Indonesiasenang-, Jakarta — Pada 26–30 Oktober 2026, para ahli dari Prancis dan Indonesia melaksanakan evaluasi internasional terhadap SELAMAT, laboratorium penelitian bersama yang berfokus pada keanekaragaman hayati laut. Dipimpin oleh Institut Nasional Penelitian untuk Pembangunan Berkelanjutan Prancis (IRD) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), SELAMAT menjadi contoh nyata kemitraan ilmiah jangka panjang yang dikembangkan kedua negara untuk mengatasi tantangan lingkungan bersama, memperkuat kapasitas penelitian, serta mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

SELAMAT (Sentinel Laboratory of the Indonesian Marine Biodiversity) atau Laboratorium Sentinel Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia diluncurkan pada tahun 2021 untuk periode 2021–2026. Program ini dipimpin bersama oleh tim peneliti kelautan BRIN dan unit penelitian gabungan MARBEC dari IRD yang berkedudukan di Montpellier dan Sète, Prancis, dengan dukungan berbagai lembaga mitra dari kedua negara. Laboratorium ini menghimpun jaringan yang terdiri dari sekitar 80 ilmuwan; saat diluncurkan, program ini melibatkan 28 ilmuwan Indonesia dan 23 ilmuwan Prancis, yang didukung oleh enam stasiun kelautan Indonesia di Ambon, Ancol, Bali, Lampung, Manokwari, dan Sorong.

Indra Bayu Vimono dari BRIN menjelaskan kontribusi penelitian Indonesia dalam program SELAMAT untuk memantau keanekaragaman hayati laut

Kontribusi Indonesia Dalam Penelitian
Indra Bayu Vimono selaku salah satu peneliti dari BRIN mengungkapkan, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah sehingga dapat memberikan data  selama penelitian.
"Salah satu kontribusi kami adalah menyediakan data penelitian yang kuat. Artinya, penelitian harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung penyusunan kebijakan pemerintah.
Salah satu hal yang dilakukan melalui proyek SELAMAT adalah menjawab kesenjangan data dan tantangan pemerintah dalam memantau populasi mamalia laut, seperti paus. Lalu juga pemantauan terumbu karang yang tersebar di beberapa daerah seperti Indonesia bagian Timur." ungkap Indra Bayu.

Pihaknya mengembangkan pendekatan baru dengan memanfaatkan teknologi drone dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengidentifikasi satwa laut berukuran besar atau marine megafauna. Kelompok satwa yang menjadi perhatian antara lain mamalia laut, hiu, dan penyu.
"Mengapa hal ini penting? Indonesia menghadapi tantangan terkait persyaratan dolphin-friendly dari FDA Amerika Serikat untuk produk perikanan. Dalam kegiatan penangkapan ikan, terdapat risiko tertangkapnya satwa yang dilindungi secara tidak sengaja atau bycatch, termasuk lumba-lumba." jelasnya lebih lanjut.

Saat ini, SELAMAT berfokus pada spesies dan ekosistem "sentinel" atau penanda. Indonesia memiliki hampir 20% terumbu karang dunia, menjadikannya kawasan kunci bagi konservasi kelautan. Spesies penanda berfungsi menunjukkan perubahan dalam ekosistem serta mencatat dampak tekanan lokal maupun global terhadap lingkungan laut. Melalui pemantauan sekelompok spesies dan habitat yang dipilih secara cermat, pemantauan kesehatan ekosistem laut yang terlalu luas untuk diteliti secara menyeluruh dapat dilakukan secara efektif.

Peneliti Indonesia dan Prancis berkolaborasi dalam program SELAMAT untuk memahami keanekaragaman hayati laut

Laboratorium ini menitikberatkan pada tiga ekosistem penting: terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun, di mana ketiganya saling berkaitan dan memegang peranan vital bagi keanekaragaman hayati laut serta mata pencaharian masyarakat pesisir. Tujuannya adalah mendeskripsikan keanekaragaman hayati laut, memahami cara kerja ekosistem, menganalisis dampak tekanan manusia, serta menyelaraskan kegiatan perikanan dan budidaya laut dengan upaya konservasi.

Sejak tahun 2021, SELAMAT telah membangun jaringan pengamatan keanekaragaman hayati laut pertama yang mencakup seluruh kepulauan Indonesia. Jaringan ini didasarkan pada empat pilar: pengamatan lapangan, biologi molekuler, pelatihan daring, serta interaksi biokultural yang melibatkan masyarakat setempat.

SELAMAT juga aktif dalam kegiatan pelatihan. Tim ilmuwan muda maupun senior dari Prancis dan Indonesia menyelenggarakan pelatihan laboratorium dan lapangan di Papua, Sulawesi Utara, Lampung Selatan, dan Kepulauan Seribu, termasuk pengambilan sampel DNA lingkungan. Topik penelitian dan disertasi doktoralnya mencakup hal-hal seperti genetika spesies laut bernilai komersial serta penelitian dinoflagellata beracun.

Evaluasi internasional yang berlangsung pada akhir Oktober 2026 ini memegang peranan penting dalam merancang fase kedua yang diusulkan untuk periode 2027–2030. Tujuannya adalah memperoleh dukungan kelanjutan bagi SELAMAT, meningkatkan kapasitas penelitian, membina generasi peneliti masa depan, serta memperdalam pemahaman tentang keanekaragaman hayati dan kekayaan sumber daya perairan Indonesia. Fase berikutnya juga bertujuan menjamin keberlanjutan jangka panjang laboratorium ini, memperkuat pengakuan internasionalnya, serta memperluas dampak positifnya di tingkat regional. (kintan)