Indonesiasenang-, Setelah 25 tahun sejak Shaolin Soccer, Stephen Chow kembali membawa formula sepak bola dan kung fu ke layar lebar lewat Kung Fu Soccer (2026) yang tayang pada 12 Agustus 2026 di Indonesia. Kali ini, ia mengubah fokus cerita menjadi tim sepak bola perempuan. Pertanyaannya, apakah film ini mampu menghadirkan kembali kegilaan Shaolin Soccer? Jawabannya: belum sepenuhnya, tetapi tetap cukup menghibur.

Sinopsis

Kung Fu Soccer mengikuti tim sepak bola perempuan Emei yang dipimpin Shuangshuang ( Zhang Xiaofei), seorang kapten sekaligus penjaga gawang. Bersama Yulong (Dilraba Dilmurat)sebagai penyerang dan Xu Feng (Lay Zhang) sebagai mentor, mereka mengikuti turnamen Supreme Invincible Cup. Berstatus sebagai tim yang diremehkan, mereka harus menghadapi lawan-lawan tangguh sekaligus berbagai persoalan internal. Kemampuan kung fu yang dimiliki para pemain kemudian menjadi senjata unik untuk memenangkan pertandingan.

Film ini juga menghadirkan Carina Lau dan aktor Jepang Takeru Satoh. Di balik layar, Stephen Chow bertindak sebagai sutradara sekaligus salah satu penulis skenario.

Alur Cerita dan Konflik

Dari sisi cerita, Kung Fu Soccer menggunakan formula klasik film olahraga: sebuah tim yang dipandang sebelah mata harus berjuang dalam kompetisi besar dan membuktikan kemampuan mereka.

Namun, konflik tidak hanya datang dari tim lawan. Persoalan internal justru menjadi salah satu bagian penting. Shuangshuang memiliki karakter keras dan cenderung ingin mengendalikan permainan. Hubungannya dengan Yulong pun tidak selalu berjalan mulus. Ditambah kelakuan Xu Feng yang diperankan Lay Zhang menyebalkan dan bikin kamu terjebak ke dalam plot twist yang bikin kamu menyesal telah berburuk sangka.

Dari sini film menyampaikan pesan mengenai pentingnya kerja sama, kepercayaan, dan kemampuan mengesampingkan ego. Sepak bola tidak bisa dimenangkan hanya dengan mengandalkan satu pemain. Pesan yang disampaikan sejatinya amat menyentuh, Percaya dirimu terkadang meninggikan ego, hingga kamu tak mampu mempercayai kemampuan orang lain. Hal itulah yang justru menghancurkan apa yang sudah kamu bangun.

Sayangnya, konflik tersebut terasa cukup sederhana. Beberapa persoalan diselesaikan terlalu cepat sehingga perkembangan emosional karakter tidak selalu terasa kuat.

Di sisi lain, ketika pertandingan berlangsung, film kembali menemukan kekuatannya. Kung fu dipadukan dengan sepak bola secara absurd. Tendangan, gerakan bela diri, dan kemampuan para pemain dibuat berlebihan sehingga menghasilkan adegan yang terasa seperti pertarungan di lapangan hijau. Ya, kembali lagi, jangan berharap film ini nampak realistis sesuai fakta. Kung Fu Soccer bukan dibuat untuk itu, karena film ini dibuat layaknya imaginasi fiksi yang tak masuk akal. Dan tentunya yang menjadi ciri khas film Stephen Chow: tingkah laku konyol!

Inilah formula yang mengingatkan penonton pada Shaolin Soccer, meskipun dampak komedinya tidak selalu sekuat film Stephen Chow sebelumnya.

Sinematografi tak sempurna, tapi tetap menghibur mengundang gelak tawa

Sinematografi Kung Fu Soccer cukup efektif dalam mengubah pertandingan sepak bola menjadi tontonan aksi. Kamera mengikuti pergerakan pemain dan bola dengan ritme cepat, sementara koreografi bela diri memberikan energi tersendiri pada pertandingan.

Namun, kualitas efek visual menjadi salah satu kelemahannya. Beberapa adegan terlihat terlalu bergantung pada efek digital sehingga mengurangi kesan fisik dari aksi yang ditampilkan. Meski demikian, secara keseluruhan visualnya tetap mampu mendukung konsep film yang memang mengutamakan aksi berlebihan dan komedi.

Kesimpulannya, Kung Fu Soccer (2026) bukan Shaolin Soccer kedua. Film ini membawa formula lama ke cerita baru dengan tim sepak bola perempuan, tetapi belum mampu mencapai tingkat kegilaan dan kekuatan komedi pendahulunya.

Cerita yang sederhana, konflik yang kurang dalam, serta beberapa efek visual yang belum maksimal menjadi catatan. Namun, film ini tetap punya satu kelebihan utama: menghibur.

Bagi penggemar Stephen Chow, film ini menawarkan nostalgia melalui perpaduan kung fu, sepak bola dan komedi absurd. Sementara bagi penonton baru, Kung Fu Soccer bisa menjadi pilihan tontonan ringan yang tidak terlalu serius.

Rating: 6,5/10.

(kintan; foto fss)