Buku Para Pionir Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia Ungkap Banyak Sejarah Sepak Bola yang Kurang Tepat

Buku Para Pionir mengungkap sejarah Timnas Indonesia 1951–1960, meluruskan fakta keliru, dan menelusuri jejak para tokoh sepak bola nasional

Buku Para Pionir Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia Ungkap Banyak Sejarah Sepak Bola yang Kurang Tepat

Indonesiasenang-, Sejarah Tim Nasional (Timnas) Indonesia menyimpan banyak fakta yang belum diketahui publik, termasuk mengenai generasi awal sepak bola nasional setelah kemerdekaan. Melalui buku Para Pionir Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960, Dimas Wahyu Indrajaya bersama Aulli Reza Atmam berupaya mengungkap kembali perjalanan Timnas Indonesia sekaligus meluruskan sejumlah informasi sejarah yang kurang tepat.

Buku sejarah sepak bola Indonesia tersebut dicetak sebanyak 230 eksemplar dan terbagi menjadi dua jilid. Peluncurannya berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026, di Museum Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

Aulli mengatakan, penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan melihat berbagai catatan sejarah yang tersimpan, tetapi belum banyak diketahui masyarakat. Sepak bola menjadi salah satu bidang yang menurutnya perlu ditelusuri dan diperkenalkan kembali kepada publik.

"Bisa dibilang ini lahir dari rasa gemas karena banyak sejarah tertulis di buku, namun hanya tergeletak di sudut ruangan. Salah satunya tentang sepak bola kita. Inilah yang jadi inspirasi kita untuk membuat buku ini, walau dalam prosesnya memakan waktu cukup lama”, ungkap Aulli.

Mengapa Sejarah Timnas Indonesia Periode 1951–1960 Dipilih?

Pemilihan periode 1951–1960 bukan tanpa alasan. Indonesia ketika itu masih menghadapi tantangan besar setelah melalui perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan dua kali Agresi Militer Belanda. Pengakuan kedaulatan Indonesia baru diperoleh pada 1949, sehingga dekade 1950-an menjadi periode penting dalam pembentukan identitas bangsa, termasuk melalui sepak bola.

Dimas menjelaskan, berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 1930 tidak berarti Timnas Indonesia sudah terbentuk dan berkompetisi dengan identitas yang sama sejak masa tersebut.

"PSSI sendiri telah berdiri sejak 1930. Namun, keberadaan organisasi tersebut tidak serta-merta berarti timnas Indonesia sudah terbentuk. Tim yang tampil pada Piala Dunia 1938 di Prancis merupakan tim Hindia Belanda, bukan timnas Indonesia. Saat itu, tim tersebut mewakili pemerintahan kolonial dan berada di bawah organisasi sepak bola Hindia Belanda, NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie). Nah ini salah satu sejarah yang nggak banyak orang tahu," ujar Dimas.

Pada Februari 1951, Timnas Indonesia mulai tampil di hadapan publik melalui pertandingan uji coba melawan tim dari Singapura. Pertandingan tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi Asian Games 1951 di New Delhi, India.

Perjalanan Timnas Indonesia kemudian menunjukkan perkembangan di berbagai kompetisi internasional. Setelah mengalami kekalahan dari India pada Asian Games 1951, Indonesia berhasil mencapai semifinal Asian Games 1954 di Manila, Filipina.

Pencapaian penting lainnya terjadi pada Olimpiade Melbourne 1956. Timnas Indonesia mampu menahan imbang Uni Soviet dengan skor 0-0. Kala itu, Uni Soviet diperkuat penjaga gawang legendaris Lev Yashin. Hasil pertandingan tersebut mendapat perhatian media internasional, termasuk La Stampa dari Italia dan Liverpool Echo dari Inggris.

Meluruskan Fakta Sejarah Sepak Bola Indonesia

Selain mendokumentasikan perjalanan Timnas Indonesia, buku ini juga menyoroti kekeliruan informasi yang telanjur beredar mengenai tokoh-tokoh sepak bola nasional.

Dimas mencontohkan kisah Ramang, pemain legendaris asal PSM Makassar. Dalam sejumlah tulisan, Ramang disebut dipanggil ke Timnas Indonesia pada 1953 oleh Toni Pogacnik, pelatih yang menangani tim PON. Namun, berdasarkan penelusuran yang dilakukan, pemanggilan tersebut justru dilakukan oleh Choo Seng Quee, pelatih asal Singapura.

Dimas juga menyoroti penyebaran informasi sejarah yang tidak akurat melalui platform digital, terutama ketika konten tersebut menjangkau banyak penonton.

"Kekeliruan lain ditemukan dalam konten digital yang dibuat konten kreator, yang nonton sampai 600 ribu views, yang memberikan informasi tidak sesuai dengan sejarah," ungkap Dimas.

Untuk memeriksa kebenaran informasi, Dimas menelusuri berbagai sumber, mulai dari majalah dan koran lama, dokumentasi foto dan video, hingga arsip notulen rapat PSSI.

"Awalnya, saya membaca majalah-majalah lama atau artikel lawas. Saya masih ingat betul, pertama kali menemukan informasi itu di majalah Start Weekly tahun 1956. Saat itu, Indonesia bertanding melawan Amerika Serikat sebelum diberangkatkan ke Olimpiade Melbourne, Australia. Kalau tidak salah, Indonesia menang 5-3 atau 6-3 gitu. Itu membuat saya penasaran siapa saja pencetak golnya. Akhirnya, saya mencoba mencari informasi lebih jauh melalui koran-koran lain, seperti Merdeka dan Kedaulatan Rakyat. Saya juga mencari foto, video, hingga menemukan notulen rapat PSSI. Dari berbagai sumber itu, saya mencoba menelusuri kembali sejarah sepak bola Indonesia." kata Dimas.

Penelusuran sumber dan pencocokan data tersebut dilakukan sejak 2018 hingga 2024. Proses ini menjadi bagian penting dalam memastikan informasi yang disajikan dalam buku memiliki dasar dokumentasi yang dapat ditelusuri.

Melalui buku Para Pionir Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960, Dimas dan Aulli berharap masyarakat dapat mengenal lebih dekat para pemain dan tokoh yang membangun fondasi sepak bola nasional. Buku ini juga menjadi upaya untuk menguji kembali informasi yang beredar agar sejarah Timnas Indonesia tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga didukung arsip dan sumber yang terverifikasi. (kintan; foto praba)


Share Tweet Send
0 Komentar
Memuat...
You've successfully subscribed to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Great! Next, complete checkout for full access to Indonesia Senang Dot Com - Semampu kita bisa dan lakukan keSENANGanmu
Welcome back! You've successfully signed in
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.