Indonesiasenang-, Mengubah novel dengan cerita yang begitu luas menjadi tontonan audio visual bukan perkara sederhana. Tantangan tersebut dirasakan sutradara Dinna Jasanti ketika dipercaya menggarap series AGASKAR, yang diadaptasi dari novel populer dengan materi cerita mencapai ratusan halaman.
Dinna Jasanti mengambil pendekatan khusus dalam mengadaptasi novel AGASKAR menjadi series. Dengan materi cerita yang begitu luas, Dinna memilih tidak memaksakan seluruh isi novel masuk ke dalam delapan episode yang masing-masing berdurasi sekitar 45 menit.
Hal tersebut disampaikan Dinna Jasanti dalam acara Press Conference & Cast Reveal series AGASKAR di CGV FX Sudirman, Jakarta, Senin (31/08/2026).
Series AGASKAR sendiri terdiri dari delapan episode dengan kisah utama yang berpusat pada perjalanan Agaskar, termasuk dinamika hubungannya dengan Arazey. Namun, perjalanan tersebut juga akan diwarnai konflik dan dinamika belasan karakter lain yang pada akhirnya mengarah pada tema persaudaraan atau brotherhood.
"Jadi kita milih apa yang kita bisa memperkuatkan sih, memperkuatkan Agaskar, love line, romance, persahabatan, sisterhood, friendship, di mana itu semua yang kita ambil," ujar Dinna Jasanti.
Menurut Dinna Jasanti, keputusan tersebut menjadi penting karena materi dalam novel sangat banyak untuk dituangkan seluruhnya ke dalam format audio visual. Apalagi, cerita AGASKAR telah berkembang hingga beberapa buku. "Enggak mungkin kita bisa semuanya kita jabarin. Karena novel itu kan banyak imajinasinya juga, sementara kalau series itu kan audio visual”, katanya.
Dijelaskan oleh Dinna Jasanti, adaptasi novel ke series membutuhkan proses pemilihan cerita secara cermat. Tidak semua peristiwa dalam novel dapat begitu saja dipindahkan ke layar karena setiap adegan harus memiliki pembangunan konflik yang mengarah pada klimaks dan penyelesaian.
"Jadi emang lumayan tedious sih, lumayan kayak memilih yang mana ya, kita harus ceritain. Semoga pilihan kita benar," tutur Dinna.
Meski melakukan penyesuaian, Dinna Jasanti menegaskan bahwa AGASKAR tetap berangkat dari bobot cerita dan karakter yang terdapat dalam novel. Ia tidak ingin adaptasi tersebut kehilangan identitas cerita aslinya.
Menurut Dinna Jasanti, karakter sebisa mungkin tetap didekatkan dengan karakterisasi yang telah dibangun penulis di dalam novel. Namun, kebutuhan format series membuat tim kreatif harus memberikan lapisan tambahan pada sejumlah karakter. "Kalau kita perlu karakter tertentu untuk mendorong si ensemble itu lebih kuat, kayaknya kita perlu untuk nambahin layer-layer itu”, jelasnya.
Hal serupa dilakukan terhadap backstory karakter. Menurut Dinna Jasanti, sejumlah latar belakang perlu diperkuat apabila dibutuhkan untuk menjelaskan alasan di balik tindakan seorang karakter.
Dengan pendekatan tersebut, Dinna Jasanti ingin penonton tidak hanya melihat konflik yang terjadi, tetapi juga memahami perjalanan emosional setiap karakter. "Lebih baik kita fokus di karakter dan character development, itu akan membuat penonton akan lebih penasaran”, ujarnya.
Di tengah drama romansa dan hubungan antarkarakter, dunia geng motor tetap menjadi elemen penting dalam series AGASKAR. Dinna menyebut unsur teknis geng motor mengambil sekitar 20–30 persen dari keseluruhan cerita.
Konflik antargeng, perilaku para anggota, hingga kebiasaan sehari-hari menjadi bagian dari atmosfer series. Dua kelompok utama yang menjadi pusat rivalitas adalah Wolviper dan Walerus.
Wolviper digambarkan sebagai kelompok yang beranggotakan anak-anak SMA. Sementara Walerus merupakan kelompok yang lebih beragam karena terdiri dari anak SMA dan pihak dari luar lingkungan sekolah, termasuk anggota yang lebih berpengalaman.
