Indonesiasenang-, Film horor Tolong Saya! (Dowajuseyo) hadir sebagai sajian horor urban modern yang memadukan latar Korea Selatan dengan sudut pandang karakter asal Indonesia. Mengangkat mitos urban, konflik emosional, serta sentuhan romansa, film ini menawarkan pengalaman menegangkan yang terasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari, khususnya bagi mereka yang pernah atau sedang hidup di negeri asing.
Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, Tolong Saya! (Dowajuseyo) menggabungkan horor psikologis dan unsur mistik secara seimbang. Alih-alih mengandalkan jumpscare semata, film ini bermain pada tekanan batin, rasa bersalah, trauma, dan ketakutan yang tumbuh perlahan di dalam pikiran tokoh utamanya.
Ketegangan dibangun secara bertahap melalui atmosfer yang dingin, permainan suara yang subtil, serta visual minimalis namun efektif. Penonton diajak masuk ke dalam perspektif Tania, seorang mahasiswa Indonesia di Korea Selatan, yang kondisi mentalnya kian tergerus seiring meningkatnya teror yang ia alami.
Film ini dibintangi oleh Saskia Chadwick sebagai Tania, bersama Cinta Brian, Aruma Khadijah, Dito Darmawan, dan William Roberts. Deretan aktor Korea Selatan seperti Kim Geba dan Kim Seoyoung turut memperkuat nuansa lintas budaya. Menariknya, film ini juga menjadi debut layar lebar kreator digital asal Korea Selatan, Bung Korea.
Salah satu kekuatan utama Tolong Saya! (Dowajuseyo) terletak pada pengangkatan mitos urban Korea tentang larangan menolong orang asing di malam hari. Dalam kepercayaan tertentu, mitos ini diyakini sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan makhluk tak kasatmata. Film ini mengemas mitos tersebut secara kontekstual dengan kehidupan modern, sehingga terasa relevan dan membumi.
Kisah bermula dari kehidupan Tania yang awalnya berjalan normal sebagai mahasiswa asing. Rutinitas kuliah, adaptasi budaya, dan perjuangan hidup di kota besar Korea Selatan menjadi kesehariannya. Namun segalanya berubah ketika suatu malam ia menolong orang asing di tengah kota. Tindakan empati yang tampak sederhana itu justru menjadi awal dari rangkaian peristiwa mengerikan.
Sejak kejadian tersebut, Tania mulai mengalami gangguan-gangguan yang sulit dijelaskan secara logika. Bayangan misterius, suara tanpa wujud, hingga mimpi buruk yang terasa nyata menghantui hari-harinya. Tanpa disadari, ia terseret ke dalam dunia arwah, membuat batas antara realitas dan dunia tak kasatmata semakin kabur.
Di tengah teror yang terus meningkat, Tania juga dihadapkan pada konflik emosional dan kisah cinta yang rumit dengan Dion. Unsur drama romantis ini menjadi elemen penting yang memperkaya narasi, sekaligus memperdalam dilema batin Tania antara empati, cinta, dan kebutuhan untuk melindungi diri.
Secara visual, film ini memanfaatkan atmosfer kota besar Korea Selatan yang dingin dan sunyi. Lorong bawah tanah, apartemen sempit, serta jalanan malam yang sepi menjadi latar yang memperkuat rasa terisolasi dan tekanan psikologis. Nuansa horor urban modern terasa kuat dan konsisten sepanjang film.
Disampaikan olehProduser Eksekutif Herty Purba, bahwa keterlibatan para talenta muda dalam film ini sebagai pengalaman yang membanggakan, sekaligus kontribusi baru bagi perkembangan film horor Indonesia. Sementara itu, Saskia Chadwick mengaku peran Tania menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan karier aktingnya. Kim Geba pun menyampaikan rasa syukurnya karena Tolong Saya! (Dowajuseyo) menjadi debut layar lebar baginya.
Di balik kisah horor yang mencekam, film ini menyampaikan pesan moral tentang empati, pilihan hidup, dan konsekuensi dari niat baik yang tidak disertai kewaspadaan. Penonton diajak merenung bahwa tidak semua kebaikan dapat dilakukan tanpa pertimbangan, terutama ketika keselamatan diri sendiri dipertaruhkan.
Film Tolong Saya! (Dowajuseyo) dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Januari 2026. Kehadirannya diprediksi akan meramaikan deretan film horor awal tahun dengan konsep cerita segar dan pendekatan lintas budaya yang jarang diangkat di perfilman Indonesia. (alvin ; foto hfts)