Indonesiasenang-, Awal Februari 2026 di Jakarta dibuka dengan sebuah perayaan sunyi yang penuh rasa. Di Balai Budaya, sejak 1 hingga 8 Februari, denyut seni cat air mengalir lembut melalui pameran bertajuk Smara Bhumi, sebuah ruang temu antara cinta, bumi, dan kepekaan personal para perupa.
Digelar oleh komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS), pameran ini menghadirkan 31 perupa dengan latar, karakter, dan bahasa visual yang beragam. Namun, semuanya dipertautkan oleh satu benang merah: upaya membaca ulang relasi manusia dengan rasa, alam, dan kebersamaan, melalui medium cat air yang jujur dan tak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.
Rencananya dibuka oleh pencinta seni Sihaan Farnandes pada Minggu, 1 Februari 2026, Smara Bhumi menjelma bukan sekadar pameran, melainkan pengalaman estetik yang mengajak pengunjung berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kota dan mendengarkan suara batin.
Dalam katalog pameran, pengamat seni Bambang Asrini mengurai bahwa Smara Bhumi sejatinya merujuk pada frasa lengkap Smara Bhumi Adimanggala. Smara berarti cinta, Bhumi adalah tanah, menjadi simbol kerendahan dan kedekatan, sementara Adimanggala dimaknai sebagai kasih agung yang mengayomi.
Bagi Bambang Asrini, frasa ini kerap menjadi rujukan tentang kepemimpinan atas diri sendiri: bagaimana cinta, ketulusan, dan keberpihakan pada semesta diwujudkan dalam tindakan. Dalam konteks pameran, seni menjadi medium perayaan nilai-nilai itu, sebuah ikhtiar para seniman untuk kembali mendekat pada alam dan kodrat kemanusiaan.
Ketua ABAS, Agus Budiyanto, memaknai Smara Bhumi sebagai untaian puitik tentang pertemuan keberbedaan. Baginya, melukis bukan soal merekam apa yang kasatmata, melainkan mengolah apa yang dirasakan. “Seni adalah soal rasa dan kebersamaan. Smara Bhumi bisa dimaknai sebagai menangkap bunyi bukan dengan telinga, tapi dengan rasa,” ujarnya.
Agus Budiyanto sendiri menghadirkan karya monumental berjudul Infinity (110 x 200 cm), terdiri dari tiga panel kanvas yang saling berdialog. Warna, garis, cipratan air, dan sabetan kuas berpadu membentuk lanskap abstrak yang dinamis, seolah mengajak penonton menyelami ruang tanpa batas antara emosi dan kesadaran.
Nuansa kontemplatif terasa kuat dalam karya Dumasi Marisina Magdalena Samosir, yang menjadikan lautan sebagai metafora batin. Baginya, seni adalah doa dan samudra adalah ruang paling jujur untuk menemukan damai.
Lewat karyanya Riding the Unseen Currents (56 x 142 cm), Dumasi mengajak pengunjung menyelami arus tak kasatmata, menghadirkan tafsir surreal yang lembut namun dalam. Lukisan-lukisannya seakan meminta kita berhenti, diam, dan merasakan misteri yang sering terlewat dalam keseharian.
Keunikan lain hadir dari Erika Enda Ginting lewat Owlish Presence (38 x 56 cm), sebuah karya mungil yang mengeksplorasi keseimbangan antara kendali dan kebetulan. Dengan teknik cat air kering dan basah, Erika membiarkan medium “berbicara” melalui aliran waktu dan kejadian tak terduga.
Sementara itu, Regina Busono tampil kontras dengan kecenderungan posterik dan surreal. Dalam Tears of Justice (56 x 38 cm), ia menyematkan protes reflektif: sosok Dewi Keadilan yang retak dan lunglai, hadir sebagai “teriakan diam” tentang kegelisahan zaman disampaikan dengan teknik cat air kering yang tegas namun tetap puitik.
Sebagai pelukis senior, Umi Haksami mantan Ketua Indonesian Water Color Society (IWS) menyuguhkan Light of The Day (110 x 80 cm). Satu karya ini memancarkan kedalaman pengalaman dan kematangan visual. Tanpa banyak narasi, lukisan tersebut seperti percakapan tentang cahaya, hari, dan harapan yang menyongsong 2026.
Simbolisme halus hadir dari Indrawati Halim lewat You Are My Sunshine (56 x 76 cm). Warna kuning yang memudar, garis kelopak bunga yang ilustratif, dan biru solid di pusat mahkota menghadirkan puisi visual tentang kehadiran, kehilangan, dan cahaya yang tersisa.
Tak kalah menarik, Vera Eve Lim—bankir yang bertransformasi menjadi pelukis membawa karya Unstoppable (112 x 76 cm). Dengan pendekatan minimalis dan ritme goresan yang terukur, Vera mengolah emosi, jeda ruang, dan harmoni sebagai refleksi perjalanan personalnya di dunia seni.
Dengan partisipasi 31 perupa dari Agus Budiyanto hingga Lita Husain, Smara Bhumi menjadi potret kebersamaan dalam keberbedaan. Setiap karya berdiri dengan karakter unik, namun saling menopang dalam satu semangat kolektif.
Di awal tahun 2026, pameran ini seolah membuka gerbang optimisme: bahwa seni mampu menjadi ruang perjumpaan yang inklusif, membumi, dan relevan dengan kehidupan. Smara Bhumi mengingatkan kita bahwa keindahan bukan soal keseragaman, melainkan keberanian merayakan kebhinekaan dengan cinta sebagai pijakan, dan bumi sebagai rumah bersama. (dewa; foto habas)