Indonesiasenang-, Industri kecantikan tidak lagi hanya berbicara mengenai inovasi produk, efektivitas bahan, maupun tren kecantikan. Aspek keberlanjutan atau sustainability kini menjadi bagian penting dalam pertumbuhan industri beauty, mulai dari sumber bahan baku, kesejahteraan pemasok, proses produksi, hingga perilaku konsumen setelah menggunakan produk.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam talkshow panel bertajuk “The Beauty of Reimagining Growth by Paragon Corp”, yang menjadi bagian dari rangkaian IISF 2026. Diskusi tersebut digelar di Paragon Community Hub, Jalan Swadaya Raya No. 41, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2026).

Talkshow menghadirkan Moderator Rebekka Angelyn selaku Project Advisor IBC Bloeconomy Activator, serta Prita Anggriana dari IFF, Herlina Hartanto dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Ridwan Sonjaya selaku Deputy Group Head of Research and Development Paragon Corp, dan Gita Syahrani selaku Head of Executive Board Koalisi Ekonomi Membumi.

Dalam diskusi tersebut, Ridwan Sonjaya menegaskan bahwa sustainability dalam industri kecantikan memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar penggunaan bahan baku yang berasal dari sumber alami atau ramah lingkungan.

Menurut Ridwan Sonjaya, keberlanjutan perlu dilihat sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemilik merek, pemasok, regulator, hingga konsumen. “Kalau ngomongin sustainability, itu nggak hanya dari segi raw material saja, dari nature saja, tapi sesuatu yang memang berhubungan dengan ekosistem”, ujarnya.

Dijelaskan oleh Ridwan Sonjaya, produk kecantikan yang disebut sustainable tidak cukup hanya dilihat dari kandungan atau bahan bakunya. Ada proses panjang yang perlu diperhatikan, termasuk bagaimana bahan baku diperoleh, bagaimana petani diperlakukan secara adil, hingga kemampuan industri melakukan pelacakan terhadap sumber bahan tersebut.

“Tidak seperti itu. Mungkin yang lain sampai sebatas melihat bahwa produk beauty itu sustainable dari segi raw material-nya, padahal sustainable di sini ada cerita panjang”, kata Ridwan Sonjaya.

Menurut Ridwan Sonjaya, praktik berkelanjutan dalam industri kecantikan juga berkaitan erat dengan kualitas, keamanan, efikasi, serta konsistensi bahan yang digunakan dalam produk. Paragon, kata dia, melihat pentingnya kemampuan melakukan penelusuran bahan baku atau traceability, termasuk mengetahui asal bahan, proses riset yang dilakukan, hingga memastikan konsistensi kualitas dan keamanan bahan tersebut.

“Kita bisa trace bahan bakunya itu dari mana source-nya. Kita juga bisa trace bagaimana riset-riset yang kita lakukan di balik suatu raw material”, jelas Ridwan Sonjaya.

Pendekatan tersebut membuat konsep sustainability tidak berhenti pada produk akhir, tetapi turut memperhatikan perjalanan sebuah bahan sebelum masuk ke dalam formulasi produk kecantikan.

Ridwan Sonjaya menyebut pendekatan tersebut sebagai “beyond sustainability”, karena mencakup berbagai aspek dalam rantai nilai industri kecantikan.

Indonesia sendiri dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan bahan baku kecantikan yang bersumber dari biodiversitas lokal. Kekayaan alam Indonesia dapat menjadi salah satu sumber inovasi bagi industri beauty apabila dikembangkan dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Ridwan Sonjaya menilai potensi tersebut tidak kalah besar dibandingkan negara yang selama ini dikenal kuat dalam mengembangkan produk berbasis bahan alami. “Indonesia sendiri biodiversity-nya sangat tinggi. Sehingga potensi biodiversity untuk dikonversi menjadi ingredient yang sustainable itu sangat tinggi”, tuturnya.

Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, terutama pembangunan infrastruktur, teknologi pengolahan, serta ekosistem sustainability yang menghubungkan industri, pemasok, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya. “Industri jalan sendiri, supplier jalan sendiri, regulatory juga masih belum firm, belum ditambah birokrasi”, kata Ridwan Sonjaya.

Ditambahkan oleh Ridwan Sonjaya bahwa dari sisi kualitas produk dan pengujian klinis, kemampuan industri kecantikan Indonesia sebenarnya sudah dapat bersaing dengan negara lain. Tantangan yang masih perlu diperkuat adalah perjalanan menuju ekosistem yang benar-benar berkelanjutan.

Penggunaan bahan alami juga bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah variabilitas bahan baku yang dipengaruhi oleh siklus panen, kondisi alam, hingga teknologi ekstraksi.