Dinna Jasanti menilai perbedaan tersebut menjadi penting untuk membangun rivalitas yang terasa kuat. "Jadi gimana kita mencoba untuk bikin image yang siapa sih bisa nandingin Walfviper? Itu sangat penting sih. Kalau enggak, jadi kayak enggak ada pertandingan antara dua geng gitu, dan enggak seru”, katanya.
Terlebih, Walerus memiliki pengalaman lebih jauh di dunia geng motor dibandingkan anggota Wolviper yang relatif masih lebih baru. "Walaupun Walfviper itu udah keren, cuma gimana kita bersikeras konflik itu lebih keras kalau Walerus itu sama kerennya," lanjut Dinna Jasanti.
Identitas visual geng juga menjadi perhatian dalam proses adaptasi. Jaket hitam dan cokelat yang dikenakan para anggota menjadi salah satu elemen yang dipertahankan karena telah menjadi bagian dari dunia AGASKAR dalam novel.
Dinna Jasanti mengatakan logo dan jaket Wolviper memang telah diperkenalkan melalui novel, bahkan memiliki versi merchandise. Namun, ketika diterjemahkan ke dalam visual series, desain tersebut tetap disesuaikan agar terlihat lebih kuat di layar. "Di novelnya sendiri juga udah ada logonya Wolviper, jaketnya juga ada merch-nya. Jadi itu yang kita harus pakai”, ungkapnya.
Pendekatan visual tersebut sekaligus menjadi cara Dinna Jasanti mempertegas perbedaan karakter antara Wolviper dan Walerus.
Untuk karakter utama, Dinna Jasanti bersama tim memilih Jeremie Moeremans sebagai pemeran Agaskar. Pemilihan tersebut tidak hanya mempertimbangkan kemiripan fisik dengan gambaran karakter dalam novel, tetapi juga kemampuan akting.
Dinna Jasanti melihat Agaskar sebagai karakter yang memiliki banyak lapisan. Di satu sisi, ia merupakan pemimpin geng motor yang keras, emosional dan memiliki ego kuat. Namun di sisi lain, Agaskar mempunyai sisi rapuh, lembut, serta rasa kasih sayang terhadap keluarga.
"Jeremie mampu membawakan kompleksitas karakter Agaskar yang enggak hanya menampilkan sisi tangguh dan egois, tetapi juga sisi rapuh, lembut, dan kasih sayangnya terhadap keluarga”, jelas Dinna Jasanti.
Dalam press release Unlimited Production, Jeremie Moeremans disebut memerankan Agaskar, ketua geng motor Wolviper yang memiliki jiwa kepemimpinan kuat dan rasa keadilan. Sementara Vonzy berperan sebagai Arazey, perempuan cerdas dan berani yang terjebak dalam perjodohan serta berusaha mencari kebenaran di balik kasus yang menyeret orang yang dicintainya.
Sementara itu Fahad Haydra hadir sebagai Wave, pemimpin geng motor Walerus sekaligus rival utama Agaskar. Meski berseberangan dengan Agaskar, Wave memiliki sisi kesetiaan dan pengorbanan.
Pertemuan Agaskar, Arazey, dan Wave menjadi salah satu pusat konflik series yang memadukan rivalitas geng motor, romansa, rahasia, masa lalu, hingga pengorbanan.
Dengan Dinna Jasanti di kursi sutradara, AGASKAR diarahkan bukan sekadar menjadi tontonan mengenai geng motor, tetapi juga menjadi drama karakter yang menggambarkan persahabatan, brotherhood, sisterhood, cinta, keluarga, dan proses pendewasaan generasi muda.
Series AGASKAR merupakan adaptasi MAXSTREAM TV yang diproduksi Unlimited Production, dengan Oswin Bonifanz sebagai produser dan Cassandra Massardi sebagai penulis. Selain Jeremie Moeremans, Vonzy , dan Fahad Haydra, series ini juga dibintangi Axel Derian (Karvano), Trevyn zhang (William), Ryan Winter (Eveon), Denzel Noah (Savion), Christian (Arhez), Ryan novanda (Javas), Andrew Barret (Galen), Ratu Aulia (Vanda), Marsha JKT48 (Sonia), Adel Reva (Ansley), dan Shania Gracia (Aessy). Series AGASKAR dapat disaksikan hanya di MAXSTREAM TV. (satria; foto tcs)