Indonesiasenang-, Suara denting perkusi sederhana yang berpadu dengan irama cepat dan penuh semangat kembali akan menggema di jalan-jalan pesisir Kabupaten Rembang. Tradisi khas bernama Festival Thong-Thong Lek 2026 dipastikan kembali hadir pada bulan suci Ramadan tahun ini, menghadirkan perpaduan budaya, seni, dan nuansa religius yang telah menjadi identitas masyarakat setempat.
Bagi warga Rembang, Thong-Thong Lek bukan sekadar pertunjukan musik. Ia adalah tradisi yang lahir dari kehidupan sosial masyarakat, tumbuh dari kebiasaan sederhana membangunkan sahur yang kemudian berkembang menjadi kesenian rakyat yang kaya kreativitas.
Sejarah Thong-Thong Lek berakar dari kebiasaan masyarakat pesisir yang membangunkan warga untuk sahur. Pada masa lalu, warga memanfaatkan alat-alat sederhana seperti kentongan bambu, galon bekas, hingga peralatan rumah tangga yang menghasilkan bunyi khas “thong-thong”.

Dari bunyi sederhana itulah kemudian lahir ritme yang semakin berkembang. Generasi muda mulai mengolahnya menjadi komposisi musik yang lebih dinamis. Perpaduan perkusi tradisional dengan irama cepat menciptakan energi khas yang membedakan Thong-Thong Lek dari tradisi serupa di daerah lain.
Seiring waktu, tradisi ini tidak hanya hadir sebagai aktivitas sahur, tetapi juga berkembang menjadi pertunjukan budaya yang dinanti setiap Ramadan. Pemerintah daerah memastikan Festival Thong-Thong Lek 2026 akan digelar pada 17 Maret 2026 dengan konsep arak-arakan keliling yang menjadi ciri khasnya.
Dijelaskan oleh Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’, bahwa pola penyelenggaraan festival tahun ini tetap mempertahankan sistem keliling seperti tahun sebelumnya. “Insyaallah tetap keliling. Tahun kemarin kita sudah mengadakan keliling, tahun ini juga kembali digelar. Untuk rutenya masih dalam pembahasan, tapi kemungkinan besar masih sama seperti tahun kemarin”, katanya.
Arak-arakan ini memungkinkan kemeriahan festival dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah yang dilalui peserta. Festival dijadwalkan mulai pukul 20.00 WIB, dengan titik start di Perempatan Zaeni dan finish di Gedung Haji Rembang.

Dalam festival ini, setiap kelompok peserta menampilkan kreativitas yang unik. Mereka menyusun aransemen musik perkusi, merancang kostum warna-warni, serta menghias kendaraan dorong yang menjadi panggung berjalan mereka.
Tak jarang, penampilan tersebut juga dipadukan dengan koreografi, unsur humor, hingga pesan-pesan religius yang menggambarkan semangat Ramadan.
Proses persiapan festival bahkan menjadi momen kebersamaan warga. Mulai dari merancang alat musik, membuat kostum, hingga menyusun konsep pertunjukan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat, terutama kalangan pemuda.
Pemerintah Kabupaten Rembang menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan tahunan. Thong-Thong Lek merupakan bagian dari warisan budaya daerah yang harus dijaga keasliannya.
Karena itu, konsep pertunjukan tetap menekankan penggunaan alat musik sederhana dan kreativitas tradisional, tanpa dominasi perangkat elektrik maupun unsur modern yang berlebihan. Pendekatan ini bertujuan menjaga karakter asli Thong-Thong Lek sebagai kesenian rakyat yang lahir dari kehidupan masyarakat.

Di tengah arus modernisasi, gema bunyi “thong-thong” tetap menjadi simbol kebersamaan masyarakat Rembang. Tradisi ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang solidaritas sosial, kreativitas generasi muda, dan kecintaan terhadap budaya leluhur.
Ketika malam Ramadan tiba dan irama perkusi mulai bergema di sepanjang jalan kota, Thong-Thong Lek seolah mengingatkan bahwa tradisi lokal dapat terus hidup, selama masyarakatnya tetap merawat dan mencintainya. Ramadan di Rembang pun kembali terasa istimewa dengan dipenuhi bunyi ritmis, warna-warni kostum, dan semangat budaya yang tak pernah padam. (dewa; foto hpkr)