan brand yang berani menghadapi kompleksitas tersebut secara jujur," kata Defri.
Ia menegaskan bahwa inovasi dan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
"Inovasi dan teknologi bagi kami adalah alat perubahan yang dapat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat yang dijangkau," ujarnya.
Membuka Harapan Baru bagi Penyandang Gangguan Pendengaran
Keberhasilan Hear in Hijab menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berangkat dari teknologi yang rumit, tetapi dari kemampuan memahami kebutuhan pengguna secara mendalam. Ketika solusi dikembangkan berdasarkan empati terhadap pengalaman sehari-hari penyandang gangguan pendengaran, hasilnya bukan hanya memudahkan aktivitas mereka, tetapi juga membuka peluang agar lebih banyak penyandang disabilitas memperoleh akses terhadap teknologi yang inklusif.
Bagi perempuan berhijab yang mengalami gangguan pendengaran, inovasi seperti ini menjadi pengingat bahwa teknologi dapat berkembang dengan mempertimbangkan aspek budaya, kenyamanan, sekaligus kualitas hidup. Pengakuan di tingkat dunia pun menjadi bukti bahwa solusi yang lahir dari kebutuhan masyarakat Indonesia mampu menjadi inspirasi bagi inovasi yang lebih inklusif di masa depan. (kintan; humwdh)