Indonesiasenang-, Setiap tanggal 20 Februari, Indonesia memperingati Hari Soto Nasional, sebuah momentum untuk merayakan kekayaan kuliner yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekadar hidangan berkuah, soto adalah cermin perjalanan sejarah, hasil akulturasi budaya, sekaligus daya tarik wisata rasa yang menyatukan Nusantara dalam satu mangkuk.
Hari Soto Nasional pertama kali dicanangkan pada 20 Februari 2021 oleh Henry, penikmat soto yang dikenal aktif mengulas kuliner Nusantara. Gagasan ini lahir dari keinginan mengenalkan keberagaman soto yang kini tercatat sekitar 75 jenis kepada publik luas. Inisiatif tersebut bahkan pernah mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Semarang, yang mendorong agar Hari Soto Nasional menjadi pengingat kekayaan kuliner bangsa.
Dari sisi rasa, soto hadir dengan karakter yang sangat beragam. Ada kuah bening yang ringan, kuah santan yang gurih, hingga kuah kental dengan rempah kuat. Isiannya pun bervariasi, mulai dari ayam, daging sapi, jeroan, hingga pelengkap seperti koya, emping, sambal, dan perasan jeruk nipis. Keberagaman ini menjadikan soto sebagai hidangan lintas kelas, mudah ditemukan di warung kaki lima, rumah makan legendaris, hingga restoran modern.
Namun keistimewaan soto tak berhenti pada soal rasa. Sejarah mencatat bahwa hidangan ini memiliki akar panjang yang berkaitan dengan akulturasi budaya. Melansir Indonesia.go.id, sejarawan Denys Lombard menyebutkan bahwa soto bermula dari masakan Cina sekitar abad ke-19 yang dikenal sebagai caudo atau jao to, yang berarti olahan berempah. Pendapat lain menyebutkan istilah shao du atau sao tu yang merujuk pada olahan jeroan. Kedua pandangan ini sama-sama menegaskan bahwa soto sejak awal adalah makanan berkaldu kaya rempah.
Awalnya, soto dijajakan oleh pedagang keliling menggunakan pikulan atau gerobak. Pada masa awal perkembangannya, bahan yang digunakan bahkan termasuk daging babi. Namun, ketika soto menyebar ke wilayah mayoritas Muslim, bahan tersebut diganti dengan ayam, sapi, atau kerbau. Perubahan ini menunjukkan kemampuan soto beradaptasi dengan nilai dan budaya lokal, hingga akhirnya diterima luas sebagai makanan rakyat.
Wilayah pesisir utara Jawa Tengah seperti Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Kudus menjadi pusat awal penyebaran soto. Dari kota-kota perdagangan inilah, soto kemudian berkembang ke berbagai daerah lain dengan ciri khas masing-masing. Popularitasnya kian menguat ketika pada tahun 1967, soto resmi masuk ke dalam buku resep nasional Mustika Rasa, yang digagas oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Hingga kini, soto juga menjadi bagian penting dari wisata kuliner Indonesia. Di Sumatera dikenal Soto Aceh, Soto Padang, dan Soto Medan. Jakarta memiliki Soto Betawi dan Soto Tangkar, sementara Tanah Sunda menawarkan Soto Bandung, Soto Kuning, dan Soto Mie. Jawa Tengah dan Jawa Timur kaya dengan Soto Kudus, Soto Pekalongan, Soto Lamongan, hingga Soto Banyuwangi. Di Kalimantan ada Soto Banjar dan Soto Mahakam, sedangkan Indonesia Timur menghadirkan Soto Minahasa dan Soto Kenari Maluku dengan karakter rasa yang tak kalah kuat.
Lebih dari sekadar menu sehari-hari, soto adalah simbol kebersamaan. Ia hadir dalam berbagai suasana, baik pada sarapan pagi, makan siang pekerja, hingga hidangan keluarga di rumah. Kehangatan kuahnya seolah menyatukan cerita sejarah, budaya, dan perjalanan panjang masyarakat Indonesia.
Hari Soto Nasional pun menjadi pengingat bahwa kekayaan Indonesia tak hanya tercermin dari alam dan budayanya, tetapi juga dari kuliner yang hidup dan terus berkembang. Dari mangkuk sederhana berisi kuah hangat, tersimpan kisah perdagangan, akulturasi budaya, serta kreativitas yang menjadikan soto sebagai salah satu identitas rasa bangsa. (ridho; foto dispar)