Indonesiasenang-, Sebuah lagu tak selalu lahir dari imajinasi. Bagi Rocha Gibson, single "Di Balik Tawaku" menjadi ruang untuk menyimpan perjalanan hidup yang selama ini tak banyak diketahui orang. Bagaimana saat terluka, jatuh, lalu mencoba bangkit kembali, hingga orang lain hanya melihat hasil akhirnya.
Lagu bergenre slow rock tersebut menjadi karya paling personal yang menceritakan suka duka, air mata, perjuangan, hingga akhirnya mampu berdiri di titik kehidupannya saat ini.
Diproduseri oleh Ian Chaniago, "Di Balik Tawaku" tercipta dari momen sederhana. Ide lagu muncul begitu saja saat Rocha bangun tidur, lalu ia menuangkannya menjadi lirik yang lahir langsung dari pengalaman hidupnya.
"Di Balik Tawaku adalah cerita perjalanan hidup saya dari dulu sampai berada di posisi sekarang. Saya membuat lagu ini supaya bisa menjadi kenangan dan suatu saat bisa saya wariskan kepada anak-anak saya. Semua kata-katanya berasal dari hati saya sendiri. Dan saya orangnya nggak mudah bercerita kepada orang lain ya. Anggap saja saya bercerita melalui lagu ini," ujar Rocha Gibson.
Proses rekaman berlangsung relatif cepat. Tantangan terbesar justru datang dari jadwal Rocha yang harus bolak-balik Indonesia dan Australia untuk membantu mengelola bisnis keluarga.
Dalam karya perdananya ini, Rocha memilih genre slow rock karena merasa paling sesuai dengan karakter vokalnya yang lembut sekaligus emosional. Ia juga mengaku banyak terinspirasi oleh lagu-lagu milik lady rocker Indonesia, Inka Christie.
"Saya memang orangnya melankolis. Lagu slow rock biasanya banyak bercerita tentang kesedihan dan perjalanan hidup. Saya merasa genre ini paling sesuai dengan karakter suara dan suasana hati saya," jelasnya.
Meski menulis sendiri seluruh lirik lagu, Rocha mengaku masih terus belajar sebagai penulis lagu. Ia pun membuka diri terhadap masukan dari tim musik agar hasil akhirnya semakin kuat tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan.
Hal tersebut dibenarkan oleh produser Ian Chaniago. Menurutnya, kekuatan utama lagu ini justru terletak pada kejujuran cerita yang ditulis Rocha.
"Berawal dari cerita-cerita yang kemudian menjadi lirik lagu, saya berusaha untuk tetap tidak mengubah banyak lirik yang diberikan oleh Rocha. Itu justru menjadi tantangan buat saya. Kenapa slow rock? Karena memang itu request dari Rocha sendiri, karena suka lagu-lagu bergenre ini," kata Ian.
Ian juga mengungkapkan bahwa promosi lagu akan difokuskan kepada penikmat musik slow rock melalui media dan media sosial. Bahkan, single kedua Rocha telah rampung diproduksi.
"Untuk promosi setelah rilis nanti mungkin akan kita boost ke market yang memang suka dengan genre lagu-lagu ini melalui teman-teman media dan sosial media. Ya, ada single kedua, masih dengan genre yang sama dan sudah selesai produksinya. Semoga Rocha terus eksis dengan karya-karyanya di masa mendatang," lanjut Ian.
Tak hanya lagunya yang sarat makna, video klip "Di Balik Tawaku" juga dibuat dengan konsep yang sangat personal. Berlokasi di Villa D'Ros House, Pelabuhan Ratu, Rocha memilih hamparan sawah hijau sebagai latar utama karena mencerminkan ketenangan yang ia sukai.
Bahkan, proses syuting sempat ditunda selama beberapa bulan demi menunggu padi tumbuh hijau sesuai konsep yang diinginkan.
"Saya memang tidak terlalu suka disorot kamera atau difoto. Karena itu saya ingin konsep video klipnya di alam terbuka yang hening dan tenang. Saya bahkan menunggu padi di sawah tumbuh hijau sebelum akhirnya bisa melakukan syuting," ungkap Rocha Gibson.
Di luar dunia musik, Rocha Gibson membantu bisnis keluarga suaminya di Australia yang dapat dikerjakan secara jarak jauh. Ia juga gemar berkebun dan menikmati kehidupan yang tenang.
Baginya, musik bukanlah profesi utama, melainkan hobi yang telah lama dicintai. Melalui "Di Balik Tawaku", Rocha berharap kisah hidup yang ia tuangkan dalam lagu dapat menjadi warisan emosional bagi anak, cucu, dan keluarganya di masa depan. (kintan)