Indonesiasenang-, Di tengah teriknya iklim tropis Indonesia, segelas es teler selalu menjadi jawaban yang menenangkan. Perpaduan alpukat lembut, kelapa muda segar, potongan nangka harum, dan sirup manis yang menyatu dengan es serut, bukan sekadar pelepas dahaga. Di balik kesegarannya, Es Teler 77 menyimpan kisah panjang tentang tradisi, perjuangan, dan sejarah kuliner Indonesia yang lahir dari kesederhanaan.
Akar cerita Es Teler 77 berjejak ke tanah Jawa Tengah, tepatnya Salatiga. Di kota berhawa sejuk itulah resep awal es teler diracik, menggabungkan kekayaan buah tropis Nusantara dengan sentuhan rasa manis alami. Nama “teler” sendiri bukan sekadar istilah populer. Ia berasal dari kata “telur”, merujuk pada penggunaan telur sebagai salah satu bahan dalam racikan awal minuman ini, sebuah teknik kuliner yang mencerminkan kreativitas dapur tradisional Indonesia pada masanya.
Angka “77” bukan hanya penanda merek, tetapi simbol waktu. Tahun 1977 menjadi tonggak ketika es teler mulai dikenal luas, seiring semangat zaman yang ditandai oleh inovasi dan keberanian mencoba hal baru. Dari situlah, es teler perlahan menjelma dari minuman rumahan menjadi ikon kuliner yang lintas generasi.
Sejarah Es Teler 77 secara resmi dimulai pada 7 Juli 1982. Di sebuah warung tenda sederhana di emperan Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat, pasangan suami istri Murniati Widjaja dan Trisno Budijanto memulai usaha dengan modal tekad dan resep keluarga. Racikan es teler buatan Murniati bukan resep biasa. Ia telah terbukti kualitasnya setelah memenangkan lomba membuat es serut, sebuah kemenangan yang menjadi titik balik perjalanan hidupnya.
Pada masa awal, perjuangan menjadi bagian tak terpisahkan dari rasa manis es teler itu sendiri. Murniati harus berjualan berpindah-pindah di pinggir jalan, kerap menghadapi razia penertiban. Namun, keterbatasan justru mengasah ketekunan. Dari satu pelanggan ke pelanggan lain, nama es teler buatannya mulai dikenal, disukai, dan dicari.
Babak penting dalam sejarah Es Teler 77 terjadi ketika Sukyatno Nugroho, sang menantu, mengambil peran strategis. Dengan naluri bisnis dan visi kewirausahaan yang kuat, ia melihat es teler bukan hanya sebagai minuman, tetapi sebagai identitas kuliner yang bisa tumbuh besar. Di tangannya, Es Teler 77 bertransformasi dari kaki lima menjadi jaringan restoran modern berbasis waralaba menjadikannya salah satu pionir waralaba kuliner asli Indonesia.
Tahun 1992 menjadi penanda era baru. Es Teler 77 mulai membuka gerai di pusat-pusat perbelanjaan, membawa cita rasa tradisional ke ruang modern tanpa kehilangan jiwanya. Dari sana, es teler tidak lagi sekadar minuman jalanan, tetapi simbol bagaimana kuliner lokal bisa naik kelas dan bersaing di pasar nasional.
Kisah hidup Sukyatno Nugroho sendiri mencerminkan filosofi Es Teler 77: sederhana, gigih, dan pantang menyerah. Lahir di Pekalongan pada 3 Agustus 1948, ia bukanlah sosok berprestasi secara akademik. Namun, keterbatasan itu justru menempa karakter wirausahanya. Kerja keras dan keberanian membaca peluang membawanya menjadi figur penting dalam sejarah bisnis kuliner Indonesia.
Kini, di bawah naungan PT Top Food Indonesia, Es Teler 77 telah memiliki ratusan gerai di 22 provinsi di Indonesia, bahkan menembus pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, dan Australia. Prestasi tersebut mengukuhkan es teler sebagai duta rasa Nusantara di kancah global. Pengakuan nasional pun datang melalui Enterprise Award 50 dari Andersen Consulting dan majalah SWA, yang menempatkan Sukyatno Nugroho sebagai teladan etos kerja dan kegigihan.
Seiring waktu, para perintisnya satu per satu berpulang. Sukyatno Nugroho wafat pada 2007, disusul pendiri Es Teler 77, Murniati Widjaja, yang meninggal dunia pada April 2025. Namun, warisan mereka tetap hidup. Setiap gerai Es Teler 77 menyimpan jejak sejarah, tentang bagaimana segelas minuman sederhana mampu menembus batas ruang dan waktu.
Kisah Es Teler 77 adalah potret perjalanan kuliner Indonesia itu sendiri: berangkat dari dapur dan emperan jalan, tumbuh lewat kerja keras, lalu menjadi kebanggaan nasional. Di setiap seruputannya, tersimpan cerita tentang tradisi, inovasi, dan semangat pantang menyerah yang terus mengalir, seteguh rasa manis yang tak lekang oleh zaman. (ridho; foto het)