Indonesiasenang-, JAKARTA – Banyak calon mahasiswa Indonesia yang bermimpi melanjutkan pendidikan ke Prancis. Namun di balik kualitas pendidikan yang diakui dunia dan pengalaman hidup di Eropa, terdapat tantangan adaptasi yang tidak selalu dibahas dalam persiapan keberangkatan.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar Persiapan Keberangkatan Kuliah di Prancis yang digelar Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta, Kamis (18/6/2026). Sejumlah alumni dan pendamping mahasiswa Indonesia di Prancis berbagi pengalaman mengenai kehidupan kampus, budaya, hingga cara beradaptasi di negeri tersebut.

Seminar persiapan kuliah di Prancis yang diselenggarakan IFI Jakarta untuk calon mahasiswa Indonesia tahun 2026.

Percaya Diri Jadi Kunci Adaptasi di Prancis
Salah satu alumni, Shena, menyoroti pentingnya rasa percaya diri saat pertama kali tiba di Prancis. Menurutnya, banyak mahasiswa internasional yang tanpa sadar terlalu memaksakan diri untuk diterima dalam lingkungan sosial baru.

"Saya dulu ingin sekali masuk ke lingkungan mereka. Karena terlalu memaksakan, akhirnya justru tidak bisa. Jadinya malah canggung dan tidak natural," ujarnya.

Shena mengaku sempat mengalami masa-masa minder ketika pertama kali tinggal di Prancis. Meski sudah belajar bahasa Prancis sebelum berangkat, kenyataan di lapangan ternyata berbeda dengan yang dibayangkan.

"Waktu pertama datang ke Prancis, saya sempat merasa minder. Di Indonesia rasanya sudah cukup percaya diri berbahasa Prancis. Tapi begitu sampai di sana, bahkan saat memesan makanan saja rasanya gugup," katanya.

Perasaan tersebut perlahan berubah setelah mendapatkan sudut pandang baru dari atasannya. Ia menyadari bahwa mahasiswa Indonesia sebenarnya memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki semua orang.

"Kita bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahkan mungkin bahasa lain. Sementara belum tentu mereka bisa bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk merasa lebih rendah," jelasnya.

Menurut Shena, rasa percaya diri menjadi salah satu kunci utama dalam proses adaptasi. Ketika mahasiswa berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai nyaman menjadi diri sendiri, hubungan sosial biasanya terbentuk secara alami.

"Begitu sudah percaya diri, bersosialisasi jadi jauh lebih mudah. Teman-teman datang dari kampus, klub, dan komunitas. Justru ketika saya berhenti memaksakan diri, hubungan pertemanan itu terbentuk dengan sendirinya," tuturnya.

Alumni Indonesia berbagi pengalaman dan tips adaptasi kehidupan mahasiswa selama kuliah di Prancis.

Jangan Hanya Berteman dengan Sesama Orang Indonesia
Selain rasa percaya diri, faktor lain yang dinilai sangat menentukan keberhasilan mahasiswa bertahan di Prancis adalah memiliki jaringan pertemanan yang luas.

Di sisi lain, Indah, Penanggung Jawab France Alumni Indonesia, mengatakan mahasiswa sebaiknya tidak hanya bergaul dengan sesama orang Indonesia. Menurutnya, teman dari berbagai latar belakang dapat menjadi sumber informasi sekaligus dukungan selama tinggal jauh dari keluarga.

"Ketika kita tinggal jauh dari keluarga, teman-teman itulah yang nantinya akan banyak membantu kita. Karena itu jangan hanya bergaul dengan orang Indonesia saja, tetapi coba juga berteman dengan mahasiswa lain," ujarnya.

Ia menyarankan mahasiswa baru untuk aktif mengikuti kegiatan kampus, organisasi, komunitas, maupun klub olahraga yang tersedia di universitas. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk bertemu orang baru dan memperluas relasi.

Nongkrong di Kafe Bisa Jadi Cara Memperluas Relasi
Menurut Indah, pada masa-masa awal kedatangan, mahasiswa sebaiknya tidak terlalu sering menolak ajakan untuk bersosialisasi.

"Kalau diajak ke kafe atau kegiatan bersama, ikut saja dulu satu atau dua kali. Tujuannya bukan harus selalu ikut, tetapi untuk membangun relasi dan mengenal orang baru," katanya.

Berdasarkan pengalamannya, mahasiswa yang kesulitan beradaptasi bukan selalu mereka yang memiliki kemampuan akademik rendah atau kemampuan bahasa yang kurang.

"Saya bisa jamin banyak siswa yang berangkat ke Prancis itu pintar-pintar. Nilainya bagus, prestasinya baik, dan kemampuan bahasa Prancisnya juga tinggi. Tapi ada yang tetap kesulitan beradaptasi," ujarnya.

Masalah yang paling sering ditemukan justru berkaitan dengan kemampuan membangun relasi.

"Sering kali bukan karena mereka tidak pintar atau bahasa Prancisnya kurang bagus. Masalahnya karena mereka tidak punya teman. Mereka terlalu pendiam dan akhirnya menghadapi semuanya sendirian," katanya melanjutkan.

Karena itu, ia mengingatkan calon mahasiswa untuk mulai melatih kemampuan bersosialisasi sejak sekarang. Keberanian untuk bertanya, memulai percakapan, dan membangun hubungan dengan orang baru akan sangat membantu selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional.

"Bukan cuma soal kuliah. Teman-teman itu yang nantinya membantu kita memahami kehidupan sehari-hari, tugas kampus, hingga proses adaptasi di lingkungan baru," Tutupnya.

Seminar Persiapan Kuliah di Prancis
Diselenggarakan oleh Campus France Indonesia – lembaga nasional Prancis yang bertugas  mempromosikan Prancis sebagai tujuan studi bagi mahasiswa internasional – bekerja sama  dengan PPI Prancis (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Prancis) dan France Alumni, acara ini  mencakup semua aspek mulai dari prosedur administratif hingga adaptasi budaya, kehidupan  mahasiswa, serta peluang akademik dan profesional setelah lulus. Beberapa pakar dan  alumni berbagi pengalaman mereka dalam menjawab pertanyaan praktis dari para mahasiswa  dan orang tua.

Seminar ini juga menampilkan partisipasi mitra institusional, termasuk Kedutaan Besar  Republik Indonesia di Prancis (KBRI Paris). Melalui konferensi video, tim menyampaikan pesan dukungan kepada calon mahasiswa dan memperkenalkan layanan yang ditawarkan  kepada diaspora Indonesia di Prancis. (kintan; praba)