Indonesiasenang-, Perjuangan hak sipil di Amerika Serikat pada era 1960-an tidak hanya diwarnai demonstrasi, tetapi juga diskriminasi, ancaman, hingga pembunuhan. Situasi tersebut menjadi latar By Any Means (2026), film garapan Elegance Bratton yang membawa penonton ke Mississippi pada 1966.
Menggabungkan drama sejarah, kriminal, dan thriller, film ini terinspirasi dari kisah nyata dengan isu rasial sebagai bagian penting ceritanya. By Any Means tidak hanya berfokus pada pengungkapan kejahatan, tetapi juga mempertanyakan batas antara keadilan dan kekerasan.
Cerita mengikuti Wayne Strider, agen FBI muda berkulit hitam yang diperankan Yahya Abdul-Mateen II. Ia ditugaskan menyelidiki serangkaian pembunuhan terhadap tokoh-tokoh gerakan hak sipil di Mississippi.
Salah satu kasus penting berkaitan dengan Vernon Dahmer, yang diperankan Giancarlo Esposito. Penyelidikan Strider kemudian mengarah pada kelompok supremasi kulit putih dan jaringan Ku Klux Klan.

Dalam menjalankan tugasnya, Strider harus berhadapan dengan Gregory Scarpa, karakter yang diperankan Mark Wahlberg. Berbeda dengan Strider yang bekerja berdasarkan hukum dan prosedur, Scarpa berasal dari dunia kriminal dan terbiasa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
Penokohan dan Konflik
Kontras kedua karakter menjadi kekuatan penokohan film. Strider merepresentasikan jalur hukum, sedangkan Scarpa mengambil jalan yang jauh lebih ekstrem. Perbedaan tersebut menciptakan dinamika menarik sekaligus menjadi sumber konflik utama.
Konflik semakin kuat ketika metode Scarpa berbenturan dengan prinsip Strider. Keduanya memiliki tujuan yang sama, tetapi menggunakan cara berbeda. Dari sini muncul pertanyaan moral: apakah keadilan tetap menjadi keadilan ketika dicapai melalui kekerasan?

Pengambilan Gambar dan Visual
Dari sisi pengambilan gambar, sinematografer Ante Cheng menghadirkan atmosfer Mississippi era 1960-an yang mendukung nuansa sejarah dan thriller. Latar periode tersebut turut memperkuat ketegangan sosial dalam cerita.
Visual film tidak sekadar menjadi latar, tetapi membantu membawa penonton masuk ke masa ketika persoalan rasial menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan penegakan hukum.
Memasuki klimaks, benturan antara hukum, rasisme, dan kekerasan semakin tajam. Hubungan Strider dan Scarpa mencapai titik menentukan, sekaligus memperlihatkan konsekuensi dari pilihan mereka.
Pada bagian ini, film semakin menegaskan gagasan utamanya bahwa ketika jalur hukum dianggap tidak mampu memberikan keadilan, kekerasan dapat muncul sebagai jalan alternatif yang penuh risiko.

Kekurangan Film By Any Means 2026
Meski memiliki premis kuat, By Any Means bukan film yang bergerak dengan tempo cepat. Alur ceritanya terasa cukup lambat, terutama bagi penonton yang terbiasa dengan film aksi dengan konflik intens sejak awal.
Selain itu, karakter Wayne Strider terasa cukup lembek pada bagian awal. Sebagai agen FBI, ia belum langsung memberikan kesan tegas dan penuh kendali seperti ekspektasi terhadap sosok agen FBI pada umumnya. Sikapnya yang cenderung ragu membuat karakter tersebut membutuhkan waktu untuk berkembang.
Secara keseluruhan, By Any Means 2026 menawarkan thriller sejarah dengan isu yang kuat. Duet Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg menjadi daya tarik utama melalui dua karakter dengan pendekatan berbeda terhadap keadilan.
Meski ritmenya cenderung lambat dan karakter agen FBI terasa kurang meyakinkan di awal, film ini tetap menarik melalui isu rasisme, hak sipil, FBI, Ku Klux Klan, mafia, dan kekerasan. Pada akhirnya, By Any Means mengajak penonton melihat betapa tipisnya batas antara keadilan dan balas dendam, Rating 6/10. (kintan; foto bam)