Indonesiasenang-, Festival musik tidak lagi sekadar menghadirkan deretan musisi populer di atas panggung megah. Di tengah menjamurnya konser dan perhelatan musik di berbagai kota, Sunset di Kebun Bogor 2026 justru menawarkan pengalaman yang berbeda: menikmati alunan musik di ruang terbuka hijau dengan latar senja, udara segar, dan suasana alam yang menenangkan.
Digelar pada 09 hingga 10 Mei 2026 di Kebun Raya Bogor, festival ini kembali menjadi ruang temu antara musik, lingkungan hidup, dan wisata alam dalam satu pengalaman yang intim sekaligus reflektif. Kehadiran pepohonan rindang, hamparan taman botani, serta atmosfer senja menjadikan setiap penampilan terasa lebih dekat dan hangat bagi para pengunjung.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2022, Sunset di Kebun konsisten membawa semangat ramah lingkungan melalui konsep hiburan berbasis konservasi. Tahun ini, festival tersebut kembali mengusung tema Music Show with Green, Conservation and Culture Movement, sebuah pendekatan yang memadukan pertunjukan musik dengan edukasi lingkungan serta pelestarian budaya.
Tak hanya menghadirkan konser musik, festival ini juga mengajak pengunjung untuk terlibat dalam berbagai aktivitas kreatif berbasis alam. Melalui program Lestari dan pengembangan Plant Heroes, pengunjung diajak memahami pentingnya menjaga ekosistem, mengenal spesies tanaman, hingga membangun kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Kamii ingin Sunset di Kebun Series menjadi ruang di mana hiburan dan edukasi berjalan bersamaan. Melalui program yang kami hadirkan, pengunjung dapat menikmati musik sekaligus mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga alam dan keberlanjutan ekosistem”, kata Michael Bayu A Sumarijanto selaku Presiden Direktur PT Mitra Natura Raya.
Rangkaian Sunset di Kebun Bogor 2026 sendiri menjadi bagian dari Sunset di Kebun Series 2026, festival musik nasional yang menghadirkan tiga konsep berbeda, yakni Sunset di Kebun, Sunset di Pantai, serta program terbaru Jazz di Kebun. Ketiganya dirancang sebagai ekosistem hiburan berbasis alam yang mengedepankan pengalaman wisata berkelanjutan.

Dari sisi musikalitas, Sunset di Kebun 2026 menghadirkan kombinasi musisi lintas genre mulai dari indie, pop alternatif hingga folk. Pada hari pertama, penonton disuguhkan penampilan Fiersa Besari, Idgitaf, Bernadya, The Adams, dan Adrian Khalif. Karakter musik yang emosional dan personal dari para musisi tersebut terasa menyatu dengan lanskap alam terbuka Kebun Raya Bogor.
Sementara itu, hari kedua menghadirkan energi berbeda lewat penampilan Barasuara, .Feast, Rumahsakit, Hindia, dan Tanayu. Perpaduan lirik reflektif, eksplorasi musikal, dan energi panggung yang kuat membuat festival ini terasa bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang kontemplasi di tengah alam.
Salah satu area yang mencuri perhatian adalah Natura, sebuah ruang interaktif yang menghadirkan aktivitas merangkai bunga. Di area ini, pengunjung dapat menikmati sisi festival yang lebih tenang dan kreatif sambil mengenal keindahan flora secara lebih dekat. Aktivitas tersebut menjadi simbol bagaimana festival musik dapat menjadi medium untuk membangun apresiasi terhadap lingkungan hidup secara sederhana namun bermakna.
Kolaborasi antara PT Mitra Natura Raya dengan pengelola kebun raya di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional serta dukungan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menjadi fondasi penting dalam penyelenggaraan acara ini. Sinergi tersebut memperlihatkan bagaimana industri musik dan wisata dapat berjalan berdampingan dengan misi konservasi dan edukasi lingkungan.

“Sebagai pengelola Kebun Raya, kami membawa tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan nilai konservasi kepada publik. Sunset di Kebun Series menjadi cara kami menyampaikan pesan tersebut melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda, yaitu musik dan pengalaman langsung di alam”, ujar Marga Anggrianto selaku Managing Director PT Mitra Natura Raya.
Melalui perpaduan musik, wisata alam, dan gerakan konservasi, Sunset di Kebun 2026 menunjukkan bahwa festival musik masa kini tidak hanya tentang keramaian panggung, tetapi juga tentang bagaimana hiburan mampu menghadirkan kesadaran baru terhadap pentingnya menjaga bumi dan ruang hijau untuk generasi mendatang. (sugali; foto hsk)