Indonesiasenang-,  Buku bukan sekadar kumpulan cerita, tetapi juga menyimpan identitas dan sejarah sebuah bangsa. Gagasan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam program Books and Identity Over Coffee: Vienna-Kyiv-Jakarta, sebuah kolaborasi budaya yang mempertemukan Ukraina, Austria, dan Indonesia melalui sastra serta diskusi lintas budaya yang berlangsung di Kedutaan Besar Austria, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin, 19 Oktober 2026. Tak hanya itu, sesuai tajuk, kopi juga menjadi salah satu cara menghangatkan suasana, karena para tamu yang hadir dapat menikmati sajian kopi dan pastry nan manis.

Tetiana Lytvynenko, Program Manager untuk Indonesia dan India di Ukrainian Institute yang berbasis di Kyiv, menjelaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa, terutama di tengah situasi sulit yang dihadapi Ukraina.

Menurut Tetiana Lytvynenko, kondisi Ukraina yang belum membaik membuat upaya menjaga warisan literasi semakin penting. Ia menyoroti buku-buku yang dibakar dan dirusak oleh Rusia sebagai salah satu alasan untuk memberikan perhatian lebih terhadap sastra.

“Sastra merupakan sesuatu yang menyimpan sejarah kita, sejarah bangsa kita,” ujar Tetiana Lytvynenko.

Ia menilai, sastra dapat menjadi penghubung bagi masyarakat dari berbagai negara. Meskipun Ukraina, Austria, dan Indonesia memiliki pengalaman sejarah berbeda, ketiganya dapat bertemu melalui pembahasan isu sosial dan politik.

Kolaborasi Budaya Ukraina, Austria, dan Indonesia
Program Books and Identity Over Coffeemerupakan bagian dari kolaborasi budaya Ukraina dan Austria yang didukung Kementerian Luar Negeri Austria dengan melibatkan Indonesia.

Program ini menjadi proyek kolaborasi kedua setelah sebelumnya ketiga negara bekerja sama membuat mural bertema ekologi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Proyek tersebut melibatkan muralis dari Ukraina, Indonesia, dan Austria.

Jika proyek sebelumnya mengangkat isu lingkungan melalui seni visual, program kali ini menggunakan buku dan sastra sebagai medium untuk membahas identitas, sejarah, serta persoalan sosial dan politik.

Bagi Tetiana Lytvynenko, kolaborasi lintas negara memberikan kesempatan untuk mempertemukan perspektif berbeda sekaligus membangun pemahaman mengenai pengalaman masyarakat di negara lain.

Berlanjut ke Ubud Writers & Readers Festival 2026
Kolaborasi budaya tersebut juga berlanjut melalui Ukrainian-Austrian Literature Café dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival di Bali, pada 21-25 Oktober 2026.

Melalui kegiatan bertajuk Writers in Café, diskusi sastra akan menghadirkan sejumlah penulis, termasuk Stefan dan Irena. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi penulis Indonesia dan negara lain untuk berbagi pengalaman.

Ditegaskan oleh Tetiana Lytvynenko bahwa kolaborasi menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Menurutnya, acara sastra seharusnya tidak hanya menjadi tempat bagi penulis Ukraina dan Austria untuk berbagi cerita, tetapi juga memberikan kesempatan bagi penulis Indonesia untuk menyampaikan perspektif mereka.

Budaya Ngopi Menyatukan Perbedaan
Selain sastra, budaya minum kopi juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan masyarakat lintas negara. "Di Ukraina, kafe menjadi tempat untuk membaca, berpikir, atau ngobrol bersama teman dan keluarga. Saya terbiasa menikmati kopi bersama ibu saya pada akhir pekan sambil mengobrol santai", kata Tetiana Lytvynenko.

Ia juga menyukai kopi Indonesia yang menurutnya memiliki rasa lebih kuat dan kaya. Kopi Sumatera, misalnya, memberikan kesan menarik melalui karakter herbal dan cokelat. Sementara itu, kopi Ukraina yang pernah dicobanya cenderung menghadirkan rasa kacang, karamel, dan cokelat.

Melalui Books and Identity Over Coffee, buku dan kopi menjadi dua medium sederhana untuk mengenal budaya lain, berbagi pengalaman, serta membangun hubungan yang lebih dekat antara Ukraina, Austria, dan Indonesia. (kintan; foto praba)