Indonesiasenang-, Rilis trailer Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa pada 26 Januari 2026 menandai kembalinya salah satu ikon paling berpengaruh dalam sejarah budaya populer Indonesia. Namun alih-alih kembali sebagai sosok arwah penuh teror, Suzzanna hadir sebagai manusia rapuh, tertindas, dan terjebak dalam pusaran kekuasaan yang kejam.
Diproduksi Soraya Intercine Films, film ini membuka lembaran baru semesta Suzanna dengan pendekatan yang lebih membumi. Horor tidak lagi semata hadir melalui wujud gaib, tetapi melalui praktik penindasan, penyalahgunaan ilmu hitam, dan kekuasaan absolut yang tumbuh subur di ruang-ruang sunyi masyarakat desa.
Sosok Bisman (Clift Sangra) digambarkan sebagai representasi penguasa lokal yang menjadikan santet dan teror sebagai alat kontrol. Kematian ayah Suzzanna akibat praktik ilmu gelap menjadi titik balik yang memaksa sang tokoh utama memilih jalan yang selama ini ia takuti. Santet, dalam film ini, bukan sekadar elemen horor, melainkan simbol perlawanan yang lahir dari keputusasaan.
Namun film ini menolak narasi hitam-putih. Ketika Suzzanna jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), seorang pria religius yang menjunjung nilai kemanusiaan, konflik bergeser ke ranah batin. Dendam dan cinta berjalan berdampingan, menghadirkan pertanyaan moral tentang batas dosa dan harga sebuah keadilan.
Disutradarai Azhar Kinoi Lubis, Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa dikembangkan sebagai horor-aksi dengan visual yang lebih agresif dan ritme yang intens. Skenario garapan Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya memperluas makna horor sebagai medium refleksi sosial, bukan sekadar hiburan ketakutan.
“Cerita ini sangat dekat dengan realitas. Ia berbicara tentang bagaimana kekuasaan dapat melahirkan kekerasan, dan bagaimana korban sering kali dipaksa memilih jalan gelap”, ujar produser Sunil Soraya.
Secara kultural, film ini juga menjadi upaya pelestarian ikon Suzzanna. Tim produksi melakukan riset mendalam terhadap arsip film-film klasik Suzzanna, kemudian membangun ulang wajah ikonis tersebut melalui teknologi CG base mesh yang diaplikasikan secara detail pada performa Luna Maya. Pendekatan ini menjembatani ingatan generasi lama dan penonton baru.
Bagi Luna Maya, ini merupakan kali ketiga ia memerankan Suzzanna sekaligus satu-satunya proyek film layar lebar yang ia bintangi sepanjang 2026. “Suzzanna di film ini adalah manusia biasa yang terluka. Ia tidak menakutkan karena wujudnya, tapi karena pilihan-pilihan yang ia ambil”, ujarnya.
Sementara itu, Reza Rahadian menilai karakter Pramuja sebagai penyeimbang moral dalam cerita. “Hubungan mereka memperlihatkan konflik nilai yang sangat manusiawi dan relevan dengan kehidupan sosial kita”, katanya.
Dengan deretan pemain lintas generasi seperti Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, El Manik, Yatti Surachman, hingga figur budaya pop seperti Iwa K dan Nunung, film ini menegaskan posisinya sebagai karya horor yang berdialog dengan budaya.
Setelah kesuksesan Suzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) dan Suzanna: Malam Jumat Kliwon (2023), film Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada Lebaran 2026, membawa horor Indonesia ke ruang yang lebih gelap, manusiawi, dan sarat makna. (ridho; foto hsdad)