Ridwan Sonjaya memberikan contoh illipe nut atau tengkawang dari Kalimantan yang memiliki siklus panen tertentu. Kondisi tersebut membuat ketersediaan bahan tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan industri dalam jumlah besar secara cepat. “Produk-produk natural itu memang secara natural variabilitasnya tinggi. Mereka dipengaruhi harvesting cycle”, ujarnya.

Selain ketersediaan, proses ekstraksi juga menjadi tantangan. Teknologi pengolahan bahan alami yang belum merata dapat memengaruhi karakteristik bahan, seperti warna dan aroma. Dalam industri kecantikan, hal tersebut menjadi penting karena karakteristik bahan akan berpengaruh terhadap kualitas dan pengalaman konsumen ketika menggunakan produk.

Tantangan lainnya adalah penelitian dan pengujian klinis terhadap bahan alami. Ridwan mengatakan masih terdapat produsen bahan yang lebih banyak mengandalkan referensi penelitian yang sudah tersedia dibandingkan melakukan pengujian langsung terhadap manusia.

Padahal, klaim produk kecantikan membutuhkan dukungan data yang kuat untuk memastikan manfaat dan keamanan bahan yang digunakan.

Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan turut mendorong industri kecantikan untuk berinovasi secara lebih berkelanjutan.

Ridwan Sonjaya melihat perubahan tersebut sebagai peluang bagi industri untuk memperluas inovasi, karena meningkatnya literasi konsumen mengenai sustainability akan berpengaruh terhadap permintaan terhadap produk dan praktik yang lebih bertanggung jawab. “Dengan awareness yang makin tinggi terhadap sustainability, maka demand untuk inovasi yang sustainable itu juga makin meningkat”, katanya.

Perubahan perilaku tersebut juga tidak terlepas dari berbagai peristiwa yang membuat masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan dan membangun masa depan yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan manusia, tetapi juga alam.

Komitmen sustainability Paragon juga diarahkan pada pengelolaan kemasan setelah produk digunakan konsumen. Salah satu program yang diperkenalkan adalah Paragon Empty Station (PES), yakni fasilitas pengumpulan sampah produk kecantikan yang memungkinkan konsumen mengembalikan kemasan kosong dari berbagai merek.

“Empty Station ini adalah empty station sampah beauty pertama yang menerima semua brand”, ujar Ridwan Sonjaya.

Melalui program tersebut, konsumen dapat membawa kemasan produk kecantikan yang sudah kosong ke lokasi PES untuk dikumpulkan. Program ini tidak hanya ditujukan untuk kemasan produk Paragon, tetapi juga membuka kesempatan bagi konsumen untuk mengembalikan kemasan dari merek lain.

Paragon memberikan sistem poin sebagai salah satu bentuk insentif bagi konsumen. Ridwan menjelaskan, kemasan produk Paragon mendapatkan poin yang berbeda dengan kemasan non-Paragon. Poin tersebut kemudian dapat digunakan untuk berbelanja melalui platform e-commerce yang telah menjadi bagian dari mekanisme program.

Menurut Ridwan Sonjaya, pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong kebiasaan konsumen untuk membuang dan mengelola kemasan produk beauty di tempat yang tepat.

Saat ini, Paragon Empty Station masih berada dalam tahap pilot project. Ridwan Sonjaya menyebut terdapat sekitar 10 titik yang ditempatkan di sejumlah lokasi, termasuk flagship store Paragon, kawasan Bintaro, Universitas Indonesia, dan Masjid Istiqlal. Program tersebut masih dalam tahap evaluasi untuk melihat respons dan perubahan perilaku masyarakat.

Salah satu indikator yang diperhatikan adalah peningkatan jumlah sampah kemasan beauty yang berhasil dikumpulkan. Semakin meningkatnya volume pengumpulan dapat menjadi salah satu tanda bahwa konsumen semakin terbiasa membawa dan mengelola kembali kemasan produk kecantikan mereka.

Jika hasil evaluasi menunjukkan perkembangan positif, jumlah titik pengumpulan akan diperluas sehingga dampaknya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Bagi Paragon, sustainability pada akhirnya bukan hanya persoalan bagaimana perusahaan membuat produk kecantikan dengan bahan yang lebih bertanggung jawab, tetapi juga bagaimana seluruh rantai pasok dan konsumen dapat tumbuh bersama.

“Supplier-supplier kami juga, partner-partner kami juga harus ikutan growth, harus ikutan terlibat dalam supply chain yang sustainable”, ujar Ridwan Sonjaya.

Melalui pendekatan tersebut, pertumbuhan industri kecantikan diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi bagi konsumen, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pemasok, masyarakat, serta lingkungan.

“Harapannya juga memang kita bikin dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk ditempati”, pungkas Ridwan Sonjaya. (satria; foto tcs)