Indonesiasenang-, Jakarta, 2026 – Ada film yang tidak berusaha menghibur penontonnya dengan ledakan emosi atau cerita heroik besar, melainkan mengajak untuk duduk diam dan merasakan. I Was a Stranger (2026) adalah salah satunya. Film drama kemanusiaan ini membawa penonton menyusuri satu malam penuh ketegangan, ketika nasib orang-orang asing saling bersinggungan di tengah konflik, pelarian, dan pilihan hidup yang tak mudah.

Disutradarai oleh Brandt Andersen, I Was a Stranger tidak menawarkan kisah pahlawan yang gagah berani. Film berdurasi 1 jam 37 menit ini justru fokus pada manusia-manusia biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa—tanpa janji keselamatan, tanpa kepastian akhir yang bahagia.

Yasmine Al Massri berperan sebagai Amira Homsi, dokter Suriah yang berusaha menyelamatkan diri dan anaknya dalam film I Was a Stranger.

Alur Cerita: Satu Malam, Banyak Nasib
Cerita berpusat pada Amira Homsi, seorang dokter asal Suriah yang hidupnya porak-poranda akibat perang. Bersama putrinya, Rasha, Amira mencoba melarikan diri dari tanah kelahirannya dengan satu tujuan paling mendasar: bertahan hidup.

Dalam perjalanan itu, penonton diperkenalkan pada berbagai karakter lain. Ada Marwan, penyelundup manusia yang juga seorang ayah dengan beban moralnya sendiri. Ada Mustafa, tentara yang terjebak antara perintah dan hati nurani. Ada Stavros, kapten penjaga pantai Yunani yang harus memilih antara aturan negara dan kemanusiaan. Juga Fathi, seorang penyair yang kehilangan rumah, masa depan, dan identitasnya.

Narasi berpindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain tanpa penjelasan panjang, tapi justru di situlah kekuatannya. Potongan-potongan hidup itu terasa seperti fragmen nyata dari krisis kemanusiaan global—singkat, pahit, dan tak selalu diberi penutup yang rapi.

Omar Sy sebagai Marwan, penyelundup manusia dengan konflik moral dalam film I Was a Stranger (2026).

Pemain dan Karakter: Emosi yang Membumi
Yasmine Al Massri tampil kuat sebagai Amira Homsi. Ia tidak bermain dengan emosi berlebihan, namun justru di situlah kekuatannya. Rasa takut, lelah, dan harapan kecil terlihat jelas lewat gestur dan tatapannya.

Omar Sy sebagai Marwan memberikan dimensi abu-abu yang menarik. Karakternya tidak digambarkan hitam-putih—ia bukan sekadar penyelundup, melainkan orang tua yang rela mempertaruhkan segalanya demi anaknya.

Karakter pendukung seperti Mustafa, Stavros, dan Fathi memang tidak mendapat porsi cerita sedalam Amira, namun cukup untuk menanamkan konflik batin yang terasa manusiawi. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya benar, dan tidak ada pula yang benar-benar jahat.

Sinematografi gelap dan minim cahaya memperkuat suasana tegang dalam film I Was a Stranger.

Suasana dan Sinematografi: Gelap, Dingin, dan Menekan
Secara visual, I Was a Stranger dibangun dengan atmosfer gelap dan menekan. Banyak adegan malam hari dengan pencahayaan minim, kamera yang kerap berada dekat dengan wajah karakter, serta ruang sempit yang memperkuat rasa sesak.

Laut yang gelap, suara mesin perahu, dan keheningan panjang menjadi elemen konstan yang menciptakan ketegangan pelan namun terus-menerus. Film ini jarang memberi ruang bernapas lega—dan itu terasa sebagai pilihan artistik yang sadar.

Kedalaman Cerita: Tentang Pilihan dan Kemanusiaan
Film ini tidak berteriak soal pesan moral. Ia menyampaikannya perlahan, lewat situasi. Tentang apa arti menolong orang asing. Tentang bagaimana hukum dan aturan sering kali bertabrakan dengan rasa kemanusiaan. Tentang bagaimana perang bukan hanya menghancurkan kota, tetapi juga identitas dan masa depan.

Menariknya, I Was a Stranger tidak menawarkan jawaban. Film ini hanya menunjukkan realitas, lalu membiarkan penonton menilai sendiri.

Kekurangan Film
Penggunaan banyak sudut pandang membuat beberapa karakter terasa hanya hadir sekilas. Ada momen ketika emosi belum sepenuhnya terbentuk, namun cerita sudah berpindah ke karakter lain.

Selain itu, tempo film yang cenderung berat dan muram dari awal hingga akhir mungkin tidak cocok untuk semua penonton, terutama mereka yang mengharapkan dinamika emosi yang lebih variatif.

Kesimpulan, I Was a Stranger bukan film yang mudah ditonton, namun justru di situlah kekuatannya. Ia jujur, sunyi, dan dekat dengan realitas krisis kemanusiaan global. Film ini tidak sempurna, tetapi membekas.

Dan terkadang, kejujuran seperti itulah yang paling tinggal di kepala setelah lampu bioskop kembali menyala. (kintan; rlsagl